Pemilihan Presiden (Pilres) sekarang menciptakan pembelahan yang luar biasa seperti yang terjadi pada masa Orde Lama.
Pak Prabowo tidak pernah berubah, dan tidak pernah bereksperimen untuk sekedar mohon maaf, ada partai yang mengambil tokoh kanan untuk memperbesar ceruknya sendiri dan memperbesar partainya sendiri.
Terlihat Cak Imin beserta rombongan melantunkan doa-doa dengan khusyuk di depan makam Amir Hamzah tersebut.
Itu (kasus e-KTP), zaman sebelumnya Pak Jokowi. Tersangka pertama ditetapkan pada tanggal 22 April 2014 (a/n Sugiharto) jauh sebelum pak Jokowi dilantik.
Afiliasi mereka pada Gibran sebagai politisi baru sangat muda, melupakan kontroversi yang ada di pusat, akhirnya itu cukup menyentak akar rumput pemula dan muda.
Ini yang saya cemaskan. Harusnya mereka adalah cadangan bagi persatuan nasional, dan dalam posisi penjaga irama permainan agar tetap dingin.
Indonesia memerlukan sosok pemimpin yang memahami geopolitik atau dinamika goblal serta memahami keinginan negara-negara besar untuk mengendalikan atau mempersoalkan posisi Indonesia di masa yang akan datang.