Semangat nasionalisme dan Islam di Indonesia akhir-akhir ini mendapatkan tantangan. Paling tidak ada dua tantangan besar yang membuat semangat kebangsaan menjadi problematik.
Jika umat bisa digerakan semua, Indonesia pasti bisa menguasai dunia, menjadi negara super power.
MoU dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) merupakan pertama dalam catatan sejarah di bawah pemerintahan Jokowi-Jk.
Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto menyatakan siap untuk tidak maju sebagai calon presiden (Capres) pada Pilpres 2019. Hal itu jika Prabowo tidak dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia.
Dihadapan 800 orang peserta pembukaan ijtimak ulama dan tokoh nasional, Ketua MPR RI Zulkifli Hasan menegaskan, kemerdekaan Indonesia adalah buah dari perjuangan dan pengorbanan para ulama. Itu dibuktikan dengan banyaknya ulama yang menjadi pahlawan. Antara lain, Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, KH. Ahmad Dahlan hingga Hasyim Asy`ari
Cak Imin sapaan Muhaimin mengingatkan makna penting kebhinekaan Indonesia sebagai sebuah keniscayaan yang tidak bisa dipungkiri.
Ombudsman Republik Indonesia (ORI) masih menjumpai banyak masalah dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB) tahun ini.
Kirab Obor Asian Games 2018 juga bertujuan untuk mempromosikan pariwisata Indonesia dan NTB merupakan salah satu unggulannya.
Jayakarta Symphony Onchestra akan menggelar konser gelanggar Indonesia untuk membakar semangat para atlet Indonesia.
Sementara pendidikan Indonesia dewasa ini membutuhkan output yang sebaliknya.