Sabtu, 18/09/2021 13:42 WIB

Babak Baru Perang Dagang AS-China Dimulai

Beijing menuding Washington telah melemparkan tuduhan palsu dan melakukan intimidasi ekonomi, demi memaksakan kepentingannya di China.

Presiden Donald Trump (L) dan Presiden China Xi Jinping (R) (Foto: Reuters)

Washington – Tarif impor terbaru Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terhadap US$200 miliar barang dari China, mulai berlaku pada Senin (24/9) kemarin.

Hal ini memancing komentar dari Beijing, yang menuding Washington telah melemparkan tuduhan palsu dan melakukan intimidasi ekonomi, demi memaksakan kepentingannya di China.

“Tarif yang meningkat dan cara-cara intimidasi ekonomi lainnya dalam upaya untuk memaksakan kepentingannya sendiri di China dengan tekanan ekstrim,” demikian pernyataan Dewan Negara Kabinet China dilansir dari AFP.

Sementara Trump membela diri, menyebut tarif baru sebagai bentuk perlawanan AS terhadap kebijakan China dalam perdagangan, yang dia nilai merugikan Washington.

Trump mengancam akan memukul seluruh impor China, bila menolak mengubah kebijakan yang membahayakan industri AS, khususnya pencurian teknologi AS.

“Praktik-praktik ini jelas merupakan ancaman besar bagi kesehatan jangka panjang, dan kemakmuran ekonomi Amerika Serikat,” kata Trump.

Hal senada juga disampaikan oleh Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo. Dia mengatakan, Washington yakin akan mendesak China lewat perang dagang ini.

“Kami akan mendapatkan hasil yang memaksa China untuk berprilaku dengan cara yang Anda ingin menjadi kekuatan global yang transparan, taat supremasi hukum, dan tidak mencuri kekayaan intelektual,” jelas Pompeo.

Tarif pembalasan di Beijing senilai US$60 miliar untuk barang-barang AS akan mulai berlaku segera setelah Kementerian Keuangan China mengumumkan pekan lalu.

China menargetkan 5.200 barang AS dengan tarif lima sampai 10 persen, termasuk barang-barang tiket besar seperti gas alam cair, kayu dan elektronik, minyak peppermint, kulit babi, dan kondom.

TAGS : China Amerika Serikat Perang Dagang




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :