Rabu, 14/04/2021 20:00 WIB

Merger Tiga Bank Syariah Diyakini Mampu Pulihkan Ekonomi

Penggabungan atau merger tiga bank syariah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memberi multiplier effect yang signifikan sebagai upaya memulihkan ekonomi nasional akibat pandemi Covid-19.

Ketua Komite IV Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI), Sukiryanto (Foto: Humas DPD RI)

Jakarta, Jurnas.com - Penggabungan atau merger tiga bank syariah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memberi multiplier effect yang signifikan sebagai upaya memulihkan ekonomi nasional akibat pandemi Covid-19.

Menurut Ketua Komite IV Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI), Sukiryanto, penggabungan bank syariah BUMN dengan satu nama dan entitas baru yakni, PT Bank Syariah Indonesia Tbk bisa membuat pertumbuhan ekonomi syariah melambung di tahun ini.

"Merger ini bisa dikatakan sangat luar biasa. Karena merger tiga perbankan syariah milik BUMN ini bakal membuat perkembangan pasar modal syariah semakin pesat, tertutama penerbitan sukuk negara," ujar dia saat membuka rapat pleno Komite IV DPD RI, Selasa (9/3). 

Pria yang hobi menembak dan berenang itu menyebutkan proses merger bank syariah membawa sentimen positif untuk pelaku usaha maupun investor di pasar saham. 

Menurutnya, kapasitas bank anggota merger yang sudah kuat akan melahirkan entitas baru yang lebih tangguh. 

"Entitas baru ini akan mendapat size yang sangat besar, baik aset maupun cabang plus sumber daya manusia yang sangat berkualitas. Banyak hal yang mereka bisa lakukan untuk pemulihan ekonomi nasional," jelasnya.

Sukiryanto melanjutkan, merger tiga bank syariah yakni, PT Bank BRIsyariah Tbk., PT Bank BNI Syariah, dan PT Bank Syariah Mandiri itu membuat Indonesia memiliki bank syariah bermodal dan beraset besar, yang dapat membawa snowball effect pada perkembangan industri keuangan syariah.

"Kami memandang bank ini akan sangat kuat dan bahkan mampu menjadi top ten dunia. Ini akan menjadi katalis untuk bank Indonesia, bahkan untuk regional dan global. Selain itu, ini juga akan membantu ekspansi produk syariahnya, dan juga program pemerintah seperti KUR dan peningkatan inklusi keuangan nasional," jelasnya. 

Sukiryanto menjelaskan, dalam masa pandemi Covid-19, Bank Syariah masih memiliki peluang untuk tumbuh. Hal tersebut terlihat dari daya tahan industri keuangan syariah yang masih bisa tumbuh dua digit di akhir 2020 lalu.

"Merujuk pada pertumbuhan ekonomi pada akhir tahun 2020 lalu, potensi bank syariah bertahan di masa pandemi masih tergolong besar. Sehingga saya optimis pada 2021 bank syariah bisa melalui pandemi," ucapnya. 

Sukiryanto memaparkan, dari sisi pembiayaan, bank syariah tumbuh 9,16 persen. Sedangkan bank konvensional mengalami kontraksi hingga -2,02 persen. Begitu juga pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK). Meski keduanya tumbuh positif, namun bank syariah lebih tinggi yaitu 13,52 persen dibandingkan bank konvensional yang tumbuh 11,24 persen.

"Saat ini Bank Syariah Indonesia memiliki kinerja keuangan yang solid. Tercermin dari aset yang mencapai Rp 239,73 triliun dan DPK sebesar RP 209,9 triliun. Lalu Pembiayaan sebesar Rp 156,2 triliun, equity sebesar Rp 21,74 triliun dan laba bersih per Desember 2020 mencapai Rp 2,19 triliun," papar dia.

Diketahui, saat ini Bank Syariah Indonesia (BSI) memiliki kinerja keuangan yang solid. Tercermin dari aset yang mencapai Rp 239,73 triliun dan DPK sebesar RP 209,9 triliun. Lalu Pembiayaan sebesar Rp 156,2 triliun, equity sebesar Rp 21,74 triliun dan laba bersih per Desember 2020 mencapai Rp 2,19 triliun.

Hingga 9 Februari 2021, harga saham BSI sebesar Rp 2.830 dan IPO sebesar Rp 510. Sementara market cap dalam periode yang sama mencapai Rp 116,12 triliun dan IPO sebesar Rp 4,96 triliun. 

TAGS : Warta DPD Komite IV DPD Sukiryanto Bank Syariah Ekonomi




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :