Kamis, 22/02/2024 17:48 WIB

Tetap Tinggi, Permintaan Dua Jenis Larva Kering di Pasar Dunia

Sebanyak 0,6 ton larva BSF dengan nilai Rp44,5 juta dengan tujuan Jepang, dan larva kering sebanyak 1,4 ton senilai Rp857,6 juga tujuan Inggris telah dikirimkan pada periode Januari hingga Maret 2020.

Petugas Karantina Pertanian tampak sedang memeriksa larva. (Foto: Humas Kementan)

Jakarta, Jurnas.com - Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan), Kementerian Pertanian (Kementan), Ali Jamil mengatakan, ekpor dua jenis larva asal Bogor tercatat tetap tinggi pada triwulan pertama 2020.

Jamil menyampaikan bahwa larva lalat tentara hitam, black soldier fly (BSF) dan larva kering, magot tercatat terus melapak masing-masing di pasar ekspor Jepang dan Inggris.

Tercatat sepanjang Januari hingga Maret 2020, permohonan sertifikasi kesehatan hewan atau health certificate (HC) sebagai persyaratan teknis dari negara tujuan ekspor di fasilitasi Karantina Pertanian Tanjung Priok.

"Ekspor bukan hanya soal devisa, tapi juga kebanggaan bagi bangsa. Ini pesan pak Menteri Pertanian (Syahrul Yasin Limpo, red). Untuk itu dibutuhkan pelaku usaha dibidang pertanian yang terus berinovasi," kata Jamil di Jakarta, Minggu (12/4).

Jamil mengatakan, di negara tujuan ekspor, jenis lalat bersih ini digunakan sebagai sumber protein campuran bahan pembuatan pakan ternak seperti unggas dan ikan.

"Secara geografis, kita memiliki keuntungan akan banyaknya sinar matahari yang sangat dibutuhkan BSF dalam berkembang biak. Potensi demikian kita gali, bentuk korporasi dilinkungan terdekat, olah dan garap agar dapat meningkatkan kesejahteraan petani," kata Jamil.

Untuk teknologi pembudidayaan, Jamil mengatakan, Kementan sudah menyiapkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan bunga 6% yang dapat digunakan oleh petani. "Jangan ragu, mari di manfaatkan," ajak Jamil.

Kepala Karantina Pertanian Tanjung Priok, Purwo Widarto, memberikan data permohonan fasilitasi ekspor produk pertanian asal sub sektor perternakan ini.

Ia mencatat sebanyak 0,6 ton larva BSF dengan nilai Rp44,5 juta dengan tujuan Jepang, dan larva kering sebanyak 1,4 ton senilai Rp857,6 juga tujuan Inggris telah dikirimkan pada periode Januari hingga Maret 2020.

Purwo juga tak menampik adanya penurunan jumlah permohonan sertifikasi di unit kerjanya sebanyak 26% dibanding periode yang sama tahun lalu.

Namun lalu lintas produk pertanian dan turunannya di Pelabuhan Laut Tanjung Priok tetap berjalan dan kini mulai berangsur meningkat sejalan dengan masa lockdown berakhir di China dan beberapa negara lainnya (8/4).

TAGS : Kinerja Menteri Pertanian Ali Jamil Ekspor Larva




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :