Senin, 19/11/2018 18:46 WIB

Lari Menyelamatkan Melanie Putria

Masa suram yang dialami Melanie saat nyaris di ambang depresi usai melahirkan kini bersalin rupa.

Melanie Putria bangkit dari masa-masa suram usai melahirkan (Foto: Instagram/Melanie Putria)

Jakarta - Tak banyak perempuan yang pernah mengalami masa-masa gelapnya dalam menjalani fase baby blues syndrom atau post partum depression berani bicara.

Di kalangan selebriti Hollywood misalnya sebut saja Brooke Shield yang tak luput berbagi fase panjang bagaimana ia melaluinya. Ia bahkan menulis buku yang bertajuk Down Came the Rain: My Journey Through Postpartum Depression yang menjadi saksi kisah perjanannya melewati fase  berat itu.  

Brooke Shield rupanya tak sendiri, masih ada deretan aktris lain seperti Drew Barrymore, Chrissy Teigen, Gwyneth Paltrow, Celine Dion, Adele, dan masih ada lagi nama-nama lainnya.

Ya, depresi paska-melahirkan dapat terjadi kepada siapa saja. Para selebriti atau artis Hollywood yang hidupnya terlihat gelamor pun pernah berjuang dengan depresi pasca-melahirkan ini. Kabar baiknya, sebagian besar mereka berhasil melewatinya dan hidup bahagia seperti sekarang.

Selebriti dalam negeri yang pernah jadi Puteri Indonesia tahun 2002, aktif menjadi Pelari dan kegiatan sosial lainnya, Melanie Putri juga termasuk dalam deret nama itu. Sekilas mungkin banyak yang tak percaya, tapi sekali lagi semua perempuan punya potensi.

Pasca-melahirkan putera semata wayangnya, Sheemar, sekira tujuh tahun lalu Melanie pernah mengalami apa kondisi yang disebut baby blues bahkan diakuinya sudah di ambang depresi.

Pre-eklampsia yang dialami pemilik nama lengkap Melanie Putria Dewita Sari ini dimulai saat melahirkan yang menjadi salah satu penyebab Melanie merasakan depresi gila-gilaan.

"Secara mental dan emosional aku drop banget. Pun ketika aku mulai balik ke aktivitas sebagai entertainer semua serba jungkir balik dunia, tidak ada self esteem padahal masih tetap bekerja," ungkapnya.

Perempuan kelahiran 17 April 1982 ini pun sampai tahap tak lagi memiliki rasa kepercayaan diri, semua serba tidak jelas. Jika dibayangkan rasanya seperti masuk kulkas dua pintu, beku.

"Aku merasakannya selama tiga bulan lebih yang lama," kenang Melanie.  "Ini apa sih aku gak tau cara mengontrolnya bagaimana, sampai gak bisa mendefiniskan rasanya bagaimana menenggelamkan rasa gundah saat aku kena depresi," urai pemeran Nurul di film Ayat-Ayat Cinta.

Di tengah kegamangan yang ia rasakan, Melanie memaksakan pergi ke studio senam. "Tiba-tiba ada yang bilang: Ini siapa sih kaya kulkas dua pintu (efek berat badan belum turun paska-melahirkan). Kalau kondisi normal kan biasa saja di-gituin," ucapnya

Alih-alih biasa, saat itu ia malah baper (bawa perasaan), tiba-tiba ingin langsung pulang, menumpahkan tangis. Ditambah sampai rumah melhat Sheemar nangis, tangis Melanie kian menjadi. "Kebayang deh rasanya gimana kondisi saat itu, suram!," lirihnya.  

Dikatakan Melanie, kalau ketemu anak sampai tidak tahu mau bersikap gimana, mesti gimana. "Padahal aku dah siap banget saat hamil sudah melahap aneka buku parenting. Aku tetap bergeming tidak mau menghadapi sendiri," ungkap istri Angga Maliq & D`Essentials ini.
 
Sayangnya saat itu depresi usai melahirkan belum sepopuler sekarang, informasi masih minim, komunitas juga belum ada. Melanie bahkan tak ragu konsultasi ke dokter. Ia pun tak dapat jawaban pasti dari dokter, malah ditanggapi biasa. Lengkap sudah.

Dokter saat itu bilang "Ah baby blues mah biasa aja, istri saya anaknya dua juga kena tapi nanti juga hilang" Sudah gitu si dokter ngomong di depan suami juga jadi ya dianggapnya fase biasa yang dialami ibu usai melahirkan. Jadi semakin dianggap enteng, santai saja nanti juga hilang.

Dokter yang menangani Melanie bilang kalau hormon kehamilan menurun, hormon menyusui naik dan kitanya gak kuat tidak bisa mengontrolnya maka bisa berpotensi baby blues atau bahkan depresi. Kondisi itu kerap terjadi pada ibu-ibu yang pernah melahirkan, bedanya  ada yang disadari dan tidak

Tapi kok ternyata yang dirasakan Melanie tidak kunjung hilang juga setelah periksa ke dokter. “Bahkan saya coba cari-cari informasi sebanyak mungkin, ternyata kondisi ini sampai berakibat fatal bagi si ibu dan kelak anak-anak” ucapnya.

Di tengah kesuraman yang Melanie rasakan, suatu pagi dari rumahnya ia melihat orang lari pagi. Ia merasa orang yang lari ini tampak bahagia seperti tidak ada beban. "Saat aku ngeliat entah mengapa kok jadi ikutan happy," ucapnya bersemangat.  

Tak butuh waktu lama sampai kemudian ia memutuskan untuk menetralkan suasana hati dengan berlari. Tak mau nanggung Melanie makin serius, ikut klub lari, belajar langsung dari pelatih, rutin latihan tidak hanya belajar otodidak.

Beruntung keluarga dan lingkungan mendukung jalan yang dipilih Melanie. Ia merasakan penting punya lingkungan yang support apa yang jadi passion kita.

"Alhamdulillah aku terselamatkan karena lari, aku merasa lari yang telah membuat aku hidup dan semangat sampai saat ini," ucapnya bersyukur.

Masa suram yang telah dilalui Melanie membawanya makin yakin bahwa depresi yang ia rasakan adalah sebuah masalah yang perlu ditangani serius. Ia mengajak perempuan lain yang pernah atau sedang merasakan apa yang pernah ia rasakan agar mau speak-up.

Pertama, yang penting tahu dulu kalau kita merasakan depresi, menerima dulu kalau kita memang kena, bukan sebaliknya menolak.

"Dulu aku gak tau apa yang terjadi sama aku, merasa bukan diri aku, gak tahu diriku lagi dimana. rasanya kayak orang kesurupan, aku gak mengenal diri aku sendiri merasa gak tau lagi dimana," tuturnya.

Kedua, dukungan dari inner circle, orang tua, apalagi suami itu penting banget. Ketiga, dari tenaga medis juga mula menyampaikan kalau ini aalah masalah serius ga bisa dianggap enteng lagi.

Nah kalau hal itu susah dilalui harus dibantu dipulihkan baik oleh tenaga medis maupun supporting group yang sama-sama mengalami bisa saling menguatkan, jangan dibiarkan sendiri. Bantu ibu menemukan kebahagiaan, apa yang diinginkan, dan ia bisa melakukan me time juga agar bisa rileks.

TAGS : Melanie Putria Depresi Melahirkan Baby Blues Syndrom




TERPOPULER :