Sabtu, 22/09/2018 19:42 WIB

Feature

Jalan Sunyi Menjinakkan Depresi (3)

Kisah seorang wanita penyintas Post Partum Depresion (PPD)

Ilustrasi depresi (Foto: Shutterstock)

Kisah seorang wanita penyintas Post Partum Depresion (PPD)

Aku Firman, suami Yana. Semua kesuraman yang menimpa keluarga kecilku diawali dari meninggalnya anak pertama kami, Fauzan. Dari situ butuh waktu lama untuk mendapatkan Fauzan. Namun, apa mau dikata jika Allah berkehendak lain, Fauzan malah mendahului kami orang tuanya.

Siapa yang tidak terguncang? Kami tentu saja. Terlebih istri yang mengandung dan merasakan prosesnya, sangat wajar jika terguncang.

Kondisi saat itu sungguh berat, terlebih kami sudah kadung bahagia dengan membeli baju dan pelengkapan dalam rangka menyambutnya. Saya sebagai suami berusaha untuk tetap tegar meski rasanya juga tidak karuan. Tapi kalau aku ikut terpuruk, bagaimana nasib Yana?

Di titik itu, aku menyaksikan istri dengan kondisi labil dan suka menghayal. Aku sudah mencoba banyak cara untuk menenangkannya, berupaya untuk kerap hadir di sisinya. Sampai kemudian istri hamil lagi sementara ia masih dalam kondisi depresi.

Aku sama sekali tidak paham yang dirasakan istri, sedih rasanya jika pulang kerja mendapati istri yang diam saja, tiba-tiba nangis tanpa sebab. Waktu itu aku sama sekali tak bepikir ada gangguan yang serius dalam diri Yana.

Aku merasa ada yang belum mengena dengan pendekatan agama, meski telah menjalani rukiyah dan membaca doa. Itu sudah kita jalani sebagai bagian dari keyakinan. Tapi kan kita harus mencoba cara lain. Islam juga tidak melarang mencari pengobatan ke dokter. Siapa yang tak ingin mempunyai keluarga bahagia, satu anggota keluarga sakit, semua ikut sakit.

Ketika Yana mengalami kesulitan menyusui putri kami, di situlah titik dimana istri dinyatakan harus melakukan pemeriksaan ke dokter laktasi yang berujung ia malah menanyakan lebih lanjut psikologis Yana.  Meski di awal menolak, kelamaan dari saran dokter istri saya menggali, bagaimana bisa meredakan depresi itu.

Aku terus berdoa seraya mencari informasi lebih banyak di internet. Rasanya mau bergaul dengan orang lain masih berat. Beruntung menemukan Pak Supri di Facebook yang secara kebetulan menangani masalah serupa. Waktu itu kondisi istri masih belum sembuh akhirnya Pak supri yang datang ke rumah dan coba bantu menampingi Yana.  

Poin yang dikatakan Pak Supri untuk depresi yang dialami Yana jika kita ingin menyembuhkan diri sendiri maka diawali harus bisa berdamai. Kondisi apapun jangan ditolak dan harus bisa menerima agar terapi bisa berjalan dengan mudah melalui konseling dan sharing, agar perlahan bisa bangkit dari keterpurukan.

Meski istri waktu itu belum bisa seperti ibu-ibu pada umumnya. Saya tetap bersyukur, setelah ikut perkumpulan yag digagas Pak Supri, ibu dari anak-anakku kini telah mengalami peningkatan kesehatan jiwa, malah lebih bagus tinimbang sebelumnya.

Kebanggaanku kian membuncah saat mendengar istri ingin punya organisasi yang fokus untuk masalah yang ia hadapi. Sungguh mimpi itu sangat mulia, ia tidak ingin perempuan lain merasakan hal yang sama.

Yana pun membentuk komunitas Peduli Kesehatan Jiwa Ibu Perinatal Indonesia  hingga berganti nama jadi Mother Hope Indonesia (MHI) yang mengajak dan mengedukasi ibu-ibu perihal baby blues dan depresi.

Yana pun berkenalan dengan psikolog dan psikiater yang concern masalah tersebut. Sungguh saya teramat bersyukur tetap bisa mendampingi di masa-masa sulitnya. Kini setelah lahir adiknya Hana ia bertambah kuat lagi.

Tak Ada Alasan Bagiku Meninggalkannya
 
Bagiku, peran atau support pendamping suami itu sangat penting bagi istri yang sedang mengalami baby blues dan depresi, energi positif dari suami jadi faktor pendorong terkuat para istri untuk bangkit. Ketika istri menangis butuh perhatian khusus, ketika lagi down kita tanya, kita tetap support.

Dulu tiba-tiba malam menangis saya berusaha yakinkan diri bahwa yang sakit jiwanya bukan fisik, dan ia harus cerita, saya mendengarkan seraya memeluknya. Peran suami penting dalam kondisi istri yang lagi down. Tak ada alasan bagiku untuk meninggalkannya.

Jika suami abai sedikit saja, istri bisa menjauh, atau melakukan hal yang buruk, bahkan melukai diri sendiri seperti yang pernah Yana alami. Orang depresi tidak boleh sendirian, butuh dirangkul. Sekarang ada supporting group di media sosial, bisa bersosialiasi, lebih bagus ikut perkumpulan, karena bisa saling mendengarkan dan mendukung satu sama lain. Perkumpulan membantu memberikan langkah pemulihan juga penyembuhan.

Kadang kalau ada masalah di diri saya sendiri, di dalam pekerjaan, kalau saya semakin keras kepada istri maka akan lebih buruk. Misalnya berlaku kasar, bisa lebih parah. Tapi jika kita dengarkan, kita peluk, kita dengarkan. Dan hasilnya lebih baik, beda ketika saya bersikap reaktif, marah-marah. Memang kita harus bisa merangkul. Suka-duka dirasakan bersama, istri sakit suami support kita harus saling menerima. Komitmen, sabar mencari solusi dan terus berdoa, itu yang perlu diedukasi.

Harapan bagi para pendamping yang memiliki masalah yang sama perlu dipahami jika tidak semua orang tahu soal baby blues atau depresi secara detail, terpenting kita mau jujur kalau mengalami depresi dan keluarga juga merangkul bukan menjauh. Karena baik baby blues atau depresi bisa dipulihkan.

Depresi Bisa Pulih

Ya, yang dirasakan Firman memang wajar, lantaran tak semua orang tahu jika baby blues dan depresi usai melahirkan untuk itu diharapkan semua pihak bisa miliki awarness. Psikolog Elizabeth T Santosa meyakini jika baby blues dan depresi. bukanlah masalah baru, sejak lama mulai dari seleb Hollywood Broke Shield yang mulai memperkenalkan, makin ke sini makin banyak perempuan yang terkena.

Perlu diketahui jika baby blues bisa menyerang siapa saja. khususnya ketika perempuan dalam kondisi tidak siap, secara fisik belum bisa menerima, jadi ada anggapan tidak menyiapkan secara mental saat hamil.

“Ketika secara psikis dia belum adaptasi dngan kemampuan baru, sehingga dia merasa belum siap. belum lagi kondisi lingkungan, tidak ada suami, orang tua jauh, perubahan karier biasa sibuk lalu harus mengurus anak. Atau ikut suami yang dinas jadi saat melahirkan tidak ada teman atau saudara juga bisa memicu,” ucap Lizzy (sapaan Elizabeth).

Tidak hanya anak pertama tetapi juga anak kedua dan selanjutnya. suami yang kurang supportif sibuk kerja sehingga jadi kurang perhatian ke istri padahal dukungan suami sangat penting bagi istri.

Lizzy menjelaskan jika baby blues syndrom lebih ke bahasa umum atau lebih dikenal masyarakat luas, jatuhnya lebih ke simpton atau ada fasenya ada periodenya sementara PPD sudah masuk klinis yang memerlukan pendampingan lebih lanjut karena secara fisik pun sebenarnya sudah bisa terlihat. “Dalam fase ini harus ada psikolog atau psikiater yang mendiagnosis dan mendampingi,” ujarnya.

Lizzi mengungkapkan jika tidak semua ibu yang melahirkan mengalami masalah ini, kita tidak bisa mendeteksi secara langsung, meski mungkin kasusnya sudah marak, susah untuk membuat awarness mayoritas masyarakat, beda ya sama vaksin yang semua anak butuh.

“Sementara masalah ini kan random, jadi sulit untuk didentifikasi apakah ia memiliki depresi atau tidak karena masalah ini  tidak memandang status sosial atau latar belakang,” jelasnya.

Lizzy meyakini jika depresi bisa pulih kembali kalau kondisi psikisnya sudah ditangani dengan baik. Fokus sama anak, menyayangi anak, enjoy menjalani peran sebagai ibu. Bisa jadi trigger bagi perempuan lain, termasuk stimulus juga memberikan pengaruh, misal kondisi rumah tangga yang harmonis bisa memengaruhi perempuan terkena depresi. (Tamat)

TAGS : Feature Depresi




TERPOPULER :