Selasa, 21/09/2021 17:52 WIB

Antisipasi Dampak Kemarau di Sumatera, Kementan Lakukan Adaptasi dan Mitigasi

Untuk menghadapi dampak perubahan iklim tersebut, mereka telah melakukan langkah-langkah antisipasi dengan memberikan bantuan berupa pompa 

Kementerian Pertanian (Kementan) lakukan adaptasi dan mitigasi di daerah sentra hortikultura yang rawan banjir dan kekeringan. (Foto: Ditjen Hortikultura))

Aceh, Jurnas.com - Direktorat Jenderal Hortikultura (Ditjen Hortikultura) Kementerian Pertanian (Kementan) mengambil langkah cepat untuk melakukan adaptasi dan mitigasi dalam mendukung pengamanan produksi hortikultura.

Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), beberapa daerah di Indonesia memasuki musim kemarau dari total 342 Zona Musim (ZOM) di Indonesia.

Disebutkan, sebanyak 30% diperkirakan mengalami kemarau lebih kering dari situasi normal yaitu sebagian Aceh, sebagian pesisir timur Sumatera Utara, sebagian Riau, Lampung bagian timur, Banten bagian selatan, sebagian Jawa Barat, serta Jawa Tengah bagian tengah dan utara. 

Langkah cepat ini sejalan dengan arahan dari Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo agar Kementan hadir dalam mengamankan ketersediaan bahan pokok penting, khususnya cabai dan bawang merah dalam memenuhi kebutuhan 267 juta jiwa masyakat Indonesia.

Tujuannya tak lain untuk meminimalisir kehilangan hasil akibat dampak perubahan iklim (kekeringan).

Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto dalam keterangannya, Rabu (30/7) menyampaikan, untuk menjaga pertanaman dari dampak perubahan iklim, maka dukungan dinas pertanian melalui petugas lapang sangat penting peranannya.

Direktur Perlindungan Hortikultura, Sri Wijayanti Yusuf menjelaskan kebijakan Ditjen Hortikultura selaku pembina dan pelaksana pengelolaan dampak perubahan iklim bertujuan mengamankan produksi hortikultura melalui adaptasi dan mitigasi di deerah sentra hortikultura yang rawan.

Ia menambahkan, Ditjen Hortikultura juga telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah dalam rangka antisipasi dampak perubahan iklim terhadap komoditas hortikultura di seluruh Indonesia.

"Kekeringan merupakan situasi yang hampir terjadi setiap tahun, terutama di daerah rawan. Bencana kekeringan cenderung terus meningkat, baik frekuensi, intensitas, maupun distribusi kejadiannya. Kejadian kekeringan tersebut sangat nyata berpengaruh terhadap subsektor hortikultura," ungkap Yanti.

Sementara itu, Kepala Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Provinsi Aceh, Iriana Ismida mengatakan, untuk menghadapi dampak perubahan iklim tersebut, mereka telah melakukan langkah-langkah antisipasi dengan memberikan bantuan berupa pompa air.

Iriana Ismida menambahkan bahwa dampak perubahan iklim merupakan dampak yang ditimbulkan akibat terjadinya variabilitas iklim, antara lain banjir dan kekeringan.

Pengamatan oleh petugas bertujuan untuk mengetahui luas kerusakan akibat dampak perubahan iklim serta faktor-faktor yang berpengaruh. Selanjutnya dianalisis untuk menentukan langkah-langkah penanggulangan yang tepat.

"Menghadapi musim kemarau, kami telah melakukan langkah antisipatif untuk daerah yang sering mengalami kekeringan seperti Kabupaten Aceh Timur dan Kabupaten Aceh Besar yakni melalui bantuan pompa air," jelas Iriana.

Adapun penerima bantuan tersebut adalah dari kelompok tani Merak Jaya, Desa Gelanggang Merah, Kecamatan Peureulak Timur, Kabupaten Aceh Timur dan kelompok tani Taruna Tani, Desa Kuta Karang, Kecamatan Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar.

Petani setempat bersyukur dan berterima kasih kepada Kementerian Pertanian dan BPTPH Aceh yang telah menyalurkan bantuan pompa air melalui program antisipasi dampak perubahan iklim.

"Alhamdulillah dengan adanya bantuan pompa air, kami bisa bertanam sayuran saat musim kemarau dan tidak perlu khawatir lagi kekurangan air," ungkap Hamdani, dari kelompok tani Merak Jaya yang merasakan manfaat dari bantuan pompa air tersebut.

TAGS : Dampak Kemarau Sumatera Ditjen Hortikultura Priahsto Setyanto Sri Wijayanti Yusuf




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :