Selasa, 25/09/2018 19:41 WIB

PBB: Kondisi Rohingya Kian Buruk

Beberapa bulan ke depan, Kondisi kemanusiaan di kamp-kamp yang menampung pengungsi Rohingya di Bangladesh akan semakin memburuk.

Tenda para pengunsi Etnis Rohingya di Bangladesh (Foto: AN)

Cox`s Bazar - Beberapa bulan ke depan, Kondisi kemanusiaan di kamp-kamp yang menampung pengungsi Rohingya di Bangladesh akan semakin memburuk. Demikian disampaikan pelapor khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). 

Dalam sebuah wawancara dari kamp pengungsi Balukhali di Cox`s Bazar, Yanghee Lee, seorang yang dilarang mengunjungi Myanmar, mengatakan, "Musim hujan di Bangladesh dapat mengakiabatkan tanah longsor dan menghantam tenda para pengunsi.  Kita akan melihat sejumlah besar korban jiwa lagi."

Selain itu, Lee juga memperingatkan kemungkinan penyebaran "wabah penyakit" karena curah hujan yang deras. "Kemungkinan besar wabah ini akan menyebar ke satu tempat ke tempat lain lain."

Sebagai bagian dari kesepakatan repatriasi yang ditandatangani oleh dua tetangga Asia pada bulan November tahun lalu, pejabat Bangladesh dan Myanmar sepakat pada minggu lalu mengenai rencana untuk memfasilitasi kembalinya etnis Rohingya, dalam dua tahun ke depan.

Sebanyak 1.550 pengungsi akan dikirim kembali setiap minggu, yang akan bertambah menjadi sekitar 156.000 selama periode dua tahun. Namun Lee mengatakan situasi di Myanmar tidak kondusif bagi pengungsi untuk kembali.

"Pertama-tama, ke mana mereka akan kembali? Mereka telah kehilangan mata pencaharian mereka, mereka telah kehilangan hasil panen mereka, mereka telah kehilangan ladang mereka," katanya kepada Al Jazeera.

"Semua beras sekarang dilaporkan dijual ke tempat lain ke negara lain. Mereka telah kehilangan rumah mereka, jadi proses pembangunan kembali akan menjadi besar, dan masyarakat tidak boleh hidup dalam situasi seperti kamp lainnya."

Ia juga mendesak agar kembalinya pengungsi ke rumah mereka sepenuhnya sukarela dengan menekankan bahwa perlu ada "Penjelasasan, sehingga mereka  tahu persis apa yang akan mereka lakukan setelah kembali."

Krisis Rohingya saat ini dimulai pada bulan Agustus, ketika tentara Myanmar melancarkan tindakan keras berdarah dalam menanggapi serangan terhadap pos-pos perbatasan oleh kelompok bersenjata tersebut, Arakan Rohingya Salvation Army.

Sebagian besar minoritas Muslim, yang tinggal terutama di Negara Bagian Rakhine, tidak diakui sebagai kelompok etnis di Myanmar, meskipun sudah beranak cucu di wilayah tersebut. Mereka ditolak kewarganegaraan dan dianggap tidak memiliki kewarganegaraan.

Untuk diketahui, sejak 2014, Lee ditugasi memantau Hak Asasi Manusia. Ia diharuskan mengunjungi Myanmar dua kali setahun untuk melapor ke Dewan Hak Asasi Manusia dan Majelis Umum PBB. Pada bulan lalu, ia dilarang melakukan penyelidikan di wilayah tersebut. 

TAGS : Rohingya Myanmar PBB Bangladeh




TERPOPULER :