Senin, 27/09/2021 01:27 WIB

Banjir Jerman dan Belgia Contoh Dampak Perubahan Iklim

Akibat hujan lebat, tepi sungai jebol hingga masuk ke pemukiman masyarakat, meruntuhkan menara telepon, dan merobohkan rumah-rumah di sepanjang jalan. Setidaknya 157 orang tewas dan ratusan lainnya hilang per Sabtu.

Bencana banjir di Jerman (Foto BBC)

Brussels, Jurnas.com - Sejumlah ilmuwan masih meneliti fenomena hujan ekstrim pemicu bencana banjir bandang, yang melanda Jerman barat dan Belgia akhir-akhir ini.

Kendati demikian, dikutip dari BBC pada Sabtu (17/7), sudah lama para ilmuwan menegaskan bahwa perubahan iklim akan menyebabkan hujan lebat.

"Banjir selalu terjadi, dan itu seperti peristiwa acak, seperti melempar dadu. Tapi kami telah mengubah kemungkinan melempar dadu," kata Ralf Toumi, ilmuwan iklim di Imperial College London.

Akibat hujan lebat, tepi sungai jebol hingga masuk ke pemukiman masyarakat, meruntuhkan menara telepon, dan merobohkan rumah-rumah di sepanjang jalan. Setidaknya 157 orang tewas dan ratusan lainnya hilang per Sabtu.

Diketahui, secara umum kenaikan suhu global rata-rata sekarang sekitar 1,2 derajat celcius di atas rata-rata masa pra-industri, membuat hujan lebat lebih mungkin terjadi menurut para ilmuwan.

Udara yang lebih hangat menahan lebih banyak kelembapan, yang berarti lebih banyak air akan dilepaskan pada akhirnya. Lebih dari 15 sentimeter (6 inci) hujan merendam kota Cologne di Jerman pada Selasa dan Rabu lalu.

"Ketika kita mengalami hujan deras, maka atmosfernya hampir seperti spons. Anda memeras spons dan air mengalir keluar," kata Johannes Quaas, profesor Meteorologi Teoretis di Universitas Leipzig.

Kenaikan suhu rata-rata global 1 derajat meningkatkan kapasitas atmosfer untuk menahan air sebesar 7 persen, kata para ilmuwan iklim, meningkatkan kemungkinan terjadinya hujan lebat.

Faktor lain termasuk geografi lokal dan sistem tekanan udara juga menentukan bagaimana area tertentu terpengaruh.

TAGS : Bencana Alam Banjir Jerman Perubahan Iklim




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :