Selasa, 11/08/2020 20:22 WIB

Internasional

PBB Desak Pemimpin Myanmar Akhiri Mimpi Buruk Rohingya

Antonio Guterres mendesak para pemimpin Myanmar mengakhiri mimpi buruk pengungsi Rohingya yang melarikan diri dari kampanye militer

Sekjen PBB Antonio Guterres (Foto: Financial Tribune)

Jakarta - Kepala Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), Antonio Guterres mendesak para pemimpin Myanmar mengakhiri mimpi buruk pengungsi Rohingya yang melarikan diri dari kampanye militer. Himbauan itu disampaikan setelah setidaknya 19 orang tenggelam dan sejumlah tewas  saat kapal yang mengangkut mereka ke Bangladesh Tenggelang.

Pada Kamis (28/9) kapal yang ditumpangi para pengunsi  etnis Rohingya kembali tenggelam diterpa angin dan derasnya hujan. Menurut saksi mata dan korban selamat mengatakan kapal yang terbalik hanya beberapa meter dari pantai setelah terbentur setuatu di bawah dasar laut.

Organisasi Internasional untuk Migrasi mengatakan sekitar 100 orang yang berada di atas kapal yang didominasi anak-anak, diyakini berada di atas kapal yang jatuh tersebut.

Sekitar mayat 16 kebanyakan anak ditemukan mengapung pada Kamis dan dibawa ke sekolah setempat, kata komandan penjaga pantai Nasir Uddin. Dua mayat anak laki-laki lainnya baru ditemukan pada Jumat (29/9) pagi, tambahnya, sementara jasad wanita lainnya ditemukan di lokasi yang terpisah.

"Mereka tenggelam di depan mata kita. Beberapa menit kemudian, ombak menghatam tubuh kapal ke pantai," kata Mohammad Sohel, seorang pemilik toko setempat.

Seorang korban selamat mengatakan kepada AFP, istri dan salah satu anaknya meninggal saat kapal tersebut tenggelam.

"Kapal itu menabrak sesuatu yang berada di bawah tanah saat mendekati pantai. Lalu dihantam ombak," kata Nurus Salam, yang berangkat ke Bangladesh dari sebuah desa pesisir di Myanmar Rabu malam bersama keluarganya.

Untuk diketahui, sejak kekerasan meletus pada bulan lalu, hampir setengah juta etnis Rohingya mencari suaka ke Bangladesh. Mereka melarikan diri dari tindakan militer Myanmar yang memusnahkan desa-desa di negara bagian Rakhine bagian utara.

Kepala PBB mengatakan kekerasan yang sistemik dapat menyebabkan mengancam 250.000 etnis Rohingya melarikan diri dari tempat mereka dibesarkan.

Beberapa kritik terkuat berasal dari utusan Amerika Serikata untuk PBB, Nikki Haley yang menganggap pemerintah Myanmar melancarkan kampanye brutal dan berkelanjutan untuk membersihkan negara dari etnis minoritas.

"Ini harus memalukan para pemimpin senior Burma yang telah berkorban begitu banyak untuk Myanmar yang terbuka dan demokratis," tambahnya, yang tampaknya merupakan teguran pemimpin negara Aung San Suu Kyi, yang reputasinya sebagai seorang pejuang hak asasi manusia telah dipecat. 

TAGS : Rohingya Myanmar Bangladesh PBB




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :