Rabu, 26/09/2018 04:27 WIB

Restorasi Film Lawas Indonesia

Gelaran ini menawarkan berbagai film sukses lawas Indonesia yang telah direstorasi.

Peluncuran Vintage Film Festival

Jakarta - GO-TIX, layanan mobile ticketing dan penyedia informasi beragam acara hiburan yang tersedia dalam layanan aplikasi GO-JEK dan kini telah dikelola oleh LOKÉT bekerja sama dengan FLIK dan CGV Cinemas Indonesia mengajak masyarakat untuk merasakan pengalaman menonton film-film lawas Indonesia dengan kualitas dan resolusi yang anyar lewat ajang Vintage Film Festival (VFF).

Gelaran ini menawarkan berbagai film lawas Indonesia yang telah direstorasi sehingga dapat kembali ditampilkan dengan kualitas masa kini tanpa mengurangi originalitas film tersebut.

“Upaya untuk melakukan restorasi film-film lawas Indonesia saat ini sangat kritikal untuk menyelamatkan koleksi film-film ini dari kerusakan. Oleh karena itu, kami mendaftarkan berbagai film yang kualitasnya dapat kami pulihkan kembali agar dapat dinikmati oleh seluruh pecinta film baik di dalam maupun luar negeri,” ujar Manoj Samtani selaku CEO FLIK saat membuka gelaran VFF bersama GO-TIX dan CGV* Cinemas Indonesia hari ini di Jakarta.

Dalam acara pembukaan VFF juga hadir Rama Adrian selaku VP Consumer Solution LOKÉT yang mengatakan bahwa banyak film lawas karya sineas pendahulu Indonesia yang tidak hanya memiliki jalan cerita yang unik tetapi juga mengandung pesan moral yang bagus untuk masyarakat Indonesia.

“Namun sayang, sejauh ini karya-karya tersebut tidak bisa dinikmati oleh masyarakat masa kini karena memang kualitasnya yang sudah kurang baik. Melalui berbagai upaya restorasi inilah, film lawas Indonesia dapat diselamatkan. Namun, upaya melestarikan film Indonesia dengan mengapresiasi dan mencintai film-film lawas ini adalah tantangan selanjutnya. Oleh karena itu kami berinisiatif bekerja sama dengan FLIK selaku perusahaan film yang memiliki teknologi untuk merestorasi film lama dan CGV* Cinemas Indonesia sebagai jaringan bioskop ternama Indonesia untuk menggelar VFF,” tambah Rama.

Ia juga mengatakan, pada tahap awal VFF akan berlangsung selama satu bulan penuh dan akan diputar secara serentak di 10 kota jaringan Bioskop CGV* Cinemas Indonesia mulai dari 29 Maret hingga 29 April 2018. Genre film lawas yang ditampilkan pun beragam, mulai dari drama, komedi, horor hingga aksi laga. Salah satu film yang akan ditayangkan pertama kali dalam VFF mendatang adalah Pengabdi Setan karya sutradara Sisworo Gautama Putra dan diproduseri oleh RAPI Film yang sukses merebut perhatian masyarakat film Indonesia pada tahun 1980.

Sebelum direstorasi, kebanyakan arsip film-film lawas ini berada dalam kondisi fisik yang sangat mengkhawatirkan. Materi film dalam format seluloid ini umumnya mengalami kerusakan berupa robek atau tergores, terkena debu, bekas sidik jari, hingga serangga yang menempel pada seluloid atau pita film. Kondisi alam dan cuaca tropis di Indonesia juga mempengaruhi pita film menjadi cepat berjamur atau mencair dan mengeluarkan bau asam.  Dengan teknologi restorasi, film-film lawas ini diperbaiki dalam beberapa tahap.

Tahap pertama adalah ‘pemulihan’ dengan merestorasi fisik pita seluloid secara manual yang dapat memakan waktu cukup lama dan dilakukan oleh ahli khusus restorasi. Setelah pita seluloid direstorasi secara fisik maka siap untuk dipindai (scanning) dan ditransfer ke dalam format digital. Tahap selanjutnya adalah restorasi film yang menggabungkan upaya restorasi secara manual dan digital.

Ada ratusan ribu frame untuk setiap satu film yang berdurasi hampir dua jam. Oleh karena itu tahap ini membutuhkan waktu berminggu-minggu hingga bulanan karena restorasi harus dilakukan frame demi frame tergantung pada tingkat kerusakannya.

Rama melanjutkan “Pada Hari Film Nasional ini, VFF hadir sebagai bentuk apresiasi kolaboratif kami bagi pelaku industri perfilman yang telah sukses menghibur masyarakat Indonesia melalui ribuan judul film sejak film pertama diproduksi di Indonesia pada tahun 1926. Kami berharap kolaborasi ini juga mampu membangkitkan gairah sineas muda tanah air untuk berkarya.”

Sementara itu, Wisnu Triatmojo selaku Head Brand Marketing CGV Cinemas Indonesia menyambut baik inisiatif yang digagas oleh GO-TIX dan FLIK ini. Kerja sama ini, lanjut Wisnu, sejalan dengan misi kami yang tengah fokus membangun strategi kemitraan bersama pemain besar dalam hal fitur serta pembelian tiket yang mudah.

“Awalnya, saya selalu kagum melihat masyarakat pecinta film di luar negeri yang selalu diperkenalkan kembali dengan film-film lawas, walaupun hanya beberapa detik pada setiap scene ‘menonton TV’. Hal ini menunjukan adanya kecintaan yang tinggi terhadap film-film lawas pendahulunya. Dengan kolaborasi strategis ini, kami melihat VFF merupakan ajang yang tepat selain untuk memperkaya konten film yang ditayangkan oleh CGV Cinemas Indonesia juga untuk menghadirkan kecintaan masyarakat film terhadap film lawas Indonesia. Bekerja sama dengan GO-TIX sebagai penyedia layanan mobile ticketing dan FLIK kami mengajak penonton bernostalgia dengan film lama dengan kualitas yang lebih baik tapi tetap dengan versi yang orisinil,” ucap Wisnu.

VFF rencananya akan digelar secara serentak mulai 29 Maret 2018 di jaringan bioskop CGV Cinemas Indonesia di beberapa kota. Berikut adalah beberapa film lawas yang siap ditayangkan pada gelaran Vintage Film Festival (VFF) - Diurutkan dari usia film terlawas:

●      Matt Dower (1969)

●      Ateng Sok Aksi (1977)

●      Pengabdi Setan (1980)

●      Ratu Ilmu Hitam (1981)

●      Titian Serambut Dibelah Tujuh (1982)

●      WARKOP - Sama Juga Bohong (1986)

●      Seri Catatan Si Boy (1987 - 1991)

TAGS : Hari Film Kabar Artis Festival Cinema




TERPOPULER :