Dengan merujuk kepada keteladanan para Wali dan Ulama-Ulama Pejuang yang adalah Bapak-Bapak Bangsa, maka Islam yang kita yakini dan ajarkan adalah Islam Ahlul Sunnah Wal Jamaah dengan beragam variannya.
Program sertifikasi dai layak ditolak karena diskriminatif, hanya ditujukan bagi penceramah agama Islam (Da’i).
Gus Jazil mengajak peserta untuk menelaah sebagai pembelajaran bagus, pidato pembukaan Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari ketika Muktamar NU Ke-17 di Madiun Tahun 1947 seputar `menghidupkan kembali perilaku orang-orang mulia`.
para dai atau juru dakwah memahami realita tentang Indonesia. Baik ideologi, dasar negara, konstitusi, maupun semboyannya. Karena para Juru Dakwah (Da’i) berada di Indonesia, WNI dan berdakwah untuk Umat Islam di Indonesia.
Menurut Zainut, program dai dan penceramah bersertifikat merupakan program yang sudah sering dilakukan oleh ormas-ormas Islam, yang bertujuan untuk meningkatkan kompetensi dan kualitas dai agar memiliki bekal dalam melaksanakan tugasnya.
Peluang ini mengilhami dai muda yang sedang naik daun, Ustad Kasif Heer untuk mencoba peruntungan di sektor tersebut.
para ulama adalah bagaimana MUI lewat pada ustadz, dai di berbagai daerah bisa menyampaikan pesan tentang pentingnya protokol kesehatan.
Melihat tampilan dan racikan kuliner dai chef profesional jelas menggoda. Bagaimana rasanya ?
Ceramah seorang dai selain berbasis pada keilmuan, harus berorientasi pada perdamaian dan persatuan.
UAS adalah dai yang selama ini memang banyak masyarakat menjadi pendengarnya. Ia bukan pimpinan pondok pesantren, pimpinan umat, ataupun pimpinan Ormas Islam.