https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Ketua MPR: Yang Sebut Pekikan Takbir Itu Radikal Ngawur

Supianto | Minggu, 06/05/2018 05:30 WIB



Sangat keliru dan sangat ngawur jika sampai ada yang mempersepsikan Islam sebagai intoleran dan radikal. Zulkifli Hasan (Zulhasan) saat memberikan keynote speech di hadapan ratusan Pimpinan dan anggota Persatuan Tarbiyah Islamiyah, Sabtu (5/5)

Jakarta - Kemerdekaan Indonesia diperoleh atas ijin Tuhan Yang Maha Esa berkat perjuangan keras berbagai elemen bangsa, salah satunya adalah perjuangan para ulama dan umat Islam.  Pekik takbir Allahu Akbar, Allahu Akbar dibarengi dengan teriakan Merdeka, sahut menyahut menggema mengiringi perjuangan.

Bahkan, Hadratussyekh KH. Hasyim Asy`Ari mengeluarkan fatwa fenomenal jihad untuk perjuangan merebut kemerdekaan melawan penjajah.  Serta seorang tokoh Islam Mohammad Natsir mengeluarkan Mosi Integral sehingga Indonesia kembali ke NKRI tidak lagi berserikat atau negara bagian.

Hal tersebut diungkapkan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Zulkifli Hasan (Zulhasan) saat memberikan keynote speech di hadapan ratusan Pimpinan dan anggota Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Tarbiyah - Perti) dalam acara Tasyakuran Milad ke-90 Tarbiyah Perti dan Sosialisasi Empat Pilar MPR, di ballroom Twin Plaza Hotel Jakarta, Sabtu (5/5).

Baca juga :
Pelantikan Pengurus PAN se-Jatim, Viva Yoga Dorong Kader Jaga Soliditas

Melihat fakta sejarah tersebut, lanjut  Zulhasan, maka sangat keliru dan sangat ngawur jika sampai ada yang mempersepsikan Islam sebagai intoleran dan radikal.

"Pekikan takbir Allahu Akbar memang sejak dulu digunakan sebagai pemompa semangat para pejuang Indonesia melawan penjajah.  Jadi dimana logikanya kalau ucapan takbir itu adalah radikal tidak benar itu," ungkap Zulkifli Hasan.

Baca juga :
SPPG Diingatkan Wajib Serap Produk Pangan Desa untuk Saling Menguatkan

"Bahkan era kebangkitan Islam seperti Persis, Perti, SI, Al Wasliyah disusul Muhammadiyah, NU dan lainnya yakni kesadaran untuk maju dalam organisasi dan perekonomian sudah muncul jauh sebelum kebangkitan nasional seperti Boedi Oetomo dan Sumpah pemuda lahir, " sambungnya.

Berbicara soal Indonesia dan penjajah dan lamanya indonesia dijajah, menurut Zulhasan, itu tak lepas dari kurang awasnya rakyat Indonesia terhadap siasat ado domba penjajah.  Indonesia mudah sekali diadu domba antar sesama sehingga penjajah yang tadinya hanya berdagang menjadi tergoda untuk menjajah.

Baca juga :
MPR Terapkan WFH-WFA dan Pembatasan Listrik Mulai 1 April

"Alhamdulillah lama kelamaan kesadaran mulai muncul dengan munculnya banyak organisasi Islam dan kebangkitan nasional dan kesadaran itu semestinya terus terjaga hingga kini apalagi di tahun politik," ujarnya.

Untuk itulah Zulhasan mengajak Perti dan seluruh umat Islam dan elemen bangsa lainnya untuk memperkuat persatuan serta kesatuan bangsa.  Jangan sampai mudah lagi diadu domba hingga terkoyak dan terjajah seperti dulu.

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Warta MPR Zulkifli Hasan radikal Tarbiyah Islamiyah

Terpopuler

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777