Rusia mengutuk serangan teroris di bandara Kabul Afghanistan yang menewaskan sedikitnya 90 orang termasuk 13 tentara Amerika Serikat.
Serangan tersebut dilakukan sehari setelah bom bunuh diri di bandara Kabul, yang menewaskan 13 tentara AS dan sejumlah warga sipil Afghanistan.
Dua ledakan menghantam gerbang bandara Kabul yang padat pada Kamis (26/8), menewaskan 13 pasukan Amerika Serikat dan 60 warga Afghanistan, serta melukai ratusan orang lainnya.
Pembom bunuh diri menyerang kerumunan orang yang berkumpul di luar bandara Kabul berharap untuk melarikan diri dari Afghanistan yang dikuasai Taliban.
Dia menegaskan kembali batas waktu 31 Agustus bagi semua pasukan AS untuk meninggalkan Afghanistan dan mengatakan pasukan AS akan menerbangkan sebanyak mungkin orang sebelum tanggal itu.
Video yang direkam oleh wartawan Afghanistan menunjukkan puluhan mayat berserakan di sekitar kanal di tepi bandara. Saksi mata mengatakan, setidaknya dua ledakan mengguncang daerah itu.
Seruan itu datang ketika Amerika Serikat dan sekutunya mendesak warga Afghanistan untuk meninggalkan bandara Kabul, dengan alasan ancaman serangan ISIS.
Selama aksi berlangsung, pengunjuk rasa Palestina berusaha merebut senapan penembak jitu Zionis Israel.
Mantan striker Inter Milan kembali ke Stamford Bridge setelah 10 tahun, untuk lebih meningkatkan serangan klub pemegang gelar Liga Champions itu.
Setelah serangan itu, warga Afghanistan mulai merasa takut akan terulangnya perlakuan kejam yang terkenal yang dijatuhkan kepada perempuan selama periode terakhir pemerintahan Taliban.