Jum'at, 21/06/2019 04:19 WIB

IPAL, Teknologi BAB di Kawasan Padat Penduduk

Keresahan yang sama dirasakan oleh Suherna (43). Tahun lalu, saluran air yang terdapat di belakang rumahnya menyemburkan bau tidak sedap

Hasil penyaringan kotoran manusia menggunakan teknologi IPAL

Jakarta – Setahun lalu, Nur (45) sebal saat hasrat untuk buang air besar (BAB) datang tengah malam. Bukan perkara mudah untuk memenuhi keinginan tersebut, lantaran warga RW.02, Duri Utara, Jakarta Barat ini terbiasa buang hajat di WC umum.

“Kalau malam kan WC-nya tutup,” kata Nur, Selasa (26/9) di Kantor Kelurahan Duri Utara.

Persoalan BAB pun ternyata tidak hanya datang di malam hari. Setiap pagi, kata Nur, dia harus mengantri di depan WC umum. Belum lagi kalau setiap hari, dia ingin BAB lebih dari satu kali, maka uang ‘karcis’ yang dikeluarkan akan lebih banyak. Karena fasilitas WC umum tak cuma-cuma.

“Setiap masuk bayar seribu. Semakin sering ke WC ya uang yang dikeluarkan juga semakin banyak,” ujarnya.

Keresahan yang sama dirasakan oleh Suherna (43). Tahun lalu, saluran air yang terdapat di belakang rumahnya menyemburkan bau tidak sedap, akibat pembuangan limbah manusia (kotoran, Red). Kondisi ini memaksanya menutup pintu belakang, karena bau yang ditimbulkan sangat menyengat.

“Itu karena banyak warga punya kloset tapi tidak punya septitank. Walhasil, mereka buang ke saluran air,” terang petugas Kelurahan Duri Utara, Radityo.

Kemudian pada Oktober 2016, Plan International Indonesia meluncurkan proyek yang dinamakan “BERSIH” (Bersama Perbaiki Sanitasi dan Higiene Kota) di Kelurahan Duri Utara. Adapun hasil proyek ini adalah teknologi instalasi pengolahan air limbah (IPAL), untuk mengolah limbah manusia, serta mencegah masyarakat setempat membuang kotoran di saluran air.

Teknologi tersebut mampu mengolah kotoran manusia, dari awalnya berbentuk padat menjadi cair dengan kandungan bakteri E. Coli yang sangat kecil.

IPAL terdiri dari lima bak penampungan yang ditanam di dalam tanah. Fungsi tiap bak berbeda-beda, mulai dari menampung kotoran manusia, memadatkan, pembusukan, hingga dikeluarkan dalam bentuk air berwarna bening. Di Duri Utara khususnya, satu unit IPAL bisa digunakan hingga 42 rumah dengan total 277 jiwa. Saat ini sudah ada dua unit IPAL komunal guna menyiasati pembuangan limbah di kawasan padat, seperti Jakarta.

Sejak menggunakan IPAL, Nur mengatakan ia sudah tidak perlu lagi khawatir ketika tengah malam ingin BAB. Demikian pula Suherna, pintu belakang yang biasanya ia tutup, karena bau yang menyengat, kini ia buka lebar-lebar. Bahkan ia menggunakan pelataran pintu belakang sebagai tempat bermain anak, karena saluran air yang tadinya mengeluarkan bau busuk, kini sudah bersih, sebab sudah tidak ada lagi warga yang membuang kotoran sembarangan.

Air dan Sanitasi untuk Generasi Masa Depan

Regional Director Plan International, Senait Gebregziabher menyebut IPAL pada dasarnya bertujuan mengubah pola hidup masyarakat menjadi lebih bersih dan sehat. Sebab, air dan sanitasi, menurutnya merupakan komponen penting bagi tumbuh kembang anak di masa mendatang.

“Sebagai orang tua, tentu menginginkan hal terbaik buat anak-anaknya. Bila air bersih mudah didapat, dan pola hidup bersih tercipta, maka itu bisa mengurangi risiko penyakit seperti diare,” kata Senait kepada Jurnas.com.

Selanjutnya, Senait juga berharap teknologi IPAL dapat diteruskan dan diperluas cakupannya oleh pemerintah daerah. Sebab IPAL sudah terbukti bisa menjadi alternatif pembuangan limbah di tengah pemukiman padat penduduk, seperti yang umum ditemui di Jakarta.

“Kami hanya memberikan contoh kecil, selanjutnya pemerintah yang punya ruang untuk mengembangkan dan memperluas wilayah (penggunaan IPAL)-nya,” tambah Senait.

Senada dengan pernyataan Senait, Direktur Plan International Indonesia Myrna Remata Evora ingin komitmen menjaga dan merawat IPAL datang dari masyarakat. “Semoga IPAL bisa jadi contoh di Indonesia. Mudah-mudahan juga teknologi ini dicontoh di seluruh dunia,” ujarnya.

TAGS : IPAL Plan International Indonesia Sanitasi




TERPOPULER :