Singapura telah menyumbangkan total 122.400 dosis vaksin AstraZeneca COVID-19 ke Batam dan Kepulauan Riau di Indonesia.
Bulan lalu, Thailand mengatakan sedang berusaha meminjam 150.000 dosis vaksin AstraZeneca dari Bhutan di tengah kekurangan pasokan di negara itu.
Keputusan untuk memasukkan mereka yang berusia antara 50 dan 59 tahun datang setelah rekomendasi dari Komite Ahli tentang Vaksinasi COVID-19.
Menilik kasus Singapura ini semestinya Pemerintah tidak mengendorkan program pembatasan mobilitas masyarakat. Apalagi tingkat vaksinasi kita baru mencapai 28 persen.
Saat ini rasio kredit untuk segmen UMKM di Indonesia masih di kisaran 20 persen. Bahkan lebih rendah dibandingkan negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, maupun Thailand. Padahal sektor UMKM ini sangat penting dalam menggerakkan perekonomian dan menyerap tenaga kerja
Sekitar 140.000 manula akan diundang melalui SMS untuk membuat janji untuk dosis booster mereka di pusat vaksinasi, poliklinik atau klinik kesiapsiagaan kesehatan masyarakat yang berpartisipasi.
Dari anak-anak yang terinfeksi, 50 kasus berusia nol hingga satu tahun, 83 berusia antara dua hingga empat tahun, 76 berusia lima hingga enam tahun, dan 158 berusia antara tujuh hingga 12 tahun.
PT Jhonlin Baratama melalui Agus diduga menyuap dua mantan pejabat di Ditjen Pajak sebesar 3 juta dolar Singapura atau sekitar Rp39 miliar.
Positive rate di Indonesia juga relatif masih lebih tinggi, masih di angka 5 persen. Padahal di Singapura dan Korea Selatan lebih kecil dari itu. Dari segi coverage vaksinasi. Korea Selatan sudah mencapai 58 persen penduduk, bahkan Singapura sudah 78 persen penduduk. Kita masih jauh, baru sekitar 35 persen.