Rabu, 21/11/2018 19:10 WIB

Feature

Jalan Sunyi Menjinakkan Depresi (1)

Kisah seorang wanita penyintas Post Partum Depresion (PPD) 
 

Ilustrasi depresi (Foto: Shutterstock)

Kisah seorang wanita penyintas Post Partum Depresion (PPD)

 

“Suara-suara itu datang lagi, berulang, berkali-kali membuat aku gamang” Aku tak peduli lagi dengan apa yang terjadi. Tiba-tiba suara-suara aneh itu datang makin kuat meminta aku untuk pergi. Iya, pergi untuk selamanya.

Usai suara adzan Maghrib berkumandang, aku pun beringsut menggendong Hana, putri perempuanku yang masih bayi pergi jalan kaki menuju danau, suara itu kian kuat menyuruh aku jalan ke danau dan mengakhiri penderitaan ini.
 
Jalan tampak lengang, di tengah langkai kaki yang gontai, seorang bapak paruh baya mengendarai motor menyapaku. Entah kenapa aku tunduk saja waktu si bapak membonceng aku dan Hana ke sebuah toko ritel. Dengan raut muka penuh tanya ia meminta nomor telpon suamiku untuk menjemput aku dan Hana. Aku pasrah.

Sesungguhnya, bukan kali pertama ini aku nekat mengakhiri garis hidupku. Sebelumnya rumah mungil di kawasan Cisauk ini telah menjadi saksi bagaimana rapuhnya jiwaku. Aku pernah nyaris minum karbol kamar mandi dan menyakiti diri sendiri pakai gunting. Tapi aku masih beruntung karena selalu digagalkan oleh suamiku yang dari hari ke hari kian bingung dengan tingkahku.

Kenapa kamu tak mengerti aku wahai suamiku?

Semua derita berkepanjangan ini dimulai dari rasa sakit yang aku alami tujuh tahun lalu. Bayangkan, anak pertama yang kami berdua nantikan bahkan sudah menyiapkan perlengkapan bayi untuk kehadirannya nanti, tiba-tiba divonis meninggal. Aku langsung drop tanpa ampun dan menyalahkan diri sendiri mengapa bayiku bisa meninggal, apa salahku? Meski suami berkali-kali menghibur dan meyakini kalau aku bisa hamil lagi. Tetap saja, aku bergeming.

Hari berganti, kemudian menginjak bulan kelima Tuhan memberikan aku anugerah kehamilan lagi.  Bahagia? Entahlah, bayangan kehilangan sebelumnya masih terngiang. Aku merasa tidak mudah menghadapi kehamilan kedua yang datang di saat aku masih butuh sandaran. Imbasnya, aku harus mengalami pendarahan kecil selama tiga bulan belum lagi ditambah mual dan muntah yang cukup parah.

Bayangan masa lalu tak kunjung hilang, harusnya aku bisa berkonsentrasi di kehamilan kedua ini malah dihantui mimpi buruk tentang bayiku yang meninggal dalam kandungan. Aku kerap terkena serangan panik setiap kali memeriksakan kandungan ke rumah sakit.

Aku  dilanda kecemasan, trauma, mimpi buruk yang berulang. Sungguh, aku tidak dapat menikmati kehamilan yang harusnya membuatku bahagia. Pengalaman traumatis, takut perawat dan kondisi di rumah sakit, kekhawatiran kalau bayi meninggal lagi bagaimana. Belum lagi takut kalau dapat tindakan induksi juga.

Dengan keadaan tersebut, tiba saatnya aku melahirkan bayinya secara Caesar. Operasi ini juga dilakukan mendadak karena kondisi ketuban yang hampir habis, janin stres dan juga plasenta yang tidak mampu lagi mengalirkan nutrisi dengan optimal serta trauma psikologis akan proses kelahiran secara induksi. Rasa takut kehilangan bayi lagi masih menyelimuti pikiranku.

Di tengah kegamangan, akhirnya lahirlah putri cantik yang kami beri nama Hana Nabila. Sayangnya, kecemasanku tak berhenti usai Hana lahir. Alih-alih mendapatkan ukungan psikolgis yang terjadi sebaliknya. Teman-teman banyak yang menghakimi. Banyak yang bilang, orang zaman dulu tidak memakai pembantu tidak lebay, banyak yang menghakimi daripada mendukung.

Setelah melahirkan, penderitaan tak hanya sampai di sana. Aku mengalami banyak rintangan yakni tidak diberikan kesempatan untuk Inisiasi Menyusui Dini (IMD) di ruang perawatan hingga terpisah dengan bayi dan hanya memiliki beberapa detik untuk mencium sang buah hati yang ia nantikan selama empat tahun..

Tak hanya itu, aku juga tidak diberi obat anti nyeri selama tiga hari berada di Rumah Sakit. Pemberian obat nyeri hanya diberikan sekali setelah operasi. Rasanya aku sangat kesakitan dan kesulitan untuk belajar bangkit dari tempat tidur. Selain itu Hana juga sempat diberi susu formula oleh perawat tanpa ijin dari aku ataupun suami sehingga Hana mengalami bingung puting dan tidak mau menyusu kepadaku. Acapkali aku sodorkan payudara, ia selalu menangis.

Pertanyaan ‘nyinyir’ selalu terlontar padaku setelah keluar dari Rumah Sakit. Ucapan yang menganggap jika belum menjadi seorang ibu seutuhnyalantaran tidak melahirkan normal, tidak merasakan kesakitan saat mengejan. Belum lagi secara fisik, badanku dibilang kayak karung beras, gak takut apa kalau suami meninggalkanmu, membuat aku semakin depresi.
 
Hingga akhirnya aku pergi ke dokter Laktasi untuk konsultasi seputar ASi. Hal ini aku lakukan karena keluarga juga menganggap aku memiliki ASI yang kurang dan kualitasnya buruk. Memberi ASI dengan menggunakan metode Lactation Aid yang dianjurkan Dokter Laktasi merupakan cara terbaik bagiku karena bisa mengurangi rasa bersalah.

Dokter mengatakan tidak ada masalah dengan payudara atau posisi menyusui, ia malah melihatku sedang terkena baby blues karena aku tampak panik, cemas, emosi tidak stabil, dan gemetar saat menggendong Hana. Ketika dokter menyarankanku untuk pergi ke psikolog, aku terkejut dan bingung. Aku memilih mengindahkan saran berlebihan menurutku.

Aku merasa saat pergi ke psikolog akan disebut ibu yang gila, ibu yang jahat, ibu yang kejam, ibu yang buruk, tidak beriman atau bersyukur, hingga kerasukan Jin.  Padahal keluarga besarku bisa dikatakan mengatakan keluarga yang religius. Mereka tidak akan mampu menerima  kondisi depresi yang aku alami dalam kehidupan mereka.

Tidak menjalani anjuran laktasi, kondisi membuat psikologisku semakin memburuk. Saat itu menjadi sulit tidur, mudah marah dan tersinggung, tidak memiliki gairah hidup, merasa tidak ada ikatan dengan sang bayi serta mulai menyakiti diriku sendiri.

Keadaan diperburuk ketika Hana alergi kepada setiap susu formula yang kami berikan kepadanya. Terhitung sudah 6 kali mengganti susu formula, tetapi badannya masih menunjukan reaksi alergi yang sama seperti diare, bahkan sembelit, kolik, rewel, kulit kepala bernanah. Hana harus dirawat di rumah sakit selama 3 hari karena dehidrasi. Saat itu aku semakin terpuruk dan melabeli diri sebagai ibu yang gagal.

Peran ibu rumah tangga menjadi jelek bagiku. Sebelumnya aku kuliah, bekerja menjadi wanita karier. Ketika mengurus anak di rumah, tidak bisa menghasilkan uang sendiri. Aku hanya bisa menangis, merasa malas mandi membersihkan rumah asal-asalan. Asisten yang membantuku mengundurkan diri membuatku makin kesiapan. Kalau ada asisten ada teman bicara, kalau tidak ada rasanya takut melukai bayi.  Bahkan fatalnya lantaran tidak fokus, beberapa kali rumah pernah nyaris kebakaran.

Aku terpojok dan melampiaskan pada Hana, aku nekat membuat pengumuman di sosial media di sebuah grup kalau aku mau menyerahkan Hana kepada siapa saja yang bisa mengasuh Hana dengan baik. Tak sedikit yang menghakimi tindakanku yang dinilai keterlaluan waktu itu. Tapi aku merasa biasa saja, banyak suara waktu itu, imajinasi, ada suara dari dalam tidak tahu mau melakukan apa.

Sajadah yang kubentangkan setiap hari tak banyak membantu kondisiku. Aku tetap salat namun seperti tidak ada gunanya. Rasanya kosong, seperti ritual, tidak bisa menangkal depresi. Hal yang aku pikirkan hanya mengakhiri hidup, dengan aku bunuh diri orang yang menghakimiku tahu dan menyesal bahwa aku benar-benar menderita bukan pura-pura. Kenapa mereka tidak mau mendukung aku untuk memunculkan keinginan bangkit dan hidup selayaknya ibu yang lain, bisa bahagia bersama suami dan anak-anak.
 
Sayangnya suami yang justru diharapkan bisa jadi sandaran dan jawaban juga tak kemahami apa yang aku inginkan. Suamiku bingung tidak mau disalahkan, maunya pulang kerja tetap dilayani kebutuhannya. Hal ini tambah memicu pertengkaran, pernikahan kami bersama seperti berada di ujung tanduk.

Keadaan jiwa yang semakin terguncang itulah Tuhan mengirim jalan melalui tangan sang sahabat yang merasa khawatir akhirnya mengajak aku untuk bergabung dengan Komunitas Peduli Trauma. Di komunitas tersebut aku bertemu dengan orang-orang yang mau membantu aku keluar dari mimpi buruk, dan tak kalah penting bisa menerima kondisiku apa adanya.
 
Setelah beberapa kali melakukan konseling dan psikoterapi, kondisiku mulai menunjukkan perubahan, perlahan tapi pasti membaik. Suara-suara yang pernah menyuruh aku untuk mengakhiri hidup perlahan memudar. Komunikasi dengan suamiku pun semakin terjalin dengan baik, ia tak menyerah menghadapi kondisiku. (Bersambung)

TAGS : Feature Depresi




TERPOPULER :