Senin, 19/11/2018 17:08 WIB

Feature

Jalan Sunyi Menjinakkan Depresi (2)

Kisah seorang wanita penyintas Post Partum Depresion (PPD)

Ilustrasi depresi (Foto: Shutterstock)

Kisah seorang wanita penyintas Post Partum Depresion (PPD)

 

Di tengah proses terapi yang Nur Yanayirah, nama perempuan ini jalani, mereka pun memutuskan untuk pindah rumah setelah Hana keluar dari umah sakit. Dari sana dirinya mampu melakukan proses relaktasi dengan tenang, saat itu Yana mulai mengurangi pemberian susu formula dan menjalankan MPASI.

Waktu ke psikolog gabung bersama support group bertemu dengan orang depresi, bipolar, awalnya tidak peduli karena tidak paham. “Setelah pulih dari depresi sekarang lebih terkontrol, tidak mudah marah dan tersinggung,” kenang Yana.

Usai dinyatakan pulih dari depresi paska-melahirkan, Yana ingin para ibu yang mengalami hal yang serupa tidak merasa sendirian, tidak menganggap diri sebagai ibu yang jahat, buruk, kurang beriman atau hal-hal mistis seperti kemasukan Jin.

“Saya ingin mereka segera mencari bantuan psikolog atau psikiater jika mengalami gejala-gejala dari depresi pasca melahirkan ataupun gangguan mood lainnya pada saat hamil, bersalin, nifas hingga menyusui,” lanjut alumnus Poltekkes Jakarta Depkes RI ini.

Depresi seperti bola salju yang kalau didiamkan akan terus membesar, sementara baby blues itu bisa hilang sendiri. Efek dari ibu depresi menurut Yana, Ibunya jadi sedih kalau depresi mau bunuh diri, berpengaruh pada janinnya, ibu hamil lebih besar kemungkinan mengalami prematur.

Buat ibunya lebih mudah sakit. Tidak memperhatikan kesehatan sendiri, malas makan, malas keluar rumah. Lebih gampang sakit.  Mudah marah, tersinggung, mengisolasi diri dari lingkungan. Cemas, menyalahkan diri sendiri karena tidak bisa menyusui bayi.

Dampak depresi lainnya adalah kesulitan menyusui, dia akan lebih mudah menyerah ketika menyusui. “Bayiku belum 6 bulan sudah berhenti menyusui di-mix dengan susu formula,” ungkap Yana.

Efeknya tidak hanya ke ibu juga tapi ke pertumbuhan bayi dalam perut. Akan berpengaruh kalau ibu depresi. “Anak pertama saya yang perempuan cenderung mengalami speech delay dan ada beberapa keterlambatan perkembangan,” ucapnya lirih.

Begitulah, kalau ada yang bilang depresi bukan perkara serius, nyatanya, lanjut Yana, hubungan ia dengan anaknya mengalami masalah khusus. Setelah melahirkan dengan kondisi depresi ada keterlambatan bounding, ibu tak terlalu sayang dengan bayinya.

“Sebenarnya wajar ada keterlambatan bounding, tapi depresi itu lama berbulan-bulan bahkan lebih dari setahun. Ibu tidak bisa merasakan menyusui, ketika mengalamai depresi tidak bisa merasakan bounding,” terangnya.

Rasanya, lanjut Yana, penuh dengan ketakutan dan kecemasan, takut menyakiti bayi. Ia tidak bisa mengingat dengan pasti kapan anak berjalan, merangkak, ada memori yang hilang. Peran pendamping sangat penting, bisa menggantikan peran ibu sementara. Suami atau keluarga bisa menggantikan peran ibu. Bayi tidak kehilangan sosok seorang ibu.
 
“Aku dulu sempat dibilang kemasukan jin sampai sempat di-rukiyah, namun bukan menyembuhkan malah parah depresinya, traumatis. Pengalaman traumatis masa lalu yang jadi gangguan, gangguan kecemasan, dan night mare. Bisa trauma lagi kalau ada yang mengingatkan. Depresi tidak berdiri sendiri, bisa dengan bipolar, trauma atau skizofrenia. Kadang televisi megngambarkan terlalu dramatis, ada bagian yang tidak disensor. Ada ibu yang mengalami kecemasan harus menghindari televisi ditambah media sosial yang berisi konten negatif,” tuturnya.

Saat depresi menyerangnya, ia pilih menghindari orang, karena anak suka dikomentari badan kecil, kurus. “Aku menghindari penghakiman orang. Membandingkan kenapa ibunya tidak bekerja, berbeda-beda. Di lingkungan sini, ibu pekerja yang dihakimi karena mayoritas ibu di rumah. Ibu bekerja dan ibu rumah tangga initnya pada bahagia yang dirasakan,” ungkapnya.
 
Dulu perempuan kelahiran Januari 1987 ini waktu depresi lebih sensitif pada kritikan. Langsung sedih, kepikiran, berhari-hari berminggu-minggu merasa tidak berguna, tidak berdaya. Merasakan mengapa Tuhan memberikan depresi, merasa hidup lebih berat, merasa membebani orang, suami, orang tua. “Daripada membebani orang lain lebih baik mati saja,” ucapnya seraya tertunduk.  

Yana merasa informasi mengenai baby blues dan depresi di masyarakat awam masih minim, baby blues itu kondisi normal, bukan penyakit, rasanya kaget, jetlag, setelah hamil besar ada hormon ang menyakitkan. Bisa dipicu dari karena begadang, menyusui, bingung, ada ketakutan peran sebagai ibu, ditambah kelelahan fisik dan mental.

Biasanya fase baby blues kurang lebih dari 2 minggu. Jika sudah lebih dari dua minggu sudah muncul alarm harus seger ditangani serius. “Sayangnya di fase ini kebanyakan justru stuck, merasa tidak terima kalau ada yang tidak beres dan takut dianggap gila dan sebagainya,” ucap Yana.
 
Di Indonesia kebanyakan Muslim, belajar tentang budaya dan agama, pikiran orang dulu agama bisa melindungi dari gangguan jiwa. Sekolah psikiater tidak mendalam, karena agama dipandang bisa melindungi kesehatan jiwa. Setelah krisis kita punya traumatis, efek kisruh antar-warga dan konflik internal lainnya  mengganggu stabilitas. Yana merasa pendekatan agama masih dipakai tapi diimbangi dengan pendekatan medis.

“Agama tidak cukup lagi melindungi, harus ada intervensi medis dari psikolog atau psikiater,” imbuhnya.  Faktor budaya mempengaruhi meningkatnya depresi, mitos pasca ibu melahirkan. Wanita karier ketika disuruh 40 hari di rumah menjadi sedih, merasa tidak berguna. Menjadi gemuk, takut suami selingkuh, merasa tidak berdaya.

Dengan ringan Yana mengatakan jika depresi bisa pulih, namun gangguan jiwa tidak seperti mengobati batuk yang beberapa kali meneguk obat bisa sembuh. Perbedaan dengan penyakit fisik, grafik mengobati psikologis tidak lurus, tapi ada turun, naik dan progressnya. Tidak spontan.

“Yang pasti kita harus menghargai upaya mengobati. Harus punya kesabaran dengan diri sendiri. Tidak bisa sisi yang mudah marah dan tersinggung hilang sendiri, ambil sisi positifnya bisa mengurus bayi, mengurus rumah, bisa keluar rumah, itu hal-hal kecil yang penting. Dan tentu saja bisa tidur nyenyak,” paparnya.

Ibu dua anak ini mengalami fase keterpurukan sekitar dua tahun. Setelah berjuang dengan depresi setelah melahirkan sang buah hati, Yana pun terdorong membangun sebuah komunitas yang ia bentuk untuk memberikan dukungan sosial bagi para ibu dan keluarga yang mengalami masalah setelah melahirkan seperti baby blues syndrom dan postpartum depression.

Yana terinspirasi membuat komunitas Mother Hope Indonesia (MHI) karena ia pernah mengalami depresi paska-melahirkan yang berat pada tahun 2012-2014. "Tidak adanya dukungan, dan informasi dari lingkungan keluarga, tetangga maupun tenaga kesehatan mengenai depresi paska-melahirkan membuat saya kesulitan serta terlambat untuk mencari bantuan tenaga ahli (psikolog, psikiater)” ungkap perempuan 32 tahun ini.

Di MHI banyak sekali keluhan dari member yang cerita terkat masalah depresi karena faktor hormonal, ada yang suaminya selingkuh dan melakukan kekerasan saat hamil. Ada pula yang depresi karena penyakit langka, gagal menyusui, konflik dengan mertua.

Di Indonesia, yang membuat ibu depresi paling banyak karena konflik dengan mertua dan budaya kita masih patriarki, suami kerja diluar, istri mengurus anak. Harusnya suami ikut dalam pengasuhan.

“Sistem kita kebanyakan masih paternalistik, yang lebih tua yang dihormati, padahal pasangan suami istri butuh menentukan masa depan sendiri, tapi yang terjadi mertua banyak intrvensi,” ucapnya.

Melalui MHI Pendampingan yang dilakukan sifatnya promotif dan preventif tidak kuratif. “Kita beri alamat RS lalu menyambungkan dengan psikolognya. Kita tidak bisa mendiagnosa mereka. Di MHI ada empat psikolog, mereka tidak boleh mendiagnosa kalau via telepon. Pendampingan online hanya bersifat sementara,” tuturnya.

Langkah awal terpenting ialah, mereka merasa ada yang mendengarkan, tidak menghakimi. Dari admin dan psikolog sudah kita wawancara, supaya tidak menghakimi dan bisa sabar menghadapi member. Mereka juga sudah ditraining agar proses pendampingan berjalan lancar.

Kegigihan Yana dan para psikolog yang tergabung dalam MHI membawanya terbang ke Houston, Texas pada medio Juli 2018 lalu. Mereka banyak belajar mengenai penanganan ibu paska-melahirkan di benua Amerika. Diakui Yana, di sana mental health expert sudah banyak, bahkan ada ahli khusus yang menangangi ibu depresi paska-melahirkan.

Rekomendasi yang didapat dari konferensi ada prinsip untuk ibu yang mengalami depresi ternyata tak hanya ibu saja tapi ayah juga bia kena. Semuanya bisa mengalami depresi. Yang dibutuhkan bukan hanya psikolog atau psikiater. Ternyata di konferensi kita diberitahu membantu ibu dari segala inner circle yang paling utama suami dan keluarga.

Sementara dari dokter, psikolog dan psikiater malah menjadi line terakhir. Yang bisa mendeteksi dini adalah dokter laktasi dan orang yang mendampingi atau merawat ibu paska-melahirkan. Semua orang lapisan dan porfesi harus membantu sang ibu agar tak jatuh dalam kubangan depresi.

Melalui MHI, Yana telah membuat mitra peduli kesehatan jiwa kerjasama dengan komunitas peduli skizofrenia dan bipolar. “Pada 2017 saya diundang di kemenkes dan perwakilan dari WHO tapi belum ada follow up lebih lanjut mengenai masalah depresi paska-melahirkan,” ucapnya.

Yana merasakan penting membangun kerjasama, di MHI berharap ada kebijakan deteksi dini, bidan dan perawat dilatih melakukan screening atau penyaringan ibu melahirkan, jadi jika ada gejala bisa dirujuk ke psikolog atau psikiater.

TAGS : Feature Depresi




TERPOPULER :