Sabtu, 15/05/2021 16:12 WIB

Bencana NTT Dorong Perlunya Mitigasi Jangka Panjang Hadapi Perubahan Iklim

Dari bencana ini, timbul urgensi untuk melakukan mitigasi jangka panjang dalam menghadapi perubahan iklim di Indonesia

Banjir NTT (foto: Mongabay)

Jakarta, Jurnas.com - Peristiwa bencana banjir dan longsor di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terjadi pada Minggu 4 April 2021 lalu, karena badai siklon tropis Seroja mengakibatkan kerugian material dan non-material bagi masyarakat lokal.

Sedikitnya 128 orang meninggal, 8.424 warga mengungsi dan 2.683 warga terdampak (data BNPB per 5 April 2021, pukul 23.00 WIB). Diperlukan strategi pemulihan kehidupan masyarakat yang terdampak bencana hidrometeorologi akibat perubahan iklim yang telah nyata mengancam seluruh aspek kehidupan sosial ekonomi masyarakat.

Dari bencana ini, timbul urgensi untuk melakukan mitigasi jangka panjang dalam menghadapi perubahan iklim di Indonesia. Prof Edvin Aldrian dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknoologi (BPPT) menyuarakan bahwa siklon tropis Seroja ini adalah bukti dari dampak perubahan iklim.

"Siklon tropis Seroja di NTT adalah bukti dampak perubahan iklim karena terjadi di area yang tidak semestinya. Siklon tropis seharusnya terjadi pada daerah di atas 10 derajat lintang utara dan 10 derajat lintang selatan. Sementara, NTT terletak di garis 8 derajat lintang selatan," ujar Edvin, dalam siaran pers yang diterima IDN Times, Kamis (8/4/2021).

Edvin menjelaskan, sebagai negara yang terletak di khatulistiwa, Indonesia sejatinya tidak dilintasi oleh siklon. Seperti anomali siklon tropis Varney yang terjadi di Batam pada 2001 lalu, kejadian ini nyatanya tidak diikuti oleh bencana lanjutan karena sifatnya yang menjauh dari daerah tropis.

Ditambahkan oleh Edvin, kemunculan siklon tropis Seroja juga tidak terlepas dari peningkatan suhu di permukaan laut yang lebih hangat sebagai akibat dari pemanasan global. Oleh karena itu, ke depannya Indonesia mesti melakukan persiapan, jika sewaktu-waktunya bencana serupa kembali datang.

"Heat capacity yaitu kemampuan laut menyerap panas berkurang, sehingga tidak mampu meredam siklon yang sudah di atas ambang batas kapasitas. Di daerah tropis, heat capacity ada di batas 300 derajat celsius," ujar Edvin.

Sementara itu, Kepala Riset Ekonomi Lingkungan LPEM FEB Universitas Indonesia, Dr Alin Halimatussadiah, mengatakan mitigasi bencana yang bersifat anomali akibat perubahan iklim, perlu dilakukan oleh semua pihak. Khusus untuk NTT, dampak dari bencana siklon tropis Seroja ini berat untuk mereka.

"Dampak siklon tropis Seroja di NTT sangat berat karena bersifat katastropik. Masyarakat kehilangan rumah, ladang, ternak dan keluarga. Mereka membutuhkan waktu pemulihan yang lama, terlebih perlindungan sosial yang sekarang tersedia belum cukup adaptif bagi mereka yang jatuh miskin akibat bencana," ujar Alin.

"Peristiwa anomali bencana seperti ini menjadi sebuah momentum perlunya perencanaan matang untuk mitigasi bencana baik yang bisa diprediksi sebelumnya maupun tidak. Salah satunya adalah memasukan mitigasi bencana ke dalam RPJMD masing-masing daerah, sehingga pemerintah minimal sudah memiliki upaya untuk memitigasi bencana," lanjutnya.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan hingga Rabu (7/4/2021) pukul 20.00 WIB, jumlah korban meninggal dunia akibat banjir bandang dan tanah longsor di Nusa Tenggara Timur (NTT) sebanyak 138 orang.

"Total korban meninggal yang telah ditemukan jasadnya mencapai 138 orang, sementara 61 orang hilang," ujar Kepala BNPB, Doni Monardo, dalam konferensi pers secara virtual Rabu (7/4/2021) malam.

 

TAGS : Bencana NTT Mitigasi Jangka Panjang Perubahan Iklim




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :