Akun twitter milik Perdana Menteri India Narendra Modi diretas dan memposting tweet meminta pengikutnya untuk menyumbang dana
Mukherjee meninggal karena beberapa kegagalan organ setelah dirawat di rumah sakit beberapa minggu lalu.
Modi mengulangi rencana untuk meningkatkan infrastruktur India dengan menghabiskan lebih dari 110 triliun rupee (USDS1,47 triliun) untuk sekitar 7.000 proyek.
Ekonomi negara terpadat kedua di dunia yang sudah lemah sebelum pandemi ke jurang kehancuran.
Seruan Modi itu datang setelah badai kritik dari partai-partai oposisi tentang kegagalan pemerintah untuk menahan kekerasan, meskipun menggunakan gas air mata, pelet dan granat asap.
Kekhawatiran AS yang menyebabkan tahun lalu untuk penangguhan akses bebas-tarif India untuk sekitar USD5,6 miliar dalam ekspor di bawah Sistem Preferensi Umum era 1970-an masih tetap.
Kaum Muslim yang memprotes undang-undang kewarganegaraan baru di negara itu adalah teroris yang harus diberi makan dengan peluru, bukan Nasi Biryani.
Kematian Zaheer, dan pembunuhan yang menyasar empat pria Muslim di lingkungan mayoritas Muslim tersebut, menyebabkan aksi protes disertai kekerasan makin intens di India.
Media lokal melaporkan pria itu mengunggah foto dirinya di media sosial dengan plakat untuk mengekspresikan ketidaksukaannya terhadap terhadap kebijakan Modi.
Banyak Muslim di India mengaku dibuat merasa seperti warga negara kelas dua sejak Modi menjabat. Beberapa kota yang dianggap memiliki nama Islami diganti, sementara beberapa buku pelajaran sekolah diubah untuk mengecilkan kontribusi Muslim ke India.