Senin, 24/09/2018 05:11 WIB

Sembilu Gunung Es Depresi (2)

Tak banyak perempuan yang berani bilang bahwa ia mengalami depresi, grup Mother Hope Indonesia ada untuk menerima.

Depresi yang dialami perempuan paska-melahirkan masih serupa gunung es (Foto: Ilustrasi)

Ketika Mereka Memilih Diam

Banyak ibu di Indonesia mengalami depresi paska-melahirkan, namun tak banyak kasus ibu dengan depresi menyeruak ke permukaan, layaknya gunung es.

Kenapa ada gunung es? “Iya saya sepakat, sebab beberapa kali ada klien yang menutupi persoalan post partum dari suaminya sendiri. Pernah ada member yang cerita sama saya sebelum datang menemui saya ia melempar bayinya tanpa ia sadari, ada pula kasus yang awalnya tak terlihat dari awal dengan pernikahan yang baik-aik saja tapi ternyata sang istri bunuh diri,” ungkapnya.

Mereka punya alasan, selain karena stigmatif kalau cerita akan dianggap gila dan kejam, mereka juga menemui masalah saat mau datang ke Psikolog. Ternyata mereka mundur karena ada judgment dari ahli, merasa tidak empati pada kondisi yang mereka rasakan.

Tak urung mereka langsung drop ketika dianggap tidak kompeten dan dibilang tidak siap menjadi ibu. Dari yang awalnya ingin pulih akhirnya
mengubah mereka dengan cara lain. Tak sedikit pula yang semakin menutup diri.

Baby blues, menurut Lia termasuk dalam kondisi normal yang banyak dialami oleh perempuan baik saat hamil maupun paska-melahirkan. Berbeda dengan PPD, terbagi menjadi tiga yakni ringan, sedang, dan berat.

“Perlu diketahui, kita tidak bisa diagnosa berdasarkan gejala harus bawa ke ahlinya, ada prosedur untuk mendiagnosa ibu yang berpotensi miliki depresi,” ucap perempuan asal Jawa Tengah ini.

Biasanya, depresi terjadi karena sudah  ada sesuatu yang ditahan bertahun-tahun tidak tahu harus melakukan apa, sudah gelap, satu-satunya cara dengan mengakhiri hidupnya. Pengidap depresi sudah merasa lelah dan tidak tahu lagi harus bagaimana.

“Berbeda ranah dengan post partum psikosis, kasus ibu yang membunuh bayinya. Itu butuh penanganan psikiater. Psikosis bukan turunan dari post partum depression, tidak ada gejala sepeti mendengar bisikan atau halusinasi seperti yang dialami pengidap post partum,” terang Lia.

Baby blues adalah wajar dan normal terjadi pada 80 persen ibu hamil dan melahirkan. Banyak orang tidak mau mengakui kalau sedih, kesannya depresi itu suram menakutkan. Padahal tidak selalu seperti itu, beda dengan kasus membunuh bayi itu sudah masuk post partum psikosis. Karena minim dan salahnya informasi, mereka memilih diam daripada dihakimi.

“Kenapa mereka memilih diam? Pertama belum muncul banyak karena informasi cuma sedikit, sampai sekarang juga sedikit. Kedua, informasi salah baby blues dapat membunuh bayi   dan membuat orang jadi takut berkonsultasi ke ahli, takut menyampaikan kondisi dirinya. Takut dianggap tidak beriman,” jelas Lia.

Selain itu ada tiga faktor risiko depresi yakni psikologis, fisik, dan sosial. Kebanyakan selama ini yang ditemui adalah faktor psikologis. Minimnya informasi perihal pemahaman sejak awal jika depresi bukanlah sakit jiwa  masih jadi pekerjaan rumah bersama. Tidak mudah mengatakannya jika stigma sudah kadung mengakar, jika tabu sudah menutup jalan.

Faktor risiko secara psikologis ada banyak, misalnya punya sejarah depresi sebelumnya, saat masa sekolah punya depresi, pengalaman traumatis melahirkan, atau memang punya trauma masa lalu waktu kecil.

Selain itu, orang yang pernah kena pelecehan seksual akan bisa berisiko juga. Sementara itu, tentang dukungan keluarga, suami, faktor risiko faktor sejarah keluarga, ibu dengan bayi apakah pernah keguguran, itu ada potensi juga.

Lebih dari Sekadar Edukasi

Menyoal cara apa yang perlu dilakukan agar persoalan baby blues dan PPD  tak lagi serupa gunung es, Lia mengatakan jika masalah kesehatan psikis ialah masalah yang tidak terlihat secara kasat mata. Perlu screening atau penyaringan  dengan beberapa  tools  untuk bisa menganalisa kecenderungan mereka yang berisiko terkena.

Lia mengatakan perlu sebuah tools yang bisa dijalankan secara lintas sektoral kususnya yang menangani masalah kesehatan. Lia pun mencontohkan beberapa Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) yang mulai mencoba menerapkan tools itu, yaitu di Yogyakarta.

Mereka mulai dari screening melalui catatan rekam medis yang ada dalam buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Hal itu, lanjut Lia akan sangat efektif jika yang memegang tools juga sudah mendapatkan training yang mumpuni, tak sekadar memberi informasi.

Belum lagi jika bicara satu persatu penyebab kasus baby blues dan (PPD, apa saja yang perlu dibenahi. Beberapa ahli sudah mulai melakukan studi, apakah pola gizi, olahraga, dan pola asuh bisa berpengaruh secara signifikan bagi pencegahan atau pemulihan. Jadi memang yang perlu dilakukan adalah secara keseluruhan, semua aspek harus dibenahi.

Menanggapi perihal depresi yang dialami perempuan pasca-melahirkan, Direktur Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan Dr. Fidiansjah mengatakan masalah depresi pasca-melahirkan adalah bagian dari proses kehamilan dan persalinan sehingga perhatian pemerintah sangat concern melalui program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA).

“Sampai saat ini kegiatan yang berhubungan dengan itu berada di Direktorat Kesehatan Keluarga. Programnya ditujukan untuk meningkatkan tiga indiktor yang kualitas kesehatan ibu hamil, melahirkan dan menyusui sehingga dapat menurunkan angka kematian ibu dan anak,” ujar Fidiansjah.

Pelayanan KIA dengan konsep 10 T dan pelayanan antenatal terpadu dimana didalamnya ada temu wicara atau konseling, hal ini akan mempermudah menangkap permasalahan kesehatan jiwa pada ibu hamil dan menyusui.

Pelayanan antenatal terpadu adalah program yang mengintegrasikan berbagai program pelayanan kesehatan kepada ibu hamil dan melahirkan yaitu program Gizi, TBC, HIV-AIDS, Immunisasi, Malaria, Kesehatan Jiwa dan penyakit tidak menular sehingga semua permasalahan kesehatan baik perseorangan maupun kesehatan masyatakat yang dihadapi ibu bumil, ibu melahirkan, dan ibu
menyusui dapat diatasi termasuk masalah baby blues dan pos partum depression.

“Di sisi lain Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza juga mengembangkan pelayanan penguatan mental bagi ibu hamil yang disebut MITO kepanjangan dari Menjadi Ibu yang Tangguh dan Optimis dan hingga seKarang telah melatih TOT bidan dan psikolog klinis di daerah untuk melakukan kegiatan MITO di daerah,” paparnya.

Bagi Fidiansjah semua masalah kesehatan jiwa adalah penting, namun yang menjadi perhatian adalah besaran masalah, dampak besar yang ditimbulkannya dan tingginya pevalensi penyakit itu sendiri di masyarakat serta adanya indikator kesehatan yang mendukungnya.

Sehubungan dengan akselerasi untuk menurunkan angka kematian ibu melahirkan dan angka kesakitan anak balita serta meningkatkan kualitas hidup anak balita melalui program Expanding Maternal and Neonatal Survival (EMAS) maka tentunya ini akan menjadi perhatian utama.

Fidiansjah meyakini baby blues dan pos partum depression tentunya akan berpengaruh terhadap tiga indikator ibu dan anak tersebut disamping dapat meningkatkan kualitas tumbuh kembang anak balita semua indikator tersebut merupakan indikator utama yg berada di Direktorat Kesehatan Keluarga (Ditkesga) sehingga peran dan kepentinganya akan lebih besar di Ditkesga.

Fidiansjah menegaskan tiga hal untuk mencegahnya: Pertama memberi layanan antenatal careminimal empat kali selama hamil, Kedua membuat kelas ibu hamil dan MITO, dan Ketiga tersedianya layanan deteksi dini masalah keswa dan konseling bagi bumil dan pasca-melahirkan yang dilaksanakan bidan di poskes, polindes, dan PKM.

Ia juga mendukung inisiatif untuk memasukkan screening atau penyaringan dini untuk ibu hamil dalam buku pelayanan KIA, seperti yang telah dilakukan oleh fasilitas kesehatan di Yogyakarta. “Kami sangat setuju karena indikator keberhasilan pelayanan KIA termasuk kesehatan psikologis ibu tertuang dalam buku tersebut,” ujarnya.

Lalu apakah bisa masalah baby blues dan PPD menjadi isu bersama, paling tidak menjadi program nasional yang ditangani secara serius?, Anggota DPR RI Komisi XI Dede Yusuf mengaku baru mendengar ada gangguan kesehatan psikologis yang menyerang ibu usai melahirkan. Sebab, selama ini setiap isu yang dibicarakan sampai akhirnya menjadi kebijakan publik melalui beberapa jalan.

“Bicara soal kesehatan manusia, kompleks seklai tak hanya fisik, pskis pun juga jadi bagian, termasuk dengan penyakit langka. Tapi kan tidak setiap hal bisa diceritakan di rapat komisi. Soal kebijakan kita bicara pada masyarakat yang lebih luas dan menjadi keresahan publik sebelumnya jadi masif diusahakan penanganannya, seperti vaksin misalnya yang melibatkan banyak pihak,” terang Dede.

“Jadi selama belum menjadi gerakan masif ya masih jadi wewenang pemerintah. Sejauh ini saya belum mendengar kasus BBS atau PPD masuk ke meja komisi,” lanjutnya.

Ia menyarankan agar jika suah ada gerakan atau organisasi yang fokus menangani hal itu maka silakan ajukan, kumpulkan data-datanya, berapa jumlah perempuan yang mengalami, kami bisa siap-siap. Setelah itu keputusan baru bisa diambil apakah perlu kebijakan khusus yang bisa dibagikan ke publik atau cukup wewenang pemerintah yang menangani. (*)

Sekilas Mother Hope Indonesia

Mother Hope Indonesia merupakan organisasi non profit yang dibentuk untuk memberikan dukungan sosial kepada para ibu dan keluarga yang mengalami masalah dengan kesehatan jiwanya pada masa hamil, bersalin, nifas dan menyusui seperti baby blues syndrome, depresi saat hamil dan paska-melahirkan, psikosis pasca melahirkan dan sebagainya.

Komunitas MotherHope Indonesia yang tadinya bernama Peduli Kesehatan Jiwa Ibu Perinatal Indoneisa ini, didirikan pada tanggal 1 Februari 2015 oleh Nur Yana Yirah. Yana adalah ibu yang pernah mengalami depresi paska melahirkan (postpartum depression) dengan semangatnya ingin membantu ibu lain yang menderita karena depresi pasca melahirkan dan sebagainya.

Kini, MHI bergabung dengan 3 komunitas kesehatan jiwa lainnya yaitu KPSI (Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia), BCI (Bipolar Crea Indonesia) dan Into The Light atas bimbingan dari KEMENKES bagian Kesehatan Jiwa RI, dan membentuk AKJI (Aliansi Kesehatan Jiwa). Sebuah pencapaian bagi MHI pada bulan Juli 2018 lalu mendapatkan Sertifikat Presented by Pospartum Support International 2018 di Houston, Texas.

TAGS : Depresi Baby Blues




TERPOPULER :