Senin, 22/04/2024 07:38 WIB

Kurang Tenaga Panen Karena Corona, Petani Bali Optimalkan Penggunaan Alsintan

Tidak lockdown pada sektor pertanian karena menyangkut hajat hidup 267 juta masyarakat Indonesia. Ia juga meminta agar ketersediaan pangan harus ada setiap saat.

Petani menggunakan alat mesin pertanian untuk memanen padi. (Foto: Kementan)

Jakarta, Jurnas.com - Merebaknya wabah virus corona (COVID-19) memaksa pemerintah Indonesia menerapkan kebijakan kerja di rumah (WFH) dan pembatasan aktivitas untuk seluruh masyarakat Indonesia. Dampak kebijakan ini menyebabkan melemahnya pertumbuhan beberapa sektor di Indonesia. Tidak terkecuali sektor pertanian.

Menyikapi hal tersebut, Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo, melalui Sekretaris Badan Litbang Pertanian, Hardianto menyampaikan bahwa pada kondisi wabah seperti ini pertanian tidak boleh lemah, mengingat pertanian adalah tulang punggung perekonomian negara.

Syahrul menegaskan, tidak lockdown pada sektor pertanian karena menyangkut hajat hidup 267 juta masyarakat Indonesia. Ia juga meminta agar ketersediaan pangan harus ada setiap saat.

Melalui telekoferensi lingkup Badan Litbang Pertanian pada hari Rabu 1 April 2020, ia juga meminta Unit Pelaksana Teknis (UPT) di daerah untuk terus mengecek kondisi ketersediaan pangan dan stabilitas harganya.

Provinsi Bali termasuk salah satu provinsi yang terpapar pandemi virus corona. Pemerintah Daerah Bali juga menerapkan kebijakan kerjad di rumah dan pembatasan aktivitas di luar rumah masyarakat Bali.

Sementara diterapkannya kebijakan tersebut, para petani padi di Bali harus bekerja lebih keras lagi, karena dengan diterapkannya WFH dan Sosial Distancing ini, petani di Bali kekurangan tenaga kerja untuk menanam dan panen padi.

I Wayan Sudiarta selaku Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan mengatakan bahwa dampak dari wabah COVID-19 ini bagi petani di wilayahnya adalah kekurangan tenaga panen.

Sebelum virus coron menyerang Indonesia, tenaga panen biasanya di datangkan dari daerah Jawa, akan tetapi setelah ada wabah jumlah tenaga panen yang datang sangat berkurang.

Menyikapi hal tersebut petani Bali menurut I Wayan Sudiarta, akhirnya memilih untuk mengoptimalkan penggunaan alsintan bantuan Kementan seperti combine harvester untuk memanen padi mereka.

"Setelah petani menggunakan combine harvester panen menjadi lebih cepat, dan gabahnya lebih bersih," ungkapnya.

Sementara itu Kepala BPTP Bali, I Made Rai Yasa mengatakan bahwa dalam kondisi wabah seperti ini petani akan lebih efektif mengoptimalkan penggunaan alsintan baik dalam penanaman hingga pemanenan sehingga interaksi antar orang dapat dihindari.

"Badan Litbang Pertanian telah banyak menghasilkan inovasi di bidang alsintan, yang siap dimanfaatkan sebagai alternatif mengatasi permasalah petani terutama masalah kekeurangan tenaga kerja," jelasnya.

I Made Rai Yasa, juga melaporkan bahwa selain di Tabanan pada hari yang sama petani di Kabupaten lain juga sedang melaksanakan panen padi. Walaupun dengan kondisi minim tenaga kerja.

Dilaporkan per Rabu 1 April panen juga dilaksanakan di Kabupaten Karangasem, tepatnya di Subak Susuan, Kelurahan Karangasem, Kecamatan Karangasem.

"Terpantau oleh petugas kami, petani disana mengawali panen hari ini seluas 40 are dari potensi panen seluas 52 hektar padi yang sudah siap panen. Varietas padi yang dipanen adalah cigelis dan produktivitas diketahui sebesar 5,4 ton per hektar," ujarnya.

KEYWORD :

Kinerja Menteri Pertanian Alat Mesin Pertanian Panen Raya Provinsi Bali




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :