Penembakan Senin yang disebut Korea Selatan rudal balistik jarak pendek menandai uji coba senjata keempat Korea Utara bulan ini saat Pyongyang mengerahkan kekuatan militernya sambil mengabaikan tawaran pembicaraan dari Amerika Serikat (AS).
Dalam waktu kurang dari dua minggu, Korea Utara yang bersenjata nuklir telah melakukan tiga uji coba rudal lainnya, serangkaian peluncuran yang luar biasa cepat.
Tiga hakim Pengadilan Federal mendengar argumen pengacara pemerintah bahwa kehadiran Djokovic yang terus-menerus berisiko mengobarkan sentimen anti-vaksinasi selama wabah terburuk COVID-19 di Australia sejak pandemi dimulai.
Ini menandai uji coba senjata ketiga Korea Utara pada bulan ini, yang memicu dorongan Amerika Serikat (AS) untuk menjatuhkan sanksi baru terhadap negara tersebut.
Korea Utara (Korut) kembali melakukan uji coba rudal pada Jumat (14/1), peluncuran ketiga dalam waktu satu minggu terakhir.
Panel ahli Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang memantau sanksi terhadap Korea Utara menuduh Pyongyang menggunakan dana curian untuk mendukung program nuklir dan rudal balistiknya guna menghindari sanksi.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Korea Utara yang tidak disebutkan namanya membela peluncuran rudal hipersonik Korea Utara baru-baru ini sebagai latihan pertahanan diri yang benar.
Sanksi tersebut menargetkan enam warga Korea Utara, satu orang Rusia dan satu perusahaan Rusia yang menurut Washington bertanggung jawab atas pengadaan barang untuk program tersebut dari Rusia dan China.
Kim mendesak para ilmuwan militer untuk lebih mempercepat upaya membangun kekuatan militer strategis negara itu baik dalam kualitas maupun kuantitas dan lebih jauh memodernisasi tentara.