Minggu, 16/05/2021 03:03 WIB

Sebuah Tragedi Kampung Cadas Gantung

Warga di kampung Cadas Gantung tidak ada akses jalan dan komunikasi. (IST)

Bandung - Bagi relawan seperti Mudris dan Khoiril, mereka tak habis pikir, bagaimana sebuah kampung yang cukup dekat dengan gemerlap Kota Bandung muncul peristiwa menyedihkan. Gemerlap pagelaran Pekan Olahraga Nasional (PON) Jawa Barat menjadi sisi yang berlawanan dengan situasi Cadas Gantung, Desa Mekarmanik, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung.

“Saya tidak menduga kalau kampung yang tidak jauh dari Metropolitan Bandung ini masih hidup seperti zaman 1970-an. Ini bukti konyol kinerja aparat di desa yang tidak peka lingkungan. Dengar-dengar dari penduduk, kades dan aparat desa tidak pernah memperhatikan warga di sini. Kalau kades saja tidak pernah injakkan kaki ke sini, apalagi bupati atau orang dinas sosial yang jaraknya 60 km dari sini,” ujar Khoiril bersaksi atas kondisi Cadas Gantung.

Khoiril dan Mudris, adalah yang menemukan Nenek Amah tergeletak tak berdaya di gubugnya dan membawanya ke R Hasan Sadikin Bandung. Bersama teman-temannya mereka berupaya memberikan pertolongan kepada nenek yang empat bulan terbaring tak berdaya.

Menurut Khoiril, kampung Cadas Gantung terisolir dari kampung yang lain. Tidak memiliki akses komunikasi dan jaringan. Sementara kehidupan ekonomi kampung tersebut terlilit kemiskinan. Misalnya Agus. Ayah empat anak ini memiliki penghasilan per hari 100 ribu. Namun itu tidak tentu. Pekerjaan sebagai kuli gali batu di Curug Batu Templek tak setiap hari ada order. Sebagian lagi mengelola kebun atau sawah milik orang lain. Hasilnya tak bisa mencukupi bahkan untuk sekadar makan sehari-hari, memang.

“Bahkan anak-anak di sini jarang sekolah karena jauh sekolahnya. Kalau malamnya hujan, paginya seringkali tidak berangkat sekolah karena jalannya becek terjal. Di sini anak-anak bisa lulus SD sudah syukur,” kata Agus salah satu warga Cadas Gantung.

Basuki Suhardiman adalah dosen Institut Teknologi Bandung. Ia membantu lobi advokasi pengobatan ke RS untuk Nenek Amah. Menurut ahli Teknologi Informasi ini, menurutnya Kampung Cadas Gantung harus ditangani dengan segera.

Basuki belakangan sering keluar masuk kawasan Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, untuk urusan pemetaan dan pemberdayaan ekonomi petani. Saat peristiwa Nenek Amah terdengar, ia langsung mengambil tindakan untuk mengadvokasi kehidupan warga di Cadas Gantung

“Saya kebetulan ikut jalan-jalan di situ sebelum teman-teman mengadovaksi ibu Amah. Kampung itu punya potensi untuk dikembangkan setidaknya dari struktur tanah dan aliran sungainya,” katanya kepada Jurnas.com pada Minggu (18/9) saat meninjau ulang lokasi perkampungan Cadas Gantung.

Menurutnya, untuk soal anggaran negara punya kewajiban dan tidak perlu banyak alasan mengaku tidak mampu. Hanya saja dalam urusan Cadas Gantung itu yang lebih penting adalah pendampingan sampai tahap yang matang baik urusan ekonomi, pengetahuan, dan tata hubungan kegotong-royongan supaya semua warga dan anak-anaknya bisa hidup lebih berkualitas.

Kehidupan di Cadas Gantung, seperti ungkapan Khoiril dan krelawan lain, pantas disebut sebagai tragedi. Menurut mereka untuk mengurus beberapa keluarga di Cadas Gantung sebenarnya banyak pos anggaran negara yang bisa dipakai.[]

TAGS : Kemiskinan cadas gantung bandung




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :