Kamis, 06/05/2021 04:50 WIB

Kementan Ingatkan Petani Tak Berlebih Gunakan Pupuk

Pemupukan yang berimbang adalah pemberian sejumlah pupuk yang sesuai kebutuhan tanaman agar terjadi keseimbangan hara di dalam tanah, sehingga tercapai kondisi yang kondusif untuk pertumbuhan tanaman.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi saat memberikan sambutan virtual di acara Launching Program Better Lifa Farming (BLF) untuk Kesejahteraan Pertani Indonesia, Jakarta, Kamis 10 Desember 2020. (Foto: Tankap layar/supianto/jurnas)

Jakarta, Jurnas.com - Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Kementerian Pertanian (Mentan), Dedi Nursyamsi mengimbau petani agar menggunakan pemupukan secara berimbang.

Imbauan itu disampaikan pada acara Training Of Trainer (TOT) tentang "Pemupukan Berimbang Tingkatkan Produktivitas dan Daya Saing Pertanian", yang digelar secara virtual, Jakarta, Jumat (23/4).

Pemupukan yang berimbang adalah pemberian sejumlah pupuk yang sesuai kebutuhan tanaman agar terjadi keseimbangan hara di dalam tanah, sehingga tercapai kondisi yang kondusif untuk pertumbuhan tanaman.

"Jadi tujuan utama pemupukan berimbang itu agar unsur haranya berimbang di dalam tanah. Karena itu, gunakan pupuk seperlunya saja sesuai dengan takaran yang diinginkan oleh tanaman. Jangan memupuk berlebihan," ujar Dedi.

Dedi mengibaratkan tanaman seperti balita. Balita kebutuhannya cukup nasi tim atau nasi bubur sebanyak 100-150 gram dan manusia dewasa sekitar 300-400 gram ditambah sayur mayur, protein, lemak, karbohidrat dan lain sebagainya.

"Tanaman juga demikian, kalau tanamannya perlu sedikit (pupuk), ya sedidikit saja, tapi kalau tanamannya perlu banyak ya banyak. Hanya bedanya, tanah itu sudah menyediakan unsur hara. Di meja makan jika tidak kita sediakan makanan, maka mejanya tidak ada makanan," ujarnya.

Menurut Dedi, pada beberapa tanah sudah terdapat sebagian unsur hara. Kemudian di dalam jerami atau bahan tanaman yang sudah benamkan atau dikembalikan ke dalam tanah juga mengandung unsur hara. Selanjutnya, air irigasi juga menggunakan unsur hara.

"Sekali lagi pupuk seperlunya saja. Kalau jerami padi selalu dikembalikan ke dalam tanah sesungguhnya kita tidak perlu lagi pupuk kcl. Sebab, di dalam jerami sudah banyak mengandung unsur kalium sama dengan pupuk kcl. Jadi jerami padi, jagung dan sisa tanaman lainnya sama dengan pupuk kcl," kata Dedi.

Dedi juga mengingatkan, penggunaan pupuk berlebihan justru akan membuat tubuh tanaman relatif lunak, dinding-dinding sel menjadi tipis dan sel akan didominasi oleh air yang terlalu banyak sehingga terjadi suplen.

"Kalau tanaman figurnya seperti itu ada angin pasti dia roboh. Kalau dia sudah roboh, maka pembuluh floem atau xilem akan terputus sehingga proses pengisian benih, biji, buah itu pasti terhambat. Sehingga produktivitas dan produksi pertanian akan menurun," kata Dedi.

"Selain itu, pemupukan berlebihan justru membuat tanaman akan mudah terserang hama dan penyakit secara masif atau risiko kena hama," sambungnya.

TAGS : Pemupukan Berimbang Pupuk Kompos Dedi Nursyamsi




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :