Minggu, 21/07/2019 05:30 WIB

Internasional

Militer Filipina Kejar Pimpinan ISIS Asal Malaysia

Filipina mengejar seorang teroris yang berasal dari Malaysia bersama dengan 30 militan lainnya

Tentara Filipina (foto: The Guardian)

Jakarta - Setelah membunuh dua otak penting kelompok teroris di Marawi, pada Senin (16/10) pagi, kini militer Filipina mengejar seorang teroris asal Malaysia bersama dengan 30 militan lainnya.

"Masih ada satu tokoh ISIS, Dr. Mahmud bin Ahmad dari Malaysia, dan ia masih berada di daerah pertempuran dengan beberapa pengikutnya dari Indonesia dan Malaysia," kepala militer Jenderal Eduardo Ano kepada media setempat.

Sisa-sisa pemimpin kelompok Abu Sayyaf dan Maute setempat, Isnilon Hapilon dan Omar Khayyam Maute, tewas dalam baku tembak ditemukan  bersama tujuh mayat yang diyakini kelompok militan.

Seorang mantan profesor di salah satu perguruan tinggi, Ahmad adalah teroris Malaysia yang paling dicari. Ia disebut sebagai pemimpin ISIS terpenting di Asia Tenggara. Ia dilaporkan menyalurkan uang sekitar USD585.000 untuk keperluan ISIS membeli senjata api, makanan dan persediaan makanan selama pengepungan Kota Marawi dan mengatur masuknya mendirikan sel di sana.

Sebelumnya, pejabat setempat meremehkan kemampuan militan Malaysia yang memimpin di Filipina sebelum laporan Ahmad yang memimpin kelompok teror lokal bermunculan.

"Saya tidak hampir tidak percaya. Mahmud menjadi otak karena pendanaan militan tersebut disalurkan melaluinya. Sejauh ini, Mahmud tidak dapat memimpin kelompok teror lokal, karena itulah mereka memilih Hapilon. Ia hanya seorang pembantai biasa," kata Ano.

"Ahmad hanya satu dari delapan pejuang asing yang melakukan pertempuran sengit melawan pasukan saat krisis memasuki hari ke-148," jelas Ano menambahkan.

"Kami akan mendapatkan sisanya," tegas Ano. Ia menjelaskan pejuang yang tersisa kehilangan formasi pertempuran mereka akibat kematian pemimpin mereka.

Kepala pertahanan Delfin Lorenzana sebelumnya  menyatakan keinginannya menghentikan permusuhan di Marawi yang akan diumumkan dalam minggu ini, namun segera diklarifikasi, darurat militer tidak akan dicabut karena situasi di semua Mindanao masih akan dibahas dengan Presiden Rodrigo Duterte.

Pertarungan di Marawi meletus pada 23 Mei menyusul sebuah serangan yang dilakukan oleh teroris yang mengangkat bendera hitam Daesh dalam upaya untuk membangun kekhalifahan di Asia Tenggara. Duterte memberlakukan darurat militer di seluruh kepulauan Mindanao Filipina selatan yang tidak akan berakhir sampai akhir tahun.

TAGS : Filipina Marawi ISIS Isnilon Hapilon Malaysia




TERPOPULER :