Sabtu, 19/06/2021 00:36 WIB

Turki Kutuk Tindakan Kekerasan Terhadap Demonstran Myanmar

Turki mengutuk keras tindakan keras paling keras terhadap pengunjuk rasa pro-demokrasi di Myanmar ketika rezim militer yang berkuasa menunjukkan kekuatannya pada Hari Angkatan Bersenjata tahunannya.

Para pengunjuk rasa meneriakkan slogan-slogan di belakang barikade selama protes terhadap kudeta militer di Yangon, Myanmar pada 27 Februari 2021. [Stringer - Anadolu Agency]

Jakarta, Jurnas.com - Turki mengutuk keras tindakan keras paling keras terhadap pengunjuk rasa pro-demokrasi di Myanmar ketika rezim militer yang berkuasa menunjukkan kekuatannya pada Hari Angkatan Bersenjata tahunannya.

"Kami mengutuk keras kekerasan yang berlebihan terhadap warga sipil di Myanmar ini. Pada kesempatan ini, kami mengulangi seruan kami untuk mengakhiri tindakan terhadap penduduk sipil tanpa penundaan, pembebasan segera semua pemimpin terpilih, tokoh politik dan warga sipil yang telah ditahan dan langkah-langkah yang perlu diambil untuk kembali ke demokrasi, "kata Kementerian Luar Negeri dalam sebuah pernyataan dilansir Middleeast, Senin (29/03).

Menurut laporan media, kelompok relawan dan saksi pembunuhan, lebih dari 140 orang ditembak mati oleh pasukan keamanan pada hari Sabtu.

"Kami mengikuti dengan keprihatinan bahwa Rezim Militer di Myanmar semakin meningkatkan penggunaan kekuatan mematikan terhadap warga sipil, mengabaikan seruan komunitas internasional," tambah pernyataan itu.

Kementerian juga mengatakan "sangat sedih" bahwa jumlah korban sipil tertinggi terjadi pada Hari Angkatan Bersenjata tahunan, sebagai akibat dari tindakan yang dilakukan oleh pasukan keamanan.

Junta militer Myanmar, dalam pesan yang disiarkan televisi pada Jumat malam, memperingatkan para pengunjuk rasa tentang risiko ditembak di kepala dan punggung jika mereka melanjutkan demonstrasi anti-kudeta.

Para pengunjuk rasa, bagaimanapun, menentang ancaman junta dan turun ke jalan di kota-kota di seluruh negeri pada hari Sabtu, menghadapi tindakan keras oleh pasukan keamanan.

Protes dimulai tepat setelah 1 Februari ketika militer menggulingkan dan menahan pemimpin Myanmar yang terpilih secara demokratis, Aung Suu Kyi.

TAGS : Demonstran Myanmar Pemerintah Turki Rezim Militer




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :