Kamis, 23/11/2017 08:59 WIB

Internasional

Uni Eropa Putus Hubungan dengan Militer Myanmar

Pemerintah Uni Eropa mengusulkan menghentikan sementera waktu hubungan dengan jenderal-jenderal penting Myanmar

Pengunsi Rohingya (Foto: AFP)

Dhaka - Pemerintah Uni Eropa mengusulkan menghentikan sementera waktu hubungan dengan jenderal-jenderal penting Myanmar sebagai langkah awal  meningkatkan sanksi atas kekejaman Myanmar terhadap Rohingya. Kebijakan itu menargetkan angkatan bersenjata Myanmar dan perwira militer senior lainnya.

Rashed Ahmed Chowdhury, mantan utusan khusus Bangladesh untuk PBB, menyambut baik usulan tersebut dengan menyebut pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi sebagai boneka militer negara tersebut.

"Saat ini, Myanmar mendapatkan senjata dari negara Barat, termasuk Israel. Begitu jalur pasokan terputus, akan menciptakan tekanan besar bagi Myanmar. Baru setelah itu Bangladesh bisa memulangkan kembali para pengungsi,"kata Chowdhury kepada Arab News, menyarankan langkah-langkah yang lebih komprehensif.

"Dunia harus mempertimbangkan sanksi ekonomi terhadap Myanmar. Dewan Keamanan PBB harus mengeluarkan resolusi dengan suara bulat untuk menghentikan pembersihan etnis ini, yang sama sekali tidak dapat diterima. Jika situasinya terus berlanjut, banyak negara akan membuang populasi minoritas dari tanah mereka."

Diplomat Bangladesh Q. A. M. A. Rahim mengatakan kepada Arab News, "Sejak awal, Uni Eropa mengambil pendekatan rasional terhadap kekejaman ini. Kali ini juga, tidak menunggu ada panggilan dari siapapun. Uni Eropa membuat pendiriannya sangat jelas, dan mengambil keputusan secara independen."

Mantan sekretaris asing Bangladesh dan mantan sekretaris jenderal Asosiasi Kerjasama Regional Asia Selatan (SAARC) mengatakan ia yakin Uni Eropa akan mengambil tindakan lebih lanjut jika Myanmar terus melakukan kekejaman terhadap Rohingya.

"Bangladesh harus mengintensifkan upaya untuk meyakinkan negara-negara yang mendukung Myanmar bahwa pembersihan etnis ini harus dihentikan," tambahnya.

"Tanpa tekanan yang konsisten dan menyeluruh dari masyarakat internasional, tidak akan ada solusi berkelanjutan untuk krisis pengungsi. Inisiatif Uni Eropa sangat baik," kata Mantan Duta Besar Sohrab Hossain kepada Arab News 

Tekanan semacam itu harus dipelihara untuk memaksa Myanmar untuk memanggil kembali Rohingya yang melarikan diri, katanya, memuji diplomasi Bangladesh dalam hal ini.

TAGS : Rohingya Bangladesh Myanmar PBB Uni Eropa




TERPOPULER :