Kamis, 19/05/2022 15:51 WIB

PBB Kecam Serangan Rumah Sakit dan Sekolah di Libya

Menurut WHO, bentrokan antara kedua pihak menyebabkan lebih dari 1.000 orang tewas dan sekitar 5.500 lainnya terluka.

Logo PBB (Foto: Beapeacekeeper)

Ankara, Jurnas.com - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Uni Eropa mengutuk serangan yang dilancarkan komandan pasukan Khalifa Haftar yang berbasis di Libya Timur, menargetkan rumah sakit lapangan dan sebuah sekolah di Libya.

Sebelumnya, Minggu (28/7), jet tempur Haftar menargetkan sebuah rumah sakit lapangan di selatan Ibu Kota Tripoli, menewaskan empat dokter dan seorang paramedis, sementara delapan personel medis terluka.

Serangan lain pasukan Haftar juga menyebabkan kerusakan material di sebuah sekolah di daerah Al-Alamain, Tripoli, sehari sebelum serangan tersebut.

Kantor Koordinator Residen dan Kemanusiaan PBB mengatakan dalam sebuah pernyataan, Koordinator Kemanusiaan di Libya Berangere Boell-Yousfi mengutuk keras serangan tersebut.

"Böell-Yousfi menyatakan kecaman keras atas penembakan yang memalukan di sekolah Al-Alamain dan Rumah Sakit Lapangan Az Zawiyah di area jalan bandara, selatan Tripoli, yang menghalangi ribuan orang untuk mengakses layanan dasar," ungkap pernyataan Senin (29/7).

Lembaga PBB itu mengatakan, komunitas kemanusiaan terus meminta semua pihak dalam konflik untuk menghormati kewajiban mereka di bawah hukum humaniter internasional dan mendesak untuk mengakhiri serangan terhadap rumah sakit, sekolah dan infrastruktur sipil lainnya.

"Pihak-pihak yang berkonflik harus memungkinkan dan memfasilitasi perjalanan bantuan kemanusiaan yang adil dan cepat tanpa hambatan, termasuk misi medis," tambahnya.

Maja Kocijancic, juru bicara Uni Eropa untuk Urusan Luar Negeri dan Kebijakan Keamanan, juga mengatakan dalam sebuah pernyataan pada Senin bahwa sebuah rumah sakit lapangan dan sebuah sekolah di Tripoli diserang, meskipun infrastruktur sipil seperti itu dilindungi berdasarkan hukum internasional.

"Kami mengingatkan semua pihak tentang kewajiban mereka untuk menegakkan hukum humaniter internasional dan kami mengharapkan investigasi yang menyeluruh dan independen sehingga mereka yang bertanggung jawab bertanggung jawab," ujar Kocijancic.

iA menambahkan, kepentingan rakyat Libya harus diprioritaskan dengan mendelegasikan situasi dan melanjutkan dialog untuk mengidentifikasi solusi politik yang langgeng terhadap konflik, sebagai bagian dari proses yang dipimpin PBB.

Sejak awal April, pasukan pimpinan Khalifa Haftar, yang bermarkas di Libya Timur, mengumumkan kampanye untuk mengambil alih Tripoli dari pasukan pemerintah yang diakui oleh PBB (GNA).

Menurut WHO, bentrokan antara kedua pihak menyebabkan lebih dari 1.000 orang tewas dan sekitar 5.500 lainnya terluka.

Libya dilanda gejolak sejak 2011 saat pemberontakan yang didukung NATO menyebabkan kematian Muammar Khaddafi yang telah berkuasa selama lebih dari empat dekade.

Krisis politik negara itu telah menghasilkan dua kursi kekuasaan yang saling bersaing, satu di Tobruk yang dipimpin oleh Haftar, dan satu lagi di Tripoli yang diakui PBB. (Anadolu)

TAGS : Uni Eropa Khalifa Haftar PBB




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :