Rabu, 25/05/2022 13:53 WIB

Tetap Produktif di Tengah Corona, Petani Maros Tanam Cabai Organik

Pertanian organik memiliki jangka panjang dan manfaatnya sangat besar, karena selain menyuburkan tanah dalam jangka panjang, hasil produksi akan memiliki kandungan residu kimia yang rendah sehingga orang-orang yang mengkonsumsinya juga sehat.

Baharuddin Syam, salah satu petani organik asal Maros, Sulawesi Selatan, yang tetap melaksanakan aktivitasnya untuk mendampingi dan melakukan pembinaan kepada petani di Desa Moncongloe. (Foto: BPPSDMP)

Jakarta, Jurnas.com - Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi mendorong pertani membuat secara mandiri input produksinya, seperti pupuk organik padat, pupuk organik cair dan pestisida nabati.

Menurut Dedi, dampak positif pertanian organik dalam jangka panjang sangat menguntungkan. "Pertanian organik memiliki berbagai pilar, yaitu lingkungan, sosial termasuk di dalamnya masalah kesehatan dan ekonomi," kata Dedi.

"Lingkungan menjadi alasan utama dalam bertani organik karena bertani organik ramah lingkungan sebab menggunakan bahan-bahan alami dan tidak menggunakan bahan kimia sintetis, khususnya pupuk dan pestisida," sambungnya.

Baharuddin Syam, salah satu petani organik asal Maros, Sulawesi Selatan, yang tetap melaksanakan aktivitasnya untuk mendampingi dan melakukan pembinaan kepada petani di Desa Moncongloe.

Baharuddin Syam yang biasa disapa H. Bahar yang juga pemegang sertifikat bidang kompetensi Fasilitator Organik Tanaman dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) semakin termotivasi untuk membangun kesadaran petani agar bertani secara organik, terlebih selama masa pandemi ini.

"Saat ini fokus kami adalah memfasilitasi petani sebanyak mungkin agar melakukan cara budidaya yang sehat, seperti sekarang kami awali dengan pengolahan lahan" jelas H. Bahar.

Cabai merupakan salah satu komoditas strategis yang harus dijaga ketersediaannya.

"Sebelumnya kami sudah mengedukasi petani agar bisa membuat sendiri input teknologi budidaya, seperti membuat arang sekam, memanfaatkan limbah pertanian menjadi pupuk organik padat dan pupuk organik cair," tutur H. Bahar.

Menurutnya, pertanian organik memiliki jangka panjang dan manfaatnya sangat besar, karena selain menyuburkan tanah dalam jangka panjang, hasil produksi akan memiliki kandungan residu kimia yang rendah sehingga orang-orang yang mengkonsumsinya juga sehat.

"Ini bukti pertanian tidak berhenti meskipun pandemi COVID-19 saat ini sedang melanda Indonesia, kami petani organik tetap membina dan mendampingi petani," ujar H. Bahar.

"Harapan kami, ke depan pemerintah memberikan porsi yang besar terhadap pertanian organik sekaligus memberikan kepercayaan bahwa pertanian organik bisa menjadi solusi pembangunan pertanian masa depan Indonesia," sambungnya.

Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo terus mendorong agar sektor pertanian tetap produktif di tengah pandemi COVID-19 yang menghantam hampir semua dunia, salah satunya adalah Indoneisa.

"Walau dalam kondisi pandemi covid-19, pertanian don`t stop, maju terus, pangan harus tersedia dan rakyat tidak boleh bermasalah soal pangan. Setelah panen, segera lakukan percepatan tanam, tidak ada lahan yang menganggur selama satu bulan," ujar Syahrul.

TAGS : Virus Corona Cabai Organik Dedi Nursyamsi Syahrul Yasin Limpo Penyuluh Pertanian




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :