Senin, 19/10/2020 22:05 WIB

Dugaan Korupsi Pertamina "Mengusik" KPK

Pertamina disebut-sebut tidak membeli saham itu langsung kepada  ConocoPhillips, namun melalui Blacstone

Kantor Pertamina

Jakarta - Dugaan korupsi di perusahaan plat merah PT Pertamina, ternyata tidak hanya yang terjadi di Australia terkait pembelian saham perusahaan pengelola Blok Basker Manta Gummy (BMG) Australian tahun 2009 yang sekarang ditangani Kejaksaan Agung.

Ternyata ada dugaan korupsi lainnya di Pertamina yang sedang didalami Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) era kepemimpinan Karen Galaila Agustiawan. Yakni, terkait akuisisi 65 persen saham ConocoPhillips Algeria Ltd di Blok 405a, Aljazair oleh PT Pertamina (Persero) pada 23 November 2013 senilai USD 1,75 miliar.

Wakil Ketua KPK, Saut Situmorang tak membantah hal tersebut. Namun, Saut saat ini belum mau membeberkannya secara gamblang.  "Intinya KPK mengikuti perkembangan penanganan kasus investasi Pertamina di luar negeri di masa lalu," ungkap Saut Situmorang kepada Jurnas.com.

Saut menyampaikan hal itu sekaligus merespon pernyataan Jaksa Agung Muhammad Prasetyo. Beberapa waktu lalu, Prasetyo mengungkapkan bahwa pihaknya dalam menangani kasus dugaan korupsi pembelian saham perusahaan pengelola Blok Basker Manta Gummy (BMG) Australia tahun 2009 akan berkoordinasi dengan KPK lantaran lembaga antikorupsi juga sedang menangani kasus investasi PT Pertamina (Persero) yang mirip yang ditangani Kejagung. Namun, bloknya saja yang berbeda.

Pernyataan Prasetyo tekait penanganan kasus tersebut tak ditepis Saut. Bahkan, sebut Saut, koordinasi sejak awal sudah dilakukan pihaknya dengan Kejagung. "Oh iya, saya ngga boleh nyebut dulu karena ada prosesnya. Tapi yang jelas memang dari awal ada koordinasi itu, untuk (kasus dugaan korupsi investasi) Pertamina (di luar negeri) kan," ujar Saut.

"Exchange aja, beberapa yang terpisah, ngga di case (kasus) yang sama," ditambahkan Saut.

Pada dugaan di Blok Aljazair,  diduga ada kelebihan pembelian hingga USD 900 juta dari nilai aset bersih ConocoPhillips saat itu. Sebab, aset bersih ConocoPhillips Algeria  per 31 Oktober 2012 diketahui hanya sebesar USD 850 juta.

Pertamina disebut-sebut tidak membeli saham itu langsung kepada  ConocoPhillips, namun melalui Blacstone, perusahaan cangkang (Special Purpose Vehicle/ SPV). Keterlibatan perusahaan yang bermarkas di New York, Amerika Serikat itu diduga lantaran ada campur tangan Gary Hing. Sejak 2008 hingga 2014, Gary diketahui menjadi konsultan di Pertamina. ‎

Saut tak membantah atau mengamini saat disinggung apakah kasus investasi yang sedang diselidiki pihaknya itu terkait Blok Aljazair. "Aku ngga boleh nyebut. Belum komen dulu," tandas Saut.

Dalam kasus dugaan korupsi  investasi PT Pertamina (Persero) di Blok BMG Australia tahun 2009 , penyidik Pidana Khusus Kejagung diketahui telah menetapkan 4 orang tersangka. Yakni, mantan Direktur Utama (Dirut) PT Pertamina (Persero), Karen Galaila Agustiawan; Chief Legal Councel and Compliance PT Pertamina (Persero), Genades Panjaitan (GP); dan mantan Direktur Keuangan PT Pertamina (Persero) Frederik Siahaan (FS).

Ihwal kasus korupsi ini mengemuka ketika PT Pertamina (Persero) menakuisisi (investasi non-rutin) yakni pembelian sebagian aset (Interest Participating/IP) milik ROC Oil Company Ltd di lapangan Basker Manta Gummy (BMG) Australia berdasarkan Agreement for Sale and Purchase-BMG Project, tanggal 27 Mei 2009.

Namun, diduga dalam pelaksanaannya terjadi penyimpangan. Yakni dalam pengusulan investasi yang tidak sesuai dengan pedoman investasi dalam pengambilan keputusan investasi tanpa adanya studi kelayakan, berupa kajian secara lengkap atau Final Due Dilligence dan tanpa adanya persetujuan dari Dewan Komisaris.

Alhasil, peruntukan dan penggunaan dana sejumlah US$ 31.492.851 serta biaya-biaya yang timbul lainnya sejumlah AU$ 26.808.244 tidak memberikan manfaat atau keuntungan bagi korporasi perusahaan plat merah di bidang migas itu dalam rangka penambahan cadangan dan produksi minyak nasional.

Hal itu juga merugikan keuangan negara sebesar US$ 31.492.851 dan AU$ 26.808.244 atau setara dengan Rp 568.066.000.000 sesuai perhitungan yang dilakukan akuntan publik.

Di KPK, Karen sempat terserempet kasus dugaan suap kepada Rudi Rubiandini selaku Kepala SKK Migas saat itu. Sempat diperiksa dan bersaksi di persidangan, persoalan Karen dan Rudi Rubiandini saat perkara itu bergulir tenar dengan istilah "buka-tutup kendang". Itu merupakan istilah patungan suap buat DPR.

TAGS : Pertamina Kasus Korupsi KPK




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :