Senin, 26/07/2021 01:46 WIB

BKKBN Kerja Sama Jepang Turunkan Stunting dan Masalah Lansia

Jepang dapat bersaing secara sumber daya manusia dengan negara-negara di Eropa. Selain itu, Jepang dikenal sebagai negara yang mampu mengatasi masalah lansia.

Kepala BKKBN, Hasto Wardoyo. (Foto: Ist)

Jakarta, Jurnas.com - Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mendapatkan amanah dari Presiden Joko Widodo menjadi Koordinator Pelaksanaan untuk percepatan pencegahan stunting di Indonesia. Prevalensi stunting di Indonesia berada pada peringkat 108 dari 132 negara berdasarkan data Global Nutrition Report 2016.

Target penurunan prevalensi stunting di Indonesia diselaraskan dengan target global, yaitu target World Health Assembly (WHA) untuk menurunkan prevalensi stunting sebanyak 40% pada tahun 2025 dari kondisi tahun 2013.

Sebagaimana diketahui dari hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 bahwa penurunan prevalensi Stunting balita di tingkat nasional sebesar 6,4% selama periode 5 tahun, yaitu dari 37,2% (2013) menjadi 30,8% (2018).

Selain itu, target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/ Sustainable Development Goals (TPB/SDGs) adalah menghapuskan semua bentuk kekurangan gizi pada tahun 2030.

Sedangkan berdasarkan hasil Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) tahun 2019, saat ini telah terjadi penurunan prevalensi stunting dari 30,8% pada tahun 2018 (Riskesdas 2018) menjadi 27,67% tahun 2019.

Kepala BKKBN, Hasto Wardoyo menjelaskan, target penurunan angka stunting di Indonesia pada tahun 2024 di angka 14%, sedangkan Jepang memiliki angka Stunting 7,1% Tahun 2014 (kemkes.go.id, 2020).

Untuk itu dalam penaganan stunting, Indonesia diharapkan dapat mengambil best practices dari Jepang yang giat dalam meningkatkan gizi rakyatnya dengan konsumsi ikan dan pola asuh kepada balitanya. Jepang dapat bersaing secara sumber daya manusia dengan negara-negara di Eropa. Selain itu, Jepang dikenal sebagai negara yang mampu mengatasi masalah lansia.

"Salah satu fokus Program BKKBN adalah membangun ketahanan dan kesejahteraan antarkeluarga. Karena itu, BKKBN menjalankan pelaksanaan programnya sesuai dengan pendekatan siklus hidup manusia yang tahapannya adalah mulai dari janin, neonatal, bayi, anak usia sekolah, remaja, dewasa, dan lanjut usia," ujar Hasto saat membuka acara Ambassador Talks: Redefining Population Dynamic of Elderly by Improving Nutrition Status to Prevent Stunting at Early Ages bertempat di Hotel Westin, Jakarta (27/5).

Hasto mengatakan, beberapa permasalahan yang ada di Indonesia yang dapat menyebabkan stunting pada anak antara lain tingginya jumlah ibu hamil muda yang menderita anemia, bayi lahir dengan berat dan panjang rendah, bayi lahir prematur, perempuan menikah pada usia muda 10-19 tahun, dan kehamilan dengan jarak kurang dari 2 tahun atau 24 bulan.

"Persentase penduduk lanjut usia di Indonesia terus meningkat, angka ini berbanding terbalik dengan persentase penduduk balita yang cenderung menurun. Persentase penduduk lanjut usia menunjukkan struktur penduduk Indonesia yang mulai mengalami penuaan mulai tahun 2020 diperkirakan mencapai lebih dari 10 persen. Bahkan dari hasil proyeksi Badan Pusat Statistik, diperkirakan pada tahun 2045 jumlah lansia di Indonesia akan mencapai hampir seperlima dari total penduduk Indonesia. Perubahan struktur usia terjadi karena adanya perubahan pada tiga aspek penduduk, yaitu kesuburan, kematian, dan migrasi," kata Hasto.

"Penduduk lanjut usia terus mengalami peningkatan sejalan dengan kemajuan di bidang kesehatan yang ditandai dengan peningkatan angka harapan hidup dan penurunan angka kematian. Perkembangan demografis ini dapat berdampak pada kesehatan, ekonomi dan sosial. Untuk itu, diperlukan data terkait keberlanjutan sebagai bahan pemetaan dan strategi kebijakan agar pertumbuhan penduduk lanjut usia menjadi potensi yang membantu membangun bangsa," tambahnya.

Pada kesempatan yang sama Deputi Bidang Pelatihan, Penelitian dan Pengembangan BKKBN, Muhammad Rizal Martua Damanik mengatakan, sekitar 60,96 persen lansia masih memiliki pasangan atau sudah menikah pada tahun 2020, sedangkan sisanya belum memiliki pasangan, baik karena belum menikah, bercerai, maupun hidup sebagai janda yang ditinggal mati oleh suami.

"Tidak ada perbedaan yang signifikan antara persentase status perkawinan lanjut usia di perkotaan dan perdesaan (60,42 persen berbanding 61,56 persen). Berdasarkan jenis kelamin, persentase lansia pria kawin (81,77 persen) dua kali lipat persentase lansia wanita kawin (41,97 persen). Kondisi ini dimungkinkan mengingat pria biasanya tidak bisa memenuhi kebutuhannya sendiri, sehingga membutuhkan pendamping untuk membantu mereka. Dapat dikatakan bahwa ada kecenderungan pria yang lebih tua untuk menikah lagi setelah pasangannya meninggal," kata Rizal

Deputy Chief of Mission Embassy of Indonesia in Tokyo, Japan, Tri Purnajaya menyebutkan, perbandingan Penduduk Berdasarkan usia antara Indonesia dan Jepang; berdasarkan Hasil Sensus Penduduk Tahun 2020 total penduduk Indonesia sebanyak 270,20 juta jiwa yang mana jumlah usia produktif lebih mendominasi sebanyak 70,7 persen dari total penduduk; usia 0-14 sebanyak 19,6 persen dari total penduduk; dan usia diatas 65 sebanyak 9,8 persen dari total penduduk, sedangkan berdasarkan Statistic Bureau Home Japan 2021 total penduduk Jepang 125,36 juta jiwa yang mana jumlah usia produktif penduduk Jepang lebih sedikit dibanding usia produktif penduduk Indonesia yaitu hanya sebesar 59,2 persen dari total penduduk; usia 0-14 tahun sebanyak 12 persen dari total penduduk; dan 28,8 persen di atas usia 65 tahun, nilai ini lebih besar dari jumlah lansia penduduk Indonesia.

TAGS : BKKBN Jepang Stunting Hasto Wardoyo Masalah Lansia




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :