Minggu, 13/06/2021 10:25 WIB

ILUNI UI Gelar Riset Skenario Indonesia 2045

Indonesia membutuhkan rancangan skenario di tengah maraknya bermunculan situasi maupun ide yang mendobrak atau mengubah cara berpikir (game changer).

Ketua Umum ILUNI UI, Andre Rahadian (Foto: Ist)

Jakarta, Jurnas.com - Ikatakan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI UI) meluncurkan proyek riset yang berisi rancangan skenario masa depan Indonesia pada 2045 mendatang.

Ketua Umum ILUNI UI, Andre Rahadian menjelaskan, jelang 100 tahun kemerdekaan pada 2045, Indonesia membutuhkan rancangan skenario di tengah maraknya bermunculan situasi maupun ide yang mendobrak atau mengubah cara berpikir (game changer).

"Banyak game changer di beberapa tahun belakang, mulai dari revolusi 4.0, masuknya kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), dan pandemi covid-19, membuat kita harus bersiap dan menjadi orang-orang yang tahan dan agile akan segala macam perubahan," kata Andre dalam acara daring bertajuk `Diskusi Publik dan Peluncuran Riset Masa Depan Indonesia: Manusia dan Pemimpin Indonesia 2045` pada Selasa (10/11).

Andre melanjutkan, riset ILUNI UI tersebut akan menjadi riset komprehensif yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan menuju Indonesia 2045, mulai dari mahasiswa dan perwakilan BEM UI, serta para alumni dan akademisi UI.

"Kita harapkan juga masukan dari guru-guru besar UI. Semoga hasil risetnya bisa jadi masukan untuk pemangku kepentingan," ujar dia.

Ketua ILUNI UI Rahmat Yananda mengatakan, proyek riset ini merupakan perencanaan skenario manusia Indonesia, untuk menghadapi situasi VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexcity, Ambiguity) akibat revolusi digital dan pandemi Covid-19.

"Pandemi akan menjadi kekuatan primer menambah ketidakpastian dan kompleksitas serta mempengaruhi perkembangan megatren. Untuk itu, kegiatan riset ini mencoba mengantisipasi masa depan Indonesia menjelang berusia 100 tahun," ungkap Rahmat.

Dia menambahkan, VUCA menjadi isu penting untuk menghadapi dunia yang tidak pasti. Menurutnya, manusia saat ini tidak bisa hidup dalam situasi statis dan harus siap dengan situasi kekacauan (chaos). VUCA dinilai jadi determinan utama dalam menentukan arah tren ke depan.

"Kita tidak membayangkan dunia akan meredup selama tujuh bulan semenjak virus Covid-19 diumumkan menyebar di Wuhan. Dalam lima tahun pertumbuhan ekonomi bertahan di 5 persen, lalu tiba-tiba dalam waktu sebentar jadi minus," papar Rahmat.

Lebih lanjut, dia menjabarkan perencanaan skenario akan menggunakan kerangka waktu dan peta jalan selama 25 tahun, terhitung dari 2020 sampai dengan 2045. Riset gabungan ILUNI 4.0, Policy Center, dan ILUNI UI ini disebut akan mengangkat lima isu yakni teknologi informasi, COVID-19 dalam aspek psikologi sosial di Indonesia, globalisasi, perempuan dan lingkungan, serta demografi dan gender.

"Sebelum riset tersebut dilaksanakan, ILUNI UI memerlukan masukan dan saran dari berbagai pihak agar riset yang dihasilkan komprehensif dan telah dilakukan review oleh ahli dan akademisi UI," sebut Rahmat.

Semenyata itu, Ketua ILUNI 4.0 Fithra Faisah Hastiadi mengatakan, banyak pakar menyebut bahwa Covid-19 mempercepat perubahan masa depan. Selanjutnya, dari pertumbuhan ekonomi terkontraksi dua kuartal berturut-turut, ternyata sektor informasi, komunikasi, dan teknologi justru tumbuh di atas rata-rata.

"Ada perubahan perilaku karena orang-orang bekerja lebih efektif dan efisien. Tapi, di sisi lain ada tantangan karena kita berada dalam bonus demografi," ungkapnya.

Pakar ekonomi UI itu menambahkan, menurut Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB UI), peluang bonus demografi akan selesai pada 2030. Sementara, untuk bisa lolos dari perangkap pendapatan menengah (Middle Income Trap), bonus demografi tersebut harus dimanfaatkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sebesar 6-6,5 persen.

Pertumbuhan tersebut harus ditopang dengan pertumbuhan produktivitas. Namun, permasalahan lainnya dari 7 juta pengangguran, 4 juta penduduk berusia 15-24 tahun mendominasi angka pengangguran.

"Segala permasalahan tadi kuncinya cuma satu, yaitu pendekatan teknologi. Untuk membuat pertumbuhan lebih inklusif, maka teknologi juga lebih inklusif. Pemberdayaan dari masyarakat di level terbawah hanya bisa terjadi kalau masyarakatnya sudah berdaya dan bisa memanfaatkan teknologi dengan baik," tutup Fithra.

TAGS : ILUNI UI Universitas Indonesia Proyek Riset




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :