Selasa, 20/11/2018 00:22 WIB

Sinergi Tri Pusat Pendidikan Hindarkan Anak dari Radikalisme

Tri pusat pendidikan yang dimaksud ialah keluarga, sekolah, dan masyarakat, yang selama ini memberikan pengaruh dalam pembentukan watak

Ilustrasi siswa SD (Foto: Jurnas/Muti)

Jakarta – Direktur Pembinaan Sekolah Dasar (Dit. PSD) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) Dr. Khamim mengatakan, sinergi tri pusat pendidikan menjadi cara ampuh untuk menghindarkan anak dari radikalisme.

Tri pusat pendidikan yang dimaksud ialah keluarga, sekolah, dan masyarakat, yang selama ini memberikan pengaruh dalam pembentukan watak dan karakter anak.

“Sinergi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat ini penting. Sehingga apa yang ditanamkan di satuan pendidikan yang sifatnya relijius, nasionalis, dan gotong royong saling mendukung dengan apa yang diajarkan di keluarga dan masyarakat,” ujar Khamim, pada Sabtu (19/5) di Jakarta.

Urgensi sinergi tri pendidikan dapat merujuk pada kasus Bom Surabaya. Anak pelaku teror, kata Khamim tergolong siswa pintar di sekolah. Bahkan, dalam beberapa kali kesempatan, si anak menjadi pemimpin upacara.

Namun siapa sangka, ternyata anak yang pintar dan aktif di sekolah itu dipengaruhi oleh lingkungannya sehingga terjadi musibah bersama orang tuanya dalam aksi bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya. Dilaporkan 13 korban tewas dan puluhan lainnya luka-luka.

“Malah tidak nampak indikasi radikal sama sekali. Sehingga hal ini semakin menguatkan dugaan bahwa paham radikalisme dapat menyusup dari berbagai arah. Maka dengan bersinerginya Tri Pusat Pendidikan (Sekolah, orang tua dan masyarakat) akan dapat membentengi generasi masa depan dari pengaruh-pengaruh negatif,” terangnya.

Khamim menambahkan, sinergi tri pendidikan sebenarnya juga bisa melakukan fungsi kontrol. Misalnya jika anak tampak melakukan hal-hal mencurigakan di sekolah, guru akan memberikan bimbingan.

Sebaliknya, orang tua juga bisa mengomunikasikan kondisi anak di rumah dengan guru di sekolah, bila ditemui ada kejanggalan dalam berprilaku.

“Makanya komunikasi antara guru dan orang tua itu tidak sebatas saat pengambilan rapot saja. Dengan adanya buku penghubung, fungsinya menjembatani antara guru dan orang tua, kalau ada perilaku anak yang aneh,” jelas Khamim.

 

TAGS : Pendidikan Radikalisme Terorisme Kemdikbud




TERPOPULER :