Senin, 04/07/2022 00:18 WIB

Jangkos asal Sumut Mulai Berlayar ke China

Kementan mencatat terdapat permohonan pemeriksaan di Karantina Pertanian Belawan untuk produk samping kelapa sawit berupa janjang kosong, jangkos atau plam fiber ke China.

Produk samping kelapa sawit (Foto: Kementan)

Langkat, Jurnas.com - Kepala Badan Karantina Pertanian, Ali Jamil menyambut kondisi yang mulai membaik di China. Itu disampaikan setelah status karantina wilayah (lockdown, Red) di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, sudah dicabut pada Rabu (8/4).

Hal ini bukan hanya disambut suka cita masyarakat yang mengalami masa karantina selama 76 hari, tapi juga pelaku agirbisnis sektor pertanian. Mengingat, China merupa salah satu pasar besar bagi produk pertanian.

"Alhamdulilah, dengan kondisi yang mulai membaik permintaan ekspor ke China yang sempat terpukul, kini permohonan pemeriksaan karantina mulai masuk kembali," kata Kepala Badan Karantina Pertanian, Ali Jamil melalui keterangan tertulisnya, Jakarta, Kamis (9/4)

Saat ini, kata Jamil, pihaknya mencatat terdapat permohonan pemeriksaan di Karantina Pertanian Belawan untuk produk samping kelapa sawit berupa janjang kosong, jangkos atau plam fiber ke China.

Jangkos asal Sumut ini dikenal berkualitas tinggi, dan merupakan bagian limbah dari hasil pengolahan tandan buah segar (TBS) sawit. Dinegara tujuan ekspor biasanya jongkos ini digunakan sebagai bahan baku tali kapal, pengisi matras dan jok mobil hingga pesawat terbang.

Dari data karantina pertanian, di tahun 2019 jangkos asal Sumut berhasil membukukan lebih dari 7,5 ribu ton dengan nilai ekonomi mencapai 9,5 milar rupiah lebih. Selain Cina, 9 negara lain juga jadi pelanggannya seperti Perancis, Saudi Arabia, Malaysia dan lainnya.

Pada awal April ini, sebanyak 681 ton dengan kisaran nilai Rp933 juta dinyatakan telah sesuai dengan persyaratan otoritas karantina Cina dan siap diberangkatkan ke pelabuhan Xingang, Huangpu dan Shanghai.

Menurut staf PT. UKIP, Pardede mengungkapkan bahwa produk ekspor ini sempat tertahan 2 minggu akibat penutupan pelabuhan. Dan kini, dengan berakhirnya masa karantina wilayah di China permintaan kembail berdatangan, tambah Pardede.

Masa Karantina Wilayah

Berbeda dengan di Indonesia, pemberlakukan masa karantina wilayah akibat COVID-19 masih diberlakukan. mengingat jumlah yang terinfeksi virus mematikan tersebut masih meningkat.

Untuk itu, sejalan dengan arahan Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo, yang memberlakukan layanan perkarantinaan tetap berjalan, maka Barantan menerapkan protokol kewaspadaan pencegahan penyebaran COVID-19 bagi Layanan Sertifikasi Karantina Pertanian.

Layanan PPK secara daring digencarkan, pemeriksaan dan tindakan karantina memperhatikan jarak dan juga penggunaan alat pelindung diri (APD) bagi petugas juga terus dipantau.

Kebijakan lain yang diambil adalah produk pertanian yang dihasilkan difokuskan untuk kebutuhan dalam negeri, khususnya yang strategis seperti beras dan jagung. Sementara produk pertanian yang surplus produksinya dan dibutuhkan dunia kita dorong juga untuk diekspor.

"Selain membantu negara lain yang terdampak, juga dapat meningkatkan kesejahteraan petani karena bernilai tambah sekaligus membantu dalam menambah devisa negara," tutup Jamil.

TAGS : Kinerja Menteri Pertanian Kota Wuhan Karantina Sosial Virus Corona Ali Jamil Produk Samping Kelapa S




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :