Minggu, 24/10/2021 03:04 WIB

Miris! Satu dari Empat Balita Minum Kental Manis Setiap Hari

Di tengah Pandemi Covid-19 masih berlangsung dan pentingnya daya tahan tubuh bagi anak dalam menghadapi pandemi, ada fakta miris yang terjadi.

produk susu kental manis (Foto: Istimewa)

Jakarta, Jurnas.com – Di tengah Pandemi Covid-19 masih berlangsung dan pentingnya daya tahan tubuh bagi anak dalam menghadapi pandemi, ada fakta miris yang terjadi.  

Penelitian yang dilakukan YAICI, PP Muslimat NUdan PP Aisyiyah tentang Persepsi Masyarakat Tentang Kental Manis pada 2020 jugamenunjukan hasil yang serupa. Penelitian dilakukan di  DKI Jakarta, JawaBarat, Jawa Timur, NTT dan Maluku. Total responden adalah 2.068 ibu yangmemiliki anak usia 0 – 59 bulan atau 5 tahun. 

Dari penelitian ditemukan 28,96% dari totalresponden mengatakan kental manis adalah susu pertumbuhan, dan sebanyak 16,97%ibu memberikan kental manis untuk anak setiap hari. Dari hasil penelitian jugaditemukan sumber kesalahan persepsi ibu, dimana sebanyak 48% ibu mengakui mengetahui  kental manis sebagai minuman untuk anak  adalah darimedia, baik TV, majalah/ koran dan juga sosial media dan 16,5% mengatakaninformasi tersebut didapat dari tenaga kesehatan. 

Temuan menarik lainnya adalah, kategori usia yangpaling banyak mengkonsumsi kental manis adalah usia 3 – 4 tahun sebanyak 26,1%,menyusul anak usia 2 – 3 tahun sebanyak 23,9%. Sementara konsumsi kental manisoleh anak usia 1 – 2 tahun sebanyak 9,5%, usia 4-5 tahun sebanyak 15,8% dan6,9% anak usia 5 tahun mengkonsumsi kental manis sebagai minuman sehari-hari.
 
Dilihat dari kecukupan gizi, 13,4% anak yangmengkonsumsi kental manis mengalami gizi buruk, 26,7% berada pada kategori gizikurang dan 35,2% adalah anak dengan gizi lebih. “Dari masih tingginyapersentase ibu yang belum mengetahui penggunaan kental manis, terlihat bahwamemang informasi dan sosialisasi tentang produk kental manis ini belum merata,bahkan di ibukota sekalipun,” imbuh Arif Hidayat.

Ketua Majelis Kesehatan PP Aisyiyah, Dra. Chairunnisamengatakan media sangat memiliki peran penting di dalam memberikan persepsikepada masyarakat. “Betul, bahwa memang media ini memiliki peran penting didalam memberikan persepsi kepada masyarakat tentang kental manis adalah susu,”jelas Chairunnisa.
 
Sedangkan Erna Yulia Soefihara, selaku KetuaBidang Kesehatan PP Muslimat NU mengatakan bahwa ia dan kadernya di seluruhIndonesia mencoba untuk merubah persepsi bahwa kental manis itu bukanlah susuyang bisa diminum untuk balita.

“Tapi memang sangat sulit ya, saat kitamelakukan sosialisasi itu karena sudah begitu lama di mereka itu bahwa susukental manis itu sehat. Sudah menjadi kebiasaan, setelah lepas ASI merekamengganti tidak dengan susu untuk anak, tapi memberikan kental manis,” paparErna.
 
Selain melaksanakan penelitian, sepanjang 2020YAICI bersama PP Aisyiyah dan PP Muslimat NU dan didukung oleh mitra-mitralainnya juga gencar melakukan sosialisasi dan edukasi untuk masyarakat secaraonline. Sebanyak 12.560 kader kedua organisasi perempuan terbesar di Indonesiaini tersebar di 34 provinsi dan beberapa cabang di luar negeri telah terpaparedukasi  tentang kental manis.
 
Ketua Harian YAICI Arif Hidayat mengatakan,pentingnya persoalan kental manis tidak hanya sebatas mencukupi gizi anak,namun juga potensi kerugian yang dialami negara akibat stunting bisa mencapai 2persen sampai 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) setiap tahunnya.

“Ini angka yang besar sekali. Kita lihat PDB 2019 sebesar Rp 15.833,9 triliun, makakerugian stunting bisa mencapai Rp 474,9 triliun. Jumlah itu mencakup biayamengatasi stunting dan hilangnya potensi pendapatan akibat rendahnya produktivitas anak yang tumbuh dengan kondisi stunting,” jelas Arif.
 
YAICI telah berkomitmen melakukan edukasi yangberkelanjutan bagi masyarakat, dalam rangka mewujudkan generasi yang ungguldi masa mendatang. Pandemi memang sempat menjadi hambatan dalam mengedukasi masyarakat tahun ini, tentu tidak seefektif bila edukasi secara langsung denganmasyarakat.

“Bagaimanapun, upaya ini tidak boleh terhenti, karena itulah kamiberharap hasil penelitian ini dapat mendorong pemerintah untuk meningkatkanpartisipasinya dalam mengedukasi masyarakat,” pungkas Arif Hidayat.

 Dalam konferensi pers Hasil Penelitian PersepsiMasyarakat tentang Kental manis, hari ini, Dr. Tria Astika Endah Permatasari, Dosen Prod. Gizi, Fakultas Kedokteran dan Kesehatan UniversitasMuhammadiyah Jakarta mengingatkan pemberian susu untuk anak harus disesuaikan dengan kategori usia.

“Untuk usia 0-6 bulan, berikan ASI eksklusif, karenazat gizi yang dibutuhkan anak usia 0-6 bulan pertama tersebut, ada pada ASI,”jelas Tria Astika.
 
Lebih lanjut, dr Tria menyebutkan, setelah usia 6bulan, makanan pendamping ASI (MPASI) menjadi hal yang penting. Selain itu, organisasi kesehatan dunia (WHO) juga menganjurkan anak dapat diberikansusu tambahan karena mengandung banyak zat gizi dan mikronutrien yangdiperlukan dalam tumbuh kembang anak seperti fosfor dan kalsium. Namun, yangperlu diingat adalah tidak semua susu baik untuk dikonsumsi anak.
 
Salah satu jenis produk susu yang sebaiknya tidakdiberikan kepada anak terutama bayi dan balita adalah susu kental manis.“Kental manis sebetulnya bukan susu, dilihat dari tabel kandungan gizi, kentalmanis memiliki kandungan karbohidrat paling tinggi yaitu 55% per 100 gram,sehingga tidak dianjurkan untuk balita.” jelas Tria.
 
Anak yang sudah terbiasa mengkonsumsi kentalmanis akan beresiko mengalami undernutrition dan juga overnutrition.“Undernutrition atau gizi kurang apabila orang tua merasa anak sudah cukup gizihanya dengan konsumsi kental manis saja, lalu lupa atau tidak memperhatikanasupan gizi lainnya. Sementara overnutrition apabila anak mengkonsumsi kentalmanis, dengan porsi yang banyak dan juga konsumsi makanan lainnya seperti snackdan cemilan tidak terkontrol,” jelas Tria. 

Dijelaskan Tria, merujuk pada beberapa penelitianyang dilakukan akademisi pada 2019, yang dilakukan di Potong Lintang di salah satukecamatan di Jabar, dari 122 responden balita, anak-anak yang mengonsumsikrimer kental manis lebih dari 1 gelas per hari lebih berisiko mengalami beratbadan kurang dibandingkan dengan anak yang mengonsumsi kurang dari jumlah tersebut.

TAGS : Susu Kental Manis Hasil Penelitian Kalangan Balita




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :