Kamis, 19/05/2022 15:41 WIB

Kementan Kerja Sama Taiwan Bangun Rain Water Harvesting System

Menteri Petanian Taiwan langsung menugaskan Tim Ahli untuk membantu Indonesia membangun fasilitas Rain Water Harvesting System.

Menteri Pertanian RI, Andi Amran Sulaiman dan Menteri Pertanian Taiwan, Tsung-Hsien di Regent Hotel, Taiwan, Selasa (9/10).

Jakarta -  Pemerintah Indonesia menjalin kerja sama dengan pemerintah Taiwan untuk pengembangan sektor pertanian Indonesia.  Kali ini lebih diarahkan pada pemanfaatan lahan rawa dan tadah yang memiliki potensi besar untuk menyediakan kebutuhan pangan nasioanal.

Kedua negara melakukan kerja sama, di tengah-tengah kunjungan Kerja Menteri (Mentan) Pertanian Andi Amran Sulaiman dan Mentan Taiwan, Tsung-Hsien Lin di Taipei,  Selasa (9/10) lalu.

Pada pertemuan ini, Amran membeberkan keberhasilan implementasi sejumlah kegiatan kerjasama Taiwan dan Indonenesia selama ini. Ia menyebut hubungan dua negara ini memberikan dampak konkrit bagi peningkatan kesejahteraan petani di Indonesia.

Terbukti dalam kurun waktu empat tahun terakhir kemajuan pertanian Indonesia, khususnya produksi sejumlah komoditas pertanian strategis yang meningkat secara signifikan.

"Dalam tiga tahun terakhir, ekspor komoditas pertanian Indonesia meningkat hingga 24 persen. Naik 24 persen dibanding 2016, sehingga berdampak pada surplusnya neraca perdagangan pertanian 2017 sebesar Rp214 triliun," terang Amran di Jakarta, Minggu (14/10).

"Capaian ini tentu karena kerja keras dan pengembangan pertanian Indonesia sudah menggunakan teknologi modern," tambahnya.

Amran pun berharap agar sumberdaya alam pertanian yang berlimpah di Indonesia dapat disinergikan dengan keunggulan teknologi pertanian yang dimiliki Taiwan. Utamanya pada teknologi sistem pemanenan air hujan dan teknologi maju lainnya.

"Bila ini dapat dilaksanakan, maka akan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi berbasis pertanian yang kuat, sehingga cita-cita Indonesia untuk menjadi lumbung pangan Asia dan bahkan dunia dapat segera terwujud (red.feed the world)," katanya.

Lebih lanjut Amran sebutkan, saat ini terdapat  dua potensi besar pengembangan pertanian Indonesia yang belum termanfaatkan secara optimal. Yakni lahan rawa dengan luasan mencapai 10 juta hektar dan lahan tadah hujan sekitar empat juta hektare.

"Untuk itu, optimalisasi pemanfaatan potensi tersebut memerlukan dukungan teknologi Pemanenan Air Hujan (Rain Water Harvesting System) dari Taiwan dalam bentuk embung, dam parit, dan long storage," ujarnya.

Merespon pemaran Amran itu, Menteri Tsung langsung menugaskan Tim Ahli untuk membantu Indonesia membangun fasilitas Rain Water Harvesting System.

Teknologi ini diharapkan dapat mendorong peningkatan Indeks Pertanaman (IP) dari hanya satu kali tanam dalam setahun menjadi tiga kali untuk areal tadah hujan serta dari lahan rawa yang saat ini sama sekali belum termanfaatkan menjadi tiga kali tanam per tahun.

Sekedar diketahui, saat ini telah terdapat kesepakatan kerjasama pengembangan sistem pertanian modern terintegrasi yang menerapkan teknologi Rain Water Harvesting System untuk mendukung integrasi pertanaman padi dengan hortikultura dan peternakan bebek.

Pada tahap awal, telah ditetapkan areal pengembangan yang berlokasi di Kabupaten Karawang seluas 400 hektare yang nantinya akan diperluas hingga 1000 hektare. Dalam kerangka kerjasama tersebut, juga disepakati kegiatan pelatihan bagi 30 orang petani Karawang yang akan dilaksanakan di Taiwan

TAGS : Indonesia Taiwan Rain Water Harvesting System Kementan




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :