Senin, 14/06/2021 10:34 WIB

Jalan Panjang Eky, Milenial Asal Kendal yang Sukses Berbisnis Hidroponik

Keinginan berwirausaha muncul didorong rasa tanggung jawab terhadap keluarga, sebagai anak sulung dari tiga bersaudara. 

Tanaman hidroponik dalam ruangan green house. (Foto: Supianto/Jurnas.com)

Kendal, Jurnas.com - Kementerian Pertanian (Kementan) terus berupaya mendorong lahirnya petani-petani muda melalui program regenerasi petani di seluruh penjuru Indonesia. Salah satu generasi muda itu adalah Septarizky Nazarudin Lutfi atau Eky, yang sejak masa SMA sudah berkecimpung di dunia pertanian.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo meyakini generasi muda menjadi penentu kemajuan pertanian nasional. Menurutnya estafet petani selanjutnya berada di pundak generasi ini.

"Estafet petani selanjutnya adalah pada pundak generasi muda, mereka mempunyai inovasi dan gagasan kreatif yang sangat bermanfaat bagi kelangsungan pertanian. Saat ini banyak petani milenial yang telah menjadi pengusaha dalam sektor pertanian, “ujar Mentan Syahrul.

Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian (Kementan) Dedi Nursyamsi menambahkan, keberadaan para petani milenial sangat diperlukan untuk menjadi pelopor sekaligus membuat jejaring usaha pertanian.

"Sukses petani milenial menjadi pengusaha sektor pertanian dan mengembangkan usahanya dari hulu hingga hilir, diharapkan mampu menarik minat generasi milenial menekuni usaha di bidang pertanian," ungkapnya.

Eky, pemuda Dusun Wonokambang Desa Tirtomulyo, Kecamatan Plantungan Kabupaten Kendal Jawa Tengah ini, dimasa SMAnya sudah berpikir untuk berwirausaha. Bahkan ia memilih menjadi petani dengan menekuni tanaman hidroponik.

Calon Duta Petani Milenial (DPM) Kementerian Pertanian tahun 2021 ini memulai usaha bermodalkan uang tabungan/celengan dengan 200 lubang tanam atau sekitar lima pipa paralon, yang dibuat di samping rumahnya.

Kini bisnis sayuran hidroponiknya terus berkembang. Dalam satu kali siklus produksi, Ia menyemai 1.000 bibit dan panen 15 – 20 kg selada per hari dengan harga Rp. 24 ribu/kg. Populasi lubang tanam yang Ia kelola saat ini mencapai 5.000 lubang tanam dengan pembagian tanam 4.000 khusus selada dan 1.000 sayur- sayuran.

"Alhamdulillah dengan menjaga kualitas, mulai dari packing, rasa, jenis selada, sekarang sudah ada sekitar 20 lebih stand kebab dan burger, warung dan cafe yang menjadi langganan. Jika kelebihan stok langsung drop ke pasar pekalongan”, terang Eky l, Kamis (15/04/2021)

Namunakhir ini Eky menerangkan jika sampai kekurangan stok, pihaknya menggandeng mitra yang beberapa bulan terakhir diajari tanam juga buat bantu support kirim sayur.

Ia mengaku sejak awal usahanya tak pernah berjualan langsung ke pasar, melainkan langsung menjual ke konsumen dengan promo gratis antar, berapapun jumlah pesanannya.

Keinginan berwirausaha muncul didorong rasa tanggung jawab terhadap keluarga, sebagai anak sulung dari tiga bersaudara. "Bapak sudah meninggal saat saya SMP, jadi pada saat itu saya penuh dengan kegundahan,  kesedihan. Terlebih karena saya anak pertama jadi pikiran saya saat itu (sekitar tahun 2018 )tepatnya saya kelas 12 SMK, ingin sekali berwirausaha," kenang Eky.

Masa itu hidroponik belum sepopuler sekarang, bahkan untuk mencari vendor pupukpun Ia mengalami kesulitan. Informasi mengenai hidroponik Ia peroleh hasil berselancar di internet.

"Di tahun 2018 itu masih jarang yang tau tentang Hidroponik. Karena dari kecil saya sering bertanam sama mbah disamping rumah, jadi suka tuh cari video tanaman gitu. Sampai suatu saat  saya ingat ada satu chanel yang gencar post video tentang hidroponik. Kaget saya ternyata bisa ya nanem tanaman pake air," kisahnya.

Diawal usahanya Ia hanya fokus pada informasi mengenai hidroponik, belum sampai cara memasarkan. Setelah menguasai ilmunya mulailah Ia menanam sayuran sawi dan caysim (manis).

Namun belum pahamnya pasar terhadap hasil panen hidroponik membuat hasil panennya dihargai sama dengan hasil panen konvensional.

"Hanya sekali saya tanam sayur – sayuranan.   Saya mulai berpikir ke pemasaran, dan mulai menambah lubang tanam jadi 1000 lubang tanam.. Saya mulai survei ke pasar sebenernya tanaman apa sih yang nggak se gampang ditanam di tanah "konvensional"," ungkapnya.

Usaha kerasnya membuahkan hasil,  Ia  melihat peluang dari komoditas selada. Eky kembali melakukan  survei mulai dari catering, usaha ayam geprek, ayam bakar, hingga ke burger & kebab. Ia menemukan harga tinggi selada konvensional sekitar Rp. 16 ribu/kg.

Di + 1000 lubang tanam mulailah Ia menanam selada. Dari hasil panen pertama, habis diborong catering, lalu mulai merambah ke kebab, burger, geprek. “Harga selada yang ditanam konvensional lumayan tinggi. Saya berpikir apalagi hasil hidroponik,“ ucap Eky.

TAGS : Petani Milenial Kendal Bisnis Hidroponik Septarizky Nazarudin Lutfi




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :