Sabtu, 18/09/2021 11:56 WIB

Mengenal Berbagai Kelainan pada Payudara

Delapan kelainan itu ialah kista, tumor jinak, mamae aberans, kanker payudara, kelainan kulit, mastitis, galactocele, dan gigantomasti.

Spesialis bedah onkologi Rumah Sakit Kanker Dharmais dr. Bob Andinata, SpB(K)Onk

Jakarta, Jurnas.com - Kanker bukan satu-satunya kelainan yang terjadi pada payudara kaum Hawa. Spesialis bedah onkologi Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta, dr. Bob Andinata, SpB(K)Onk menyebut setidaknya terdapat delapan kelainan yang biasanya terjadi.

Delapan kelainan itu ialah kista, tumor jinak, mamae aberans, kanker payudara, kelainan kulit, mastitis, galactocele, dan gigantomasti.

Kista menjadi kelainan yang paling banyak dialami oleh perempuan. Umumnya, lanjut dr. Bob, ditandai dengan rasa nyeri di payudara. Namun ketika diperiksa melalui USG, payudara akan tampak baik-baik saja, karena itu penanganannya tidak butuh dioperasi.

"Kista kalau ukurannya kecil, cuma diobservasi saja karena nanti akan hilang sendiri. Tapi, kalau besar hanya perlu melakukan penyedotan," terang dr. Bob dalam webinar `Virtual Sosialisasi Deteksi Dini: Mengenal Tumor Payudara di Usia Muda` pada Sabtu (27/2).

"Kalau ketika disedot cairannya ada yang berwarna kemerahan, kita akan lakukan pemeriksaan lanjutan ke laboratorium patologi. Tapi jangan khawatir, kista ini keganasannya sangat kecil, di bawah 5 persen," imbuh dr. Bob.

Selanjutnya tumor jinak. Dijelaskan bahwa tumor jinak merupakan benjolan di payudara yang tidak terlihat dari luar, tapi pasien merasakan ada satu benjolan di dalam.

Berbeda dengan kista yang tidak perlu melewati penanganan operasi, tumor jinak harus dilakukan operasi. Pembedahan juga harus dilakukan di laboratorium untuk memastikan juga bahwa tumor ini benar-benar jinak.

"Kenapa disebut tumor jinak? Karena tumor ini tumbuhnya lambat dan tidak menyebar ke jaringan sekitarnya, seperti kelenjar bening atau organ tubuh lain," jelas dr. Bob.

Mamae aberans juga menghantui kaum perempuan. Kelainan ini adalah munculnya payudara tambahan di ketiak. Mamae aberans terjadi karena pada saat embrio, payudara berada di ketiak, dan baru ketika berada di rahim.

"Mamae aberans biasanya muncul saat masih usia mentrusasi, atau lebih jelas pada saat dewasa," kata dr. Bob.

Sementara kanker payudara yang menjadi momok paling menakutkan, justru umumnya dalam gejala awal tidak menimbulkan rasa nyeri. Inilah, kata dr. Bob, kerap menjadi alasan perempuan enggan memeriksakan payudaranya segera saat merasakan ada benjolan.

Pertumbuhan sel-sel kanker dalam kasus kanker payudara juga tidak normal. Sel kanker dengan cepat menyebar ke jaringan organ, termasuk ke tulang, paru-paru, hingga otak.

"Karena itu kalau ada benjolan yang menetap dalam waktu dua kali menstruasi, harus segera periksakan ke dokter. Malah yang tidak sakit itu yang bisa menjadi kanker. Jika dia nyeri, dia lebih banyak ke kista," tutur dr. Bob.

Menurut data Globocan 2020, kanker payudara menempati posisi nomor dua pembunuh di dunia untuk segmen kanker.

Terdapat 2.261.419 kasus baru kanker payudara dalam satu tahun, yang mencakup 24,5 persen dari seluruh kasus kanker, atau 4,3 kasus baru setiap menit.

"Bagaimana cara mencegahnya? Kita harus melakukan skrining dan deteksi dini. Skrining yaitu ketika dalam keadaan sehat kita memeriksakan keadaan tubuh kita ke dokter. Sedangkan deteksi dini, ada benjolan kita harus periksakan melalui Sadari dan Sadanis," papar dr. Bob.

Untuk diketahui, Sadari adalah periksa payudara sendiri yang dapat dilakukan secara mandiri di rumah. Sedangkan Sadanis atau periksa payudara secara media dilakukan oleh tenaga kesehatan.

Adapun tiga jenis kelainan lainnya ialah: Galactocele, yaitu gumpalan di payudara yang diakibatkan oleh ASI yang terbendung; Gigantomasti, payudara tumbuh dengan ukuran tidak normal; dan Mastitis, peradangan pada jaringan payudara.

"Mastitis biasanya terjadi pada ibu muda yang melahirkan anak pertama, yang pada saat awal menyusui ASI-nya tidak lancar sehingga muncul infeksi, lalu meradang dan isinya nanah," kata dr. Bob.

Kegiatan virtual sosialisasi deteksi dini ini terlaksana atas kerja sama Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) dengan Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjaya) Yogyakarta, Universitas Trisakti, dan Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta.

TAGS : Kelainan Payudara Kanker YKPI




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :