Kamis, 22/02/2024 19:01 WIB

Ekonomi Global Terancam Menyusut 1 Persen

Departemen Urusan Ekonomi dan Sosial Perserikatan Bangsa-Bangsa menyebut perekonomian global terancam menyusut hampir 1 persen tahun ini

Sejumlah wanita memerhatikan pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta

New York, Jurnas.com - Departemen Urusan Ekonomi dan Sosial Perserikatan Bangsa-Bangsa menyebut perekonomian global terancam menyusut hampir 1 persen tahun ini, akibat pandemi virus corona baru (Covid-9

Dalam sebuah laporan yang dikutip oleh Associated Press pada Kamis (2/4), penurunan tersebut bisa lebih dalam jika pembatasan kegiatan ekonomi meluas ke kuartal ketiga tahun ini, dan jika upaya stimulus fiskal tidak mendukung pendapatan dan pengeluaran konsumen.

Sebagai perbandingan, ekonomi dunia pernah mengalami kontraksi 1,7 persen selama krisis keuangan global pada 2009 silam.

"Ketakutan akan penyebaran virus secara eksponensial dan meningkatnya ketidakpastian tentang kemanjuran berbagai tindakan pengendalian telah mengguncang pasar keuangan di seluruh dunia," kata laporan itu.

"Dengan volatilitas pasar yang melampaui puncaknya selama krisis keuangan global dan pasar ekuitas serta harga minyak terjun ke posisi terendah dalam multi-tahun," lanjut dia.

Dalam skenario kasus terbaik, penurunan moderat di sektor konsumsi swasta, investasi, dan ekspor akan diimbangi dengan peningkatan pengeluaran pemerintah di tujuh negara industri utama dan China, yang mengarah ke pertumbuhan global 1,2 persen pada 2020.

Dalam skenario terburuk, katanya, output global akan berkontraksi 0,9 persen, "berdasarkan guncangan sisi permintaan dari besaran yang berbeda" ke China, Jepang, Korea Selatan, Amerika Serikat dan Uni Eropa serta penurunan 50 persen dalam harga minyak.

"Skenario ini mengasumsikan bahwa pembatasan luas pada kegiatan ekonomi di Uni Eropa dan Amerika Serikat akan diperpanjang hingga pertengahan kuartal kedua," terang laporan itu.

Dikatakan, meningkatnya pembatasan pada pergerakan orang dan karantina wilayah (lockdown) di Eropa dan Amerika Utara "memukul sektor jasa dengan keras, terutama industri yang melibatkan interaksi fisik seperti perdagangan ritel, rekreasi dan keramahtamahan, layanan rekreasi dan transportasi".

Sektor-sektor itu mencakup lebih dari seperempat dari semua pekerjaan di negara-negara itu, dan karena bisnis-bisnis ini kehilangan pendapatan, dan pengangguran cenderung meningkat tajam.

Laporan itu menyebutkan, dampak negatif pembatasan ekonomi saat ini di negara-negara maju akan terasa ke negara-negara berkembang, di mana perdagangan dan investasi akan menjadi lebih rendah.

"Diperlukan langkah-langkah kebijakan yang mendesak dan berani, tidak hanya untuk menahan pandemi dan menyelamatkan nyawa, tetapi juga untuk melindungi yang paling rentan di masyarakat kita dari kehancuran ekonomi dan untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi dan stabilitas keuangan," kata Liu Zhenmin, Wakil Menteri PBB untuk Urusan Ekonomi dan Sosial.

Laporan itu mengatakan paket stimulus fiskal harus memprioritaskan pengeluaran kesehatan untuk menahan penyebaran virus, dan harus memberikan dukungan pendapatan kepada rumah tangga yang paling terpengaruh oleh pandemi.

TAGS : Ekonomi Global Covid-19 Virus Corona




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :