Sabtu, 19/06/2021 19:24 WIB

Mendikbudristek Tekankan Nilai Toleransi Beragama

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim menekankan pentingnya mengedepankan toleransi beragama di Indonesia.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim (Foto: YouTube)

Jakarta, Jurnas.com - Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim menekankan pentingnya mengedepankan toleransi beragama di Indonesia.

Saat ini, di samping menjalankan ibadah puasa Ramadan, masih ada hal lain yang harus dilakukan.

"Kita harus menjaga hubungan baik dengan sesama manusia, terlepas dari latar belakang agama dan golongan," tutur Mendikbudristek dalam webinar bertajuk `Puasa, Kemanusiaan, dan Toleransi` pada Sabtu (8/5).

Ibadah puasa, dikatakan Mendikbudristek, juga merupakan praktik beragama yang dijalankan banyak umat.

"Teman-teman kita beragama Hindu juga berpuasa wajib di hari besar. Jelang Paskah, teman-teman Kristen juga beribadah puasa. Oleh karena itu, toleransi adalah nilai karakter yang harus dijalankan sebagai bagian hidup kebangsaan," kata Nadiem.

"Saya yakin kita semua ingin menjalankan ibadah dengan tenang dan belajar tanpa paksaan, serta menjalin pertemanan dengan siapa saja. Tanamkan dalam benak kita rasa cinta terhadap perbedaan, lalu tularkan pada sekitar kita, agar semua orang punya hak yang sama dalam beragama, belajar, dan berkarya. Mari sama-sama kita wujudkan Indonesia yang bebas dari intoleransi yang akan mengakslerasi kemajuan bangsa kita," imbuh dia.

Senada dengan Nadirm, ulama milenial Habib Husein Jafar Al-Hadar mengungkapkan bahwa puasa mengajarkan kemanusiaan dan toleransi.

"Puasa mengajarkan kita untuk lapar. Agar meskipun kita kuat beli makanan, kita rasakan sebulan ini beratnya jadi orang lapar. Kita belajar untuk tidak tega membiarkan orang lapar, selama kita masih bisa membantu," ujar Habib Husein.

Habib Husein juga menekankan pentingnya penghayatan iman dalam berpuasa.

"Kita belajar tidak mudah marah pada orang lain. Ciri orang sukses puasa adalah bertakwa. Ciri orang bertakwa, kata Allah dalam surat Al-Imran, adalah tidak mudah marah, memaafkan orang lain yang membuat dia marah, dan bukan hanya itu saja, tapi malah memberi sedekah kepada orang yang membuat dia marah," terang dia.

"Kita berbeda dalam cara dan waktu puasanya. Itu kebenarannya. Tapi, dalam kebaikannya kita sama. Sama-sama diajarkan berpuasa untuk menumbuhkan empati sosial kepada orang yang membutuhkan," imbuh Habib Husein.

Habib Husein mengungkapkan pernah mengalami perundungan, hanya karena keturunan Arab dan pernah mengalami jadi ras minoritas di sekolah.

"Dulu juga saya sedih dan marah. Tetapi ini mengajarkan saya berempati dan mengubah perilaku jadi lebih saling mengerti dan menerima perbedaan," terang dia.

Sebagai contoh, beberapa bentuk intoleransi di dunia pendidikan adalah: tidak memberi sarana prasarana bagi guru, siswa, mahasiswa, dan dosen karena perbedaan SARA dan kepercayaan, melarang ibadah agama tertentu di lingkungan sekolah atau kampus, dan memaksa pemakaian seragam atau atribut khas agama atau suku dan kepercayaan tertentu. Selain itu, menolak pendaftaran pendidik dan peserta didik karena alasan perbedaan SARA juga merupakan bentuk intoleransi.

Kepala Pusat Penguatan Karakter Hendarman yang hadir secara langsung mengapresiasi jalannya acara hari ini.

Acara hari ini merupakan bagian dari serial Ramadan Puspeka 1442 Hijriyah, yang kali ini bertemakan `Puasa, Kemanusiaan, dan Toleransi`.

Antusiasme Sahabat Karakter, sapaan Puspeka pada warga pendidikan seluruh Indonesia, sangat tinggi dengan jumlah pendaftar lewat membludak hingga delapan ribu orang. Sebelumnya, acara dilangsungkan secara luring terbatas dengan protokol kesehatan dan telah dilaksanakan swab antigen bagi seluruh pengisi dan panitia acara untuk dapat masuk ke studio.

"Kita belajar banyak dari Habib Husein dan Abdur, walau dengan canda-canda yang membuat kita terbahak-bahak. Mereka menyadarkan kita untuk mengedepankan sikap toleran dalam lingkungan keluarga dan bermasyarakat. Tindakan intoleran harus kita pinggirkan dan tuntaskan. Tidak boleh ada. Itu semua di mulai dari dunia pendidikan. Ini tantangan besar kita," jelas Hendarman.

"Gerakan penuntasan intoleransi harus jadi salah satu prioritas Kemendikbudristek seperti disampaikan Mas Menteri. Di samping itu, kita juga harus menuntuskan perundungan dan kekerasan seksual, yang semuanya kita rajut dalam narasi Tiga Dosa Besar dalam Dunia Pendidikan. Kita menginginkan lingkungan pendidikan yang aman dan nyaman. Ini harapan kita semua agar kemanapun kita berada, kita lebih aman dan nyaman untuk berkarya bagi negara kita," sambung dia.

Kapuspeka Hendarman juga bersyukur acara hari ini telah dibuka oleh Mendikbudristek.

"Terima kasih Mas Menteri yang sudah membuka webinar hari ini. Untuk pertama kalinya pembukaan dilakukan oleh Mas Menteri. Ini luar biasa sekali. Terima kasih juga pada narasumber dan bintang tamu yang telah menyemarakkan acara hari ini dengan pesan-pesan dan harapan dari seluruh pengisi acara," ujar Hendarman.

TAGS : Mendikbudristek Nadiem Anwar Makarim Toleransi




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :