Keputusan negara-negara Eropa tunduk pada taktik dominan Presiden AS, Donald Trump terhadap kesepakatan nuklir Iran hanya berhasil membangkitkan selera makan pasangan Melania itu.
Negara yang tidak mematuhi persyaratan keamanan, termasuk biometrik, berbagi informasi dan tindakan anti-terorisme, menghadapi risiko pembatasan imigrasi AS.
Setelah diresmikan pada 2016, Presiden AS Donald Trump secara kontroversial mendorong melalui larangan menangguhkan penerbitan visa imigran dan non-imigran bagi pelamar dari negara-negara mayoritas Muslim di Iran, Libya, Somalia, Suriah, dan Yaman.
Dalam dua tahun tarakhir, Korea Utara sudah berani mengambil langkah sepihak, termasuk menghentikan uji coba nuklir dan misilnya, demi membangun kepercayaan AS. Sebaliknya, Washington justru menodong Pyongyang.
Anggota parlemen Irak sedang mencari senjata dengan imbalan pengiriman minyak Irak, mirip dengan perjanjian minyak untuk rekonstruksi yang ditandatangani dengan China baru-baru ini.
Trump yang merupakan jebolan dari partai Republik sejauh ini tetap menantang. Presiden AS yang ke 45 itu mengklaim tidak ada alasan hukum untuk memakzulkannya.
Kematian Soleimani meningkatkan ketegangan antara AS dan Iran secara dramatis, meskipun selama ini hubungan kedua negara sering memanas sejak 2018.
Ayatollah Ali Khamenei juga mengatakan kepada makmum yang meneriakkan "Matilah Amerika" bahwa Garda elite itu dapat bertarung di luar perbatasan Iran
Trump juga mendesak penandatangan lain, terutama negara-negara E3, untuk keluar dari kesepakatan tersebut.
Rouhani mendorong seluruh dunia, untuk mengutuk Presiden Trump yang melakukan tindakan yang salah tersebut.