Rabu, 26/02/2020 16:49 WIB

Ironi Pidato Sang Pemimpin Myanmar Soal Perempuan

Suu Kyi berbicara soal patriarki yang masih kental di negaranya, sementara itu perempuan Rohingya menjadi korban

Aung San Suu Kyi (Foto: Reuters)

Yangon – Berbicara dalam konferensi tingkat tinggi (KTT) ASEAN 2017 di Filipina, pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi menyerukan pemberdayaan terhadap perempuan di negaranya. Dia mengatakan budaya patriarki di Myanmar masih sangat kental, sehingga merugikan kaum perempuan.

Dikutip dari Asian Correspondent, Senin (13/11), dalam pidatonya Suu Kyi juga mendorong peningkatan kesehatan ibu dan perlindungan sosial yang lebih baik bagi perempuan.

"Masih tak terhitung jumlahnya, perempuan kehilangan peluang. Norma sosial yang menyamakan perempuan dengan tenaga kerja tidak terampil, dan menganggap mereka sebagai ibu rumah tangga yang tidak mampu membuat keputusan, ialah salah satu tantangan terbesar kami,” ungkap San Suu Kyi.

Hebatnya pidato Suu Kyi langsung dimentahkan oleh Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB). Hanya beberapa jam setelah pidato tersebut usai, utusan PBB menuding militer Myanmar secara sengaja menargetkan perempuan Rohingya, untuk melakukan pemerkosaan dan penyiksaan.

Perwakilan khusus PBB di Myanmar, Pramila Patten menuliskan laporan kekejaman militer yang tergolong sebagai kejahatan kemanusiaan. Patten merinci pelanggaran militer, polisi perbatasan, dan milisi Budha terhadap perempuan Rohingya.

“Saya mendengar cerita mengerikan tentang pemerkosaan dan pemerkosaan berkelompok, terhadap para wanita dan anak perempuan, yang menyebabkan mereka tewas akibat pemerkosaan tersebut,” kata Patten kepada awak media di Dhaka.

“Dari hasil pengamatan saya, pola kekejaman makin meluas, termasuk kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak perempuan Rohingya, yang telah ditargetkan secara sistematis karena etnis dan agama mereka,” ungkapnya.

Lebih dari 600.000 Muslim Rohingya telah melarikan diri ke negara tetangga Bangladesh, akibat serangan gerilyawan Rohingya di pos terdepan polisi pada 25 Agustus lalu, yang memicu respon keras militer.

Kelompok etnis tersebut menghadapi pembalasan ganas, yakni pembakaran desa dan pembunuhan meluas yang dilakukan oleh angkatan bersenjata di negara mayoritas Buddhis itu. Dan PBB menggambarkan operasi pembersihan sebagai "contoh praktik genosida".

TAGS : San Suu Kyi Myanmar Rohingya Rakhine PBB




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :