Selasa, 27/10/2020 09:54 WIB

Jaksa Bersyair `Honesty` Billy Joel untuk Setya Novanto

Menangani perkara e-KTP, kata Irene, tidak bisa dilakukan dengan cara-cara yang konvensional. Tetapi, sambung Irene, harus berpikir progresif.

Terdakwa Setya Novanto pada sidang lanjutan kasus dugaan korupsi E-KTP di Pengadilan Tipikor, Jakarta.

Jakarta - Jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menilai jika terdakwa Setya Novanto belum kooperatif berkata jujur atas perbuatannya terkait proyek pengadaan e-KTP. Jaksa pun meminta mantan‎ Ketua DPR Ri itu untuk berkata jujur terkait perkara korupsi yang merugikan negara hingga Rp 2,3 triliun tersebut.

Untuk mengingatkan pentingnya arti kejujuran, jaksa bahkan sampai mengutip lirik lagu "honesty" yang dilantunkan penyanyi ternama asal Amerika Serikat, Billy Joel. ‎"Mengutip syair Billy Joel yang berjudul honesty, maka penuntut umum ingin menyampaikan `honesty is hardly ever heard and mostly what I need from you`, kejujuran adalah hal yang paling sulit didengar tapi sesungguhnya itulah yang kuinginkan dari dirimu‎," ujar  Jaksa  saat membacakan surat tuntutan untuk terdakwa Novanto di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (29/3/2018). ‎

Diakui Irene, membongkar kasus e-KTP sangat dirasa berat. Pasalnya ‎kasus ini tidak menggunakan modus-modus yang tradisional.‎ D‎alam perjalanan pengusutan kasus megakorupsi itu bahkan sampai ada salah satu saksi penting mati bunuh diri di luar negeri. Saksi itu yakni Johannes Marliem.

Selain itu, beberapa hal lain yang membuat perkara ini menarik perhatian publik lantaran objek perkara ini menyangkut hak asasi setiap warga negara yakni mengenai identitas diri setiap WNI.

"Namun kenyataannya dengan mata telanjang kita melihat bagaimana tujuan penerapan e-KTP belum tercapai dikarenakan perencaan dan pembahasan anggaran dicampuri kepentingan bisnis dari pengusaha dan anggota DPR RI yang dengan pengaruh politik mengintervensi proses penganggaran dan pengadaan Barang dan jasa, inilah yang disebut political corruption," kata jaksa Irene.

Penuntut umum juga menyadari perkara ini begitu menarik perhatian, tidak hanya di dalam negeri tetapi juga di luar negeri. Menarik, lantaran pelaku yang diajukan ke muka persidangan adalah seorang pelobi ulung dan politikus yang punya pengaruh kuat.

‎"Meski namanya kerap disebut-sebut dalam berbagai skandal korupsi sebelumnya serta santun meski dilihat dari pendekatan kriminologi karakterisktik pelaku white collar crime kebanyakan mereka dikenal sebagai orang baik, supel, pintar bersosiasliasi.  Sehingga tidak heran perjalanan uang haram dalam perkara ini harus demikian berliku melintasi enam negara yakni Indonesia, Amerika Serikat, Mauritius, India, Singapura dan Hong Kong," ujar Jaksa Irene.‎

Menangani perkara e-KTP, kata Irene, tidak bisa dilakukan dengan cara-cara yang konvensional. Tetapi, sambung Irene, harus berpikir progresif.

Selain itu,‎ butuh kerja keras dan keberanian untuk berpihak pada keberanian.‎ ‎Utamanya dalam memaknai perbuatan menguntungkan diri sendiri yang tidak harus dilakukan dan diterima secara fisik oleh tangan pelaku langsung.‎

Ditegaskan Irene, penuntut umum tetap percaya terhadap kebesaran Tuhan bahwa tidak ada kejahatan yang sempurna. Bahkan, sambung Irene, selalu ada rahmat tuhan kepada setiap penegak hukum dalam membongkar setiap kejahatan.

"Honesty is hardly ever heard, and mostly what I need from you," tutur Jaksa Irene.‎

TAGS : Setya Novanto Pengadilan Tipikor E-KTP




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :