Selasa, 20/11/2018 06:41 WIB

Temuan Kuburan Massal di Rakhine Buat PBB Khawatir

Washington dan PBB dorong agar Myanmar buka akses di daerah Rakhine state.

Pengungsi Rohingya (AP)

Washington -  Penyelidikan yang diadakan oleh kantor berita Associated Press (AP) menemukan setidaknya lima kuburan massal yang baru ditemukan di area konflik, Rakhine, Myanmar.

"Kami melihat beberapa jasad yang saling ditumpuk," kata Noor Kadir, seorang saksi mata yang menemukan dua titik kuburan kepada AP.

Pemerintah Myanmar menyangkal semua tuduhan yang mengatakan mereka melakukan pembunuhan massal terhadap minoritas Muslim Rohingya. Namun laporan AP menunjukkan adanya "pembunuhan sistematis" yang dilakukan militer Myanmar.

Menanggapi hal itu, Amerika Serikat dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyampaikan kekhawatiran mereka  menyusul dirilisnya sebuah laporan mengenai kuburan massal di Rakhine state, Myanmar. Penemuan kuburan itu, menurut AP, adalah bukti terbaru mengenai tindakan genosida yang dilakukan Myanmar.

PBB mengatakan laporan itu menunjukkan pentingnya agar PBB dibolehkan masuk ke Rakhine state. "Kami tidak memiliki akses yang kami minta, dan sangat penting bagi kami memiliki akses untuk memverifikasi laporan-laporan ini," kata Stephane Dujarric, juru bicara Sekretaris Jenderal Antonio Guterres.

Pemerintah Amerika Seriakt mengatakan, sangat khawatir membaca laporan itu dan setuju dengan langkah PBB meminta akses untuk kawasan tersebut.

"Kami tetap fokus membantu memastikan akuntabilitas bagi mereka yang bertanggung jawab atas pelanggaran HAM di sana," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Heather Nauert.

"Dengan bantuan ahli forensik, investigasi menyeluruh bisa memberikan gambaran akurat mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Dunia patut tahu," sambungnya.

Sejak 25 Agustus, lebih dari 650.000 warga Rohingya menyeberang dari Rakhine ke Bangladesh, menurut PBB. Rohingya, yang disebut PBB sebagai orang paling teraniaya di dunia, menghadapi ketakutan atas serangan yang membunuh puluhan orang pada kekerasan komunal pada 2012.

Setidaknya 9.000 Rohingya tewas di Rakhine antara 25 Agustus dan 24 September, menurut lembaga Dokter Lintas Batas (MSF). Dalam laporan tertanggal 12 Desember, MSF mengatakan 71,7 persen Rohingya atau sekitar 6.700 orang tewas akibat kekerasan. Itu termasuk 730 anak-anak dibawah usia 5 tahun.

PBB telah mendokumentasikan perkosaan massal, pembunuhan  termasuk bayi dan anak-anak, pemukulan brutal, dan penghilangan oleh petugas keamanan. (AA)

TAGS : PBB Amerika Serikat Rohingya Myanmar




TERPOPULER :