Iran menuding Israel di balik sabotase fasilitas nuklir yang terjadi pada Juni lalu. Tindakan itu menyebabkan sejumlah kerusakan kecil pada bangunan, namun tidak pada peralatan nuklir.
Salah satu bentuk komitmen AS, lanjut Biden, bahwa Iran tidak akan memiliki senjata nuklir selama masa jabatannya.
Ketua parlemen Iran menegaskan bahwa Teheran tidak akan pernah menyerahkan gambar situs nuklir ke pengawas nuklir PBB, IAEA, mengingat perjanjian pemantauan dengan badan tersebut telah berakhir.
AS masih memiliki perbedaan serius dengan Iran, yang terus bernegosiasi sejak pemilihan presiden pekan lalu yang dimenangkan oleh garis keras Ebrahim Raisi.
Prioritas kebijakan luar negerinya adalah meningkatkan hubungan dengan tetangga-tetangga Iran di Teluk Arab, sambil menyerukan saingan regional Iran, Arab Saudi, untuk segera menghentikan intervensinya di Yaman.
Ebrahim Raisi mendukung pembicaraan untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir 2015. Namun dia tegas menolak pertemuan dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden, bahkan jika Washington menghapus semua sanksi.
Perdana Menteri Israel, Naftali Bennett, mendesak Amerika Serikat (AS) dan sekutunya bangkit terhadap ancaman Iran, di saat pembicaraan mengenai pembatasan nuklir Teheran terus bergulir.
Sebuah pernyataan terpisah dari Kementerian Luar Negeri Israel mengatakan pemilihan Raisi harus menimbulkan keprihatinan serius di antara komunitas internasional.
Pernyataan pada Selasa itu datang ketika Teheran dan Washington mengadakan pembicaraan tidak langsung di Wina yang bertujuan menemukan cara untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir 2015 antara Iran dan kekuatan dunia.
CNN melaporkan sebelumnya, pemerintah AS sedang menilai laporan kebocoran di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Taishan setelah perusahaan Prancis, Framatome, memperingatkan ancaman radiologi yang akan segera terjadi.