Rabu, 22/09/2021 04:22 WIB

BKKBN: Angka Prevalensi Stunting di Indonesia Masih Cenderung Tinggi

Indonesia masih punya pekerjaan rumah mendasar dalam peningkatan kualitas SDM.

Logo Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). (Foto: Supianto/ Jurnas.com)

Jakarta, Jurnas.com - Deputi Bidang Pengendalian Penduduk, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Dwi Listyawardani mengatakan, peningkatan kualitas sumber daya manusia (AS) adalah bagian yang strategis untuk mewujudkan Indonesia yang mandiri, maju dan makmur.

Pada acara Exploring Future Collaboration In Reducing Stunting In Indonesia yang terselenggara atas kerja sama BKKBN RI bersama Kementerian Luar Negeri RI, Jakarta, Senin (2/8), Dwi mengatakan, SDM berkualitas akan mampu memenuhi kebutuhan dan kemajuan bangsa.

"Pembangunan SDM Indonesia harus dilakukan secara berkesinambungan dalam kerangka siklus hidup manusia, yang dimulai sejak dalam kandungan sampai lanjut usia," jelas Dwi.

Menurut Dwi, stunting merupakan ancaman terhadap kualitas sumber daya manusia. Indonesia masih punya pekerjaan rumah mendasar dalam peningkatan kualitas SDM.

"Data Riskesdas menunjukkan bahwa 1 dari 3 anak Indonesia mengalami stunting, dan saat ini sudah dipetakan wilayah-wilayah yang angka prevalensi stunting tinggi, yaitu di 6.600an desa yang tersebar di 360 kabupaten/kota," kata Dwi.

Saat ini angka prevalensi stunting di Indonesia masih cenderung tinggi yaitu sebesar 27.67 persen pada 2020. Amanat Presiden Joko Widodo dalam rapat kabinet terbatas pada akhir Januari yang lalu adalah menurunkan angka stunting menjadi 14 persen di tahun 2024.

Dwi menyampaikan, upaya mengurangi angka stunting perlu dilakukan secara timbal balik melalui hubungan secara vertikal maupun horizontal, yaitu melalui pemerintah maupun tanggung jawab bersama antar masyarakat.

"Derajat penurunan angka Stunting dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya: lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan. Untuk memenuhi seluruh faktor tersebut diperlukan pelayanan kesehatan yang menyeluruh, lingkungan yang sehat baik lingkungan tempat tinggal, pendidikan dan pekerjaan, serta perilaku hidup sehat. Kesemuanya ini harus dilaksanakan secara berkesinambungan untuk mewujudkan penurunan angka Stunting di Indonesia," ungkap Dwi.

Sementara itu, Deputi Bidang Pelatihan, Penelitian, dan Pengembangan BKKBN, Muhammad Rizal Damanik menguraikan beberapa upaya yang telah dilaksanakan khususnya di BKKBN di antaranya adalah; (1) Membentuk Satgas Pengurangan Stunting; (2) 100 profesor berbicara Stunting yang telah dilaksanakan di 34 provinsi; (3) Ambassador Talks untuk mendapatkan pengetahuan dan wawasan dari komunitas internasional yang diharapkan dapat bermanfaat untuk mengatasi kasus stunting di Indonesia dan untuk menjajaki potensi kerjasama; (4) Untuk memiliki data berbasis bukti, kami melakukan penelitian; (5) Kami juga bekerja sama dengan mitra dan akademisi untuk melakukan penelitian tentang stunting; (6) Kami juga melakukan berbagai kegiatan webinar yang melibatkan komunitas hingga tingkat masyarakat umum; (7) Kami juga sedang mengadakan Training for Provider; (8) Upaya penting lainnya adalah menjajaki potensi kerjasama dengan mitra nasional dan internasional.

"BKKBN juga telah menandatangani beberapa MoU tentang Program Pengurangan Stunting. Saat ini kami juga sedang mengembangkan DAHSYAT (Dapur Sehat Atasi Stunting)," ungkap Rizal.

DAHSYAT bertujuan untuk menjamin ketersediaan dan akses makanan sehat bagi anak stunting, khususnya ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, serta peningkatan pengetahuan terkait gizi seimbang, terutama untuk keluarga yang berisiko stunting dan juga Food Bank.

TAGS : BKKBN Stunting Indonesia




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :