Senin, 04/07/2022 01:38 WIB

Angka Stunting Indonesia Masih Tinggi, BKKBN Luncurkan Dashat

Dashat merupakan kegiatan pemberdayaan masyarakat dalam upaya pemenuhan gizi seimbang bagi keluarga berisiko stunting yang memiliki calon pengantin, ibu hamil, ibu menyusui, baduta/balita stunting terutama dari keluarga kurang mampu.

Logo Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). (Foto: Supianto/ Jurnas.com)

Cibinong, Jurnas.com - Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) meluncurkan Dapur Sehat Atasi Stunting (Dashat) di Auditorium Pemerintah Kabupaten Bogor, Jumat, (20/8). Hal ini dilakukan sebagai salah satu upaya percepatan penurunan angka prevalensi stunting.

"Stunting sangat penting untuk diatasi karena angkanya di Indonesia masih sangat tinggi," kata Kepala BKKBN, Hasto Wardoyo dalam sambutannya secara daring, Jumat (20/8).

BKKBN ditunjuk sebagai Ketua tim pelaksana percepatan stunting. Presiden dalam pidato tanggal 16 Agustus mengatakan, penurunan stunting harus dilakukan melalui perluasan cakupan seluruh Kabupaten Kota dan harus melibatkan, integrasi lintas institusi.

Hasto mengatakan, Dashat akan ada pada setiap Kampung Keluarga Berkualitas (Kampung KB) dan menjadi pusat gizi serta pelayanan pada anak stunting. "BKKBN bersama para ahli gizi telah menyusun menu sehat dengan konsep produk lokal karena sekaligus memberdayakan dan mensejahterakan masyarakat sendiri," ujar Hasto.

Dashat merupakan kegiatan pemberdayaan masyarakat dalam upaya pemenuhan gizi seimbang bagi keluarga berisiko stunting yang memiliki calon pengantin, ibu hamil, ibu menyusui, baduta/balita stunting terutama dari keluarga kurang mampu.

Sementara Bupati Bogor, Ade Yasin menjelaskan, Kabupaten Bogor memiliki jumlah penduduk sangat besar 5,5 juta jiwa, terbesar di Indonesia dengan angka stunting di bogor sendiri masih 12,6 persen

"Kita menargetkan akhir tahun ini bisa 10 persen, saya minta petugas posyandu untuk terus memantau ke rumah-rumah warga yang sedang hamil atau menyusui dan memiliki balita," ujarnya.

Ade juga menyampaikan bahwa kegiatan posyandu selama pandemi sempat terhambat, namun kegiatan pemantauan tumbuh kembang balita melalui bulan penimbangan dan pemberian vitamin A tetap dilakukan.

"Tumbuh kembang balita sangat ditentukan juga oleh asupan makanan yang diberikan sehingga melalui intervensi spesifik dan sensitif menjadi penting," ujar Ade.

Kegiatan Dashat sendiri mencakup edukasi perbaikan gizi dan konsumsi pangan ibu hamil, ibu menyusui, serta balita. Dalam hal ini, masyarakat akan diberi sosialisasi terkait pangan lokal yang terjangkau, bercita rasa, dan bergizi baik dan dipadukan dengan berbagai kegiatan kemitraan. Melalui model pengelolaan sosial, komersial dan kombinasi.

Deputi Bidang Pengendalian Peduduk, Dwi Listyawardani menjelaskan, penyebab masalah stunting adalah kondisi kesehatan yang tidak optimal dan asupan nutrisi yang tidak optimal.

"Dengan adanya Dashat, kami berharap setiap ibu hamil, ibu yang hendak hamil, dan ibu menyusui lebih diperhatikan asupan nutrisinya sehingga terlahir generasi penerus yang optimal, sehat dan berkualitas," jelas Dani

Deputi Bidang Pengendalian Penduduk BKKBN, Dwi Listyawardani berharap dengan Dashat permasalahan stunting yang terjadi di daerah-daerah dapat diatasi dan persiapan ibu hamil dalam melahirkan anak yang sehat dapat dilakukan.

Peluncuran Dashat juga diikuti secara daring perwakilan Kampung Keluarga Berkualitas dari Provinsi Jawa Barat, Sumatera Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Barat, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

TAGS : Dapur Sehat Atasi Stunting BKKBN Hasto Wardoyo Ade Yasin




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :