Jum'at, 05/03/2021 23:13 WIB

Di Era Digital, Guru dan Anak Didik Dituntut Ikuti Perkembangan Teknologi

Di era digital seperti saat ini, para guru dan murid dituntut untuk mengikuti perkembangan teknologi, terutama di masa pandemi di mana kegiatan belajar mengajar dilakukan dari rumah.

webinar bertema “Literasi Digital Bagi Tenaga Pendidik dan Anak Didik di Era Digital” yang ditayangkan secara virtual pada aplikasi Zoom dan kanal YouTube Siberkreasi, serta Kemkominfo TV, pada Sabtu (20/2/2021).

Jakarta, Jurnas.com - Di era digital seperti saat ini, para guru dan murid dituntut untuk mengikuti perkembangan teknologi, terutama di masa pandemi di mana kegiatan belajar mengajar dilakukan dari rumah.

Literasi digital antara tenaga pendidik dan anak didik harus dikembangkan, karena guru kini harus memiliki kemampuan menyajikan materi yang baru secara digital, agar peserta didik tidak cepat bosan.

Untuk meningkatkan pemahaman literasi digital bagi tenaga pendidik dan anak didik, Kementerian Komunikasi dan Informatika bersama GNLD Siberkreasi, dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengadakan webinar bertema “Literasi Digital Bagi Tenaga Pendidik dan Anak Didik di Era Digital” yang ditayangkan secara virtual pada aplikasi Zoom dan kanal YouTube Siberkreasi, serta Kemkominfo TV, pada Sabtu (20/2/2021).

Acara tersebut dihadiri oleh narasumber Nur Fitriana selaku Pengembang Teknologi Pembelajaran (PTP) Ahli Muda Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Prof. Eko Indrajit selaku Praktisi Literasi Digital, Mihram Rahman selaku Dosen dan Relawan Teknologi Informasi Komunikasi (TIK), dan Wahyu Aditra selaku Kreator Konten, serta dimoderatori oleh Devie Rahmawati dari Siberkreasi.

Pada sesi pertama, Nur Fitriana menjelaskan mengenai beberapa layanan penunjang literasi dan pembelajaran digital yang dimiliki dan diawasi oleh Kemendikbud seperti portal Rumah Belajar, Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia atau AKSI Sekolah, Setara Daring, SIPLah (Sistem Informasi Pengadaan Sekolah), dan TV Edukasi.

Ia berpendapat jika guru dan orang tua murid harus punya referensi konten-konten yang tepat untuk putra-putri dan siswa-siswinya, tanpa ada iklan-iklan yang tidak pantas untuk diakses oleh anak-anak. Menurutnya, literasi digital yang baik bukan berarti semua diserahkan kepada anak.

“Menjadi independent learner atau pembelajar mandiri itu penting, tetapi tidak serta merta kita biarkan begitu saja, tetap kita melakukan komunikasi, interaksi, attachment antara orang tua dan murid, itulah yang kita optimalkan. Jadi referensi-referensi inilah yang Kominfo dan Kemendikbud terus berupaya untuk memberikan layanan-layanan terbaik, khususnya di dunia pendidikan,” ujarnya.

Prof. Eko Indrajit mengatakan bahwa hampir semua materi pembelajaran sudah bisa ditemukan di internet, bahkan kampus-kampus dan sekolah-sekolah terkemuka dunia membuka semua materi ajarnya di internet. Oleh karena itu menurutnya, kita harus berpindah dari content-based education menuju outcome-based education.

“Jadi kalau kita masih mengajar dengan cara memberikan materi yang sudah ada di internet, maka kita membuang waktu untuk abad saat ini,” jelasnya.

Untuk menjawab permasalahan tersebut, Ia mengeluarkan sebuah istilah yang disebut dengan Cyber Pedagogy, yaitu bagaimana mengajar, sharing, dan membentuk pribadi dengan cara memanfaatkan teknologi digital, internet dan siber.

“Dan untuk membuat ini berhasil, semua pihak harus memiliki digital literacy, baik guru, siswa, orang tua, maupun pihak-pihak masyarakat yang ada di sekitarnya,” ujar Prof. Eko.

Menurut Dosen dan Relawan TIK, Mihram Rahman, bahwa kreativitas adalah salah satu hal yang penting untuk memunculkan kemenarikan pada saat tenaga pendidik menyampaikan materi. Ia mencontohkan dengan mencoba mengganti posisi handphone menjadi landscape, atau mencari lokasi yang bagus ketika melakukan face to face online learning.

“Karena dengan menciptakan kemenarikan bisa mendapatkan hasil belajar yang maksimal,” ujarnya.

Pada sesi terakhir, Kreator Konten, Wahyu Aditya memberikan materi mengenai literasi digital dari kacamata content creator.

Ia menjelaskan bahwa dalam hal pembuatan sebuah konten dibutuhkan pengetahuan tentang storytelling dan desain. Menurutnya, storytelling sangat efektif dalam menyampaikan pesan-pesan yang akan diceritakan, sedangkan desain dapat menciptakan perilaku seperti kecanduan, kegembiraan, dan keterlibatan.

“Kita harus belajar bagaimana memiliki kemampuan untuk meminjam lensa seorang desainer, karena itu adalah kunci pendidikan literasi digital di zaman sekarang ini,” ucapnya.

TAGS : Era Digital Tenaga Pendidik Anak Murid




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :